39 dan Lajang

November 2020 ini, saya berusia 39 tahun. Sudah mau 40? Pastilah. Bila ada yang menanyakan rasanya, saya merasa biasa saja. Tidak ada yang terlalu istimewa, apalagi mengingat masa pandemi yang masih berlangsung hingga saat ini.

Lalu, apakah saya masih memikirkan soal pernikahan dan status saya yang masih melajang hingga sekarang? Saya pasti berbohong bila bilang tidak. Namun, yang saya pikirkan mungkin tidak seperti yang banyak diduga orang.

Berhubung sudah mendekati kepala empat, saya ingin melihat kembali masa-masa saya di usia 20 dan 30-an dulu:

Dulu Mama sempat terobsesi menginginkan anak perempuannya menikah dini semua. Bukan, bukan menikah saat masih di bawah usia 20-an dengan alasan “cuma ingin menghindari zina”. (Padahal, masih banyak cara lain untuk itu, seperti berpuasa misalnya.) Alasan beliau hanyalah agar jarak usia cucu-cucunya nanti tidak terlalu jauh dengan ibu mereka.

Seindah-indahnya khayalan sederhana beliau, saya malah bergidik. Bayangan mengorbankan usia 20-an untuk meniti karir dengan menikah dan punya anak duluan membuat saya tertekan. Kakak perempuan saya juga merasakan hal yang sama, meskipun saat pertengahan 20-an, Kakak menyebut usianya sebagai “usia panik”.

Usia panik?  Saya tidak paham. Mengapa harus panik? Bukankah jodoh katanya di tangan Tuhan? Kalau memang belum dapat meskipun sudah berusaha, kenapa harus panik? Saya yakin ada alasan Tuhan memberikan jodoh pada tiap manusia dalam rentang usia yang tidak selalu sama. Urusan rezeki hingga sidik jari saja sudah beda, kenapa harus ada yang dipaksakan untuk selalu sama? Memangnya kenapa kalau perempuan belum menikah di usia 25 atau 26?

Bila alasannya adalah jam biologis untuk reproduksi manusia baru (hamil dan melahirkan), lagi-lagi tidak semudah itu. Pernah seorang kerabat mengaku bahwa meskipun beliau menikah dini dulu (usia 23), anak pertama ternyata baru lahir satu dekade kemudian. Bahkan, beliau sempat sekali mengalami keguguran sebelumnya.

Ada juga seorang teman perempuan yang akhirnya cerai hanya gara-gara nyinyiran mertua. Sudah menikah selama enam tahun, teman belum hamil-hamil juga. Lucunya, keluarga suaminya saat itu merasa cukup beragama. Lha, kalau memang percaya Tuhan, kenapa malah teman saya yang disalahkan, dianggap tidak niat berusaha? Lalu apakah perempuan yang tidak bisa punya anak sama sekali tidak berharga?

Baca:  Ketika Negara Tidak Perduli Dengan Korban Anak Kekerasan Seksual

Waktu itu, saya jadi enggan merayakan ulang tahun, karena khawatir ditanyakan usia. Namun, saya tidak takut dihina-hina sebagai perawan tua. Memangnya mereka mau apa bila saya memang belum siap menikah? Toh, meskipun menyindir dan memaksa, belum tentu juga mereka mau bantu membiayai akad dan resepsi saya, hehehe.

Tantangan menjadi perempuan lajang di usia 30 beda lagi. Satu-persatu teman sudah menikah dan punya anak. Ada yang tetap supportive dengan saya, meskipun sudah jarang berkumpul lagi. Ada yang mengingatkan saya untuk ‘jangan terlalu santai’. (Apa pula ini maksudnya?)

Ada juga yang menganggap saya tidak realistis dan terlalu pemilih. Lucunya, sewaktu masih sama-sama lajang, teman perempuan ini sangat mendukung dan setuju agar saya tetap jadi diri sendiri. Begitu dirinya mulai punya keinginan berumah tangga, mulailah saya diceramahi – termasuk soal menjaga penampilan dan menurunkan berat badan. 

Lelah dengan caranya yang begitu otoriter dan menghakimi, akhirnya saya memilih menjauh saja. Toh, meskipun punya cara sendiri untuk mencari pasangan hidup, saya merasa tidak perlu laporan ke siapa-siapa. Ini urusan saya, karena toh, nanti saya juga yang akan menjalani semuanya. Bukan mereka.

Nyinyiran tidak berhenti disitu. Ada juga seorang mantan rekan kerja laki-laki yang sedikit lebih muda namun sudah menikah duluan. Dulu dia dengan pongahnya bilang begini:  “Mungkin umur 31 sekarang lo masih santai, tapi gue yakin elo bakal kepikiran begitu umur 32 dan masih sendirian aja.”

Mansplaining sekali, yah? Ibarat cenayang, seolah dia sudah tahu bahwa saya akan menderita bila masih saja melajang. Seolah-olah dia berharap demikian, hanya biar omongannya terbukti benar. Padahal, saya sendiri melihat bahwa dia juga paling banyak mengeluhkan hidupnya sendiri terang-terangan di media sosial. Jadi, siapa yang sebenarnya tidak bahagia, di sini? Silakan jawab sendiri.

Baca:  Perempuan Kepala Keluarga itu Ada Dimana-mana

Saya bersyukur di era sekarang, sudah cukup banyak manusia berpikiran terbuka. Mereka tetap menerima saya apa adanya, tidak menganggap status lajang saya sebagai sesuatu yang hina, dan tidak memaksa menjodohkan saya dengan siapa-siapa. Kalau pun ada laki-laki yang menurut mereka mungkin akan cocok dengan saya, biasanya mereka akan bertanya dulu apakah saya berkenan.

Namun, masih ada juga yang kasihan dengan saya. Kasihan? Untuk apa?

Saya baik-baik saja. Kalau mau melihat lebih luas, setiap manusia – baik menikah atau tidak – punya tantangan hidup mereka masing-masing. Rasanya tidak adil bila kita coba membandingkan demi mencari kategori tantangan hidup terberat.

Justru, kasihanilah mereka yang merasa tidak punya pilihan selain menikah, lalu menyesalinya kemudian. Menikahlah bila memang sudah total siap lahir batin, bukan karena takut dibilang perawan tua. Bukankah katanya menikah itu ibadah kepada Tuhan? Kenapa harus takut dengan omongan orang?

Kapan saya menikah?

Hanya Tuhan yang tahu. Yang beradab biasanya hanya dengan baik mendoakan saya dalam diam, alih-alih berucap yang bikin saya geram.

Yang saya tahu, bahagia itu tidak ditentukan status, melainkan pilihan dan usaha wajib tiap hari…langsung dari diri sendiri.

Penulis dan penerjemah lepas, guru Bahasa Inggris paruh waktu. Hanya bisa bermain dan mengelus kucing peliharaan orang lain, karena kalau adopsi sendiri berisiko kumat alergi. Mendeklarasikan diri sebagai logophile (pecandu huruf) dan bisa ditemukan sedang duduk sendirian dengan kopi, buku, atau laptop di atas meja.

Leave a Comment

%d bloggers like this: