Apa yang kamu pikirkan ketika mendengarakan kata skin care? Kita pasti mengira tujuh langkah perawatan kulit ala Korea, atau bahan-bahan yang digunakan untuk peeling untuk mengangkat kulit mati. Namun kita jarang memikirkan mengenai bahan yang digunakan dalam formula skin care. Tanpa kita sadari, bahan yang digunakan untuk formula skin care seringkali didapatkan dari bahan turunan minyak kelapa sawit. Sulit sekali untuk mencari bahan yang bebas dari kelapa sawit. Sampai akhirnya saya menemukan orang yang memproduksi produk perawatan kulit tanpa melibatkan minyak kelapa sawit.

Ialah Ade Irma Amelia, seorang perempuan kelahiran Cirebon yang kini tinggal di Bali dan membagun usaha perawatan kulit bernama Botanica Essential. Melalui usaha ini, ia mengedepankan nilai-nilai sustainable plant based, atau keberlangsungan berbahan tanaman. Ia menghindari penggunaan minyak kelapa sawit dalam produk-produknya. Ia juga memastikan bahan dasar yang ia gunakan berasal dari petani-petani yang ia kenal dekat dan ia tahu bagaiamana proses pegolahan tanamannya. Selain itu ia juga melatih para petani lokal untuk dapat menumbuhkan beberapa tanaman yang dia butuhkan.

Seperti kita tahu ladang kelapa sawit telah membabat habis hutan di Kalimantan. Akibatnya terjadi penurunan keanekaragaman hayati sebanyak 80-90%, mulai dari tanaman hingga mamalia, burung, dan reptilia. Sayangnya kelapa sawit digunakan pada kosmetik, makanan, deterjen hingga biofuel. Hampir semua produk mengandung bahan turunan dari kelapa sawit, sehingga agak sulit untuk menghindarinya. Bahkan masih banyak kosmetik yang saya gunakan mengandung kelapa sawit.

Kelapa sawit digunakan pada berbagai sediaan kosmetik dan perawatan kulit untuk membentuk tekstur yang lembut dan tidak berat. Bahan-bahan turunan kelapa sawit ini berupa glycerol, fatty acids atau fatty alcohols. Bahan ini juga membantu untuk membentuk busa hingga pegemulsi agar ramuannya tidak mudah rusak.

Saya tidak tahu banyak mengenai peran minyak kelapa sawit kepada kosmetik dan perawatn kulit yang kita gunakan setiap hari. Hingga akhirnya saya menemukan teman saya yang merekomendasikan produk-produk dari mbak Ade melalui Facebook. Saya sudah mengenal Ade sejak lima tahun lalu dan selama saya mengenal beliau, saya selalu membeli dan menggunakan produk yang ia produksi. Namun selama lima tahun itu pula saya tak pernah bertemu beliau hingga bulan Mei 2021, saya menyempatkan mampir bertemunya secara langsung ketika ia sedang menyelenggarakan pasar Minggu dengan beberapa usaha lokal lainnya.

Selanjutnya kami berkomunikasi melalui WhatsApp untuk mengirim pesan dan telpon. Ade kemudian bercerita mengenai pengalamannya memulai membangun bisnis tersebut. Sejak SMP, ia telah belajar mengenai perawatan kulit alami dari kedua orangtuanya. Ibunya telah terbiasa untuk meracik sendiri perawatan untuk tubuhnya. Dari ayah tirinya ia juga mewarisi berbagai macam resep racikan dan ramuan lokal yang diturunkan turun temurun oleh kakek dan neneknya.

Baca:  Feby Indirani: Meretas Diskriminasi Terhadap Perempuan Lajang

Perjalanan Ade pun tak berhenti disitu. Semenjak kuliah dan bergabung dengan berbagai komunitas, ia mempelajari berbagai isu lingkungan. Salah satunya isu krisis air dan isu pangan di Bali. Dari situ ia mulai mengenal para petani militan yang menjalankan pertanian alami. Namun disitu pula ia menyadari berbagai masalah yang dialami oleh petani di Bali. Contohnya untuk membuat minyak kelapa dibutuhkan kelapa tua, namun karena masifnya turisme di Bali yang gemar meminum kelapa muda, maka kelapa tua akan sulit didapatkan. Selain itu banyak tanaman asli kini sulit didapatkan karena dianggap sebagai tanaman liar yang tak memiliki manfaat.

Semenjak itu pula Ade menghindari bahan-bahan yang berasal dari minyak kelapa sawit, canola, suflower hingga tanaman lainnya yang bersifat monokultur. “Apapun yang dihasilkan melalui kekerasan maka akan menghasilkan sesuatu yang merusak juga,” ucapnya ketika menjelaskan mengapa ia tidak mau menggunakan minyak kelapa sawit.

Ia kemudian mengambil sumber dari usaha rumahan untuk memastikan berjalannya ekonomi sirkular yang tak bergantung pada perekonomian global. Dengan demikian, ia tetap dapat membangun ekonomi yang independen walaupun dengan skala kecil. Selain itu, dalam menjalankan praktik bisnisnya, ia juga memastikan tidak adanya limbah yang dihasilkan.

Ade pun menyadari bahwa dengan menjalankan model bisnis serupa, ia akan kesulitan untuk membesarkan brandnya karena untuk bisa memproduksi banyak dan cepat maka ia harus menggunakan bahan-bahan turunan kelapa sawit. Oleh karena itu ia tetap mempertahankan model bisnis yang tetap mandiri tanpa bergantung pada minyak kelapa sawit. Ia hanya mengandalakan promosi dari mulut ke mulut dan media sosial.

Produk-produk yang dihasilan oleh Ade adalah produk seperti krim malam, body butter, body mist, face serum, face oil, body scrub hingga pengusir nyamuk. Sebelum produknya dipasarkan, ia mencobanya terlebih dahulu pada dirinya sendiri. Jika ia berhasil barulah ia mempromosikannya. Inilah yang membuat produknya lebih aman untuk lingkungan hidup, karena ia tidak akan pernah mencobanya pada hewan.

Baca:  Ika Vantiani: Ganti Penjalasan Kata Perempuan Dalam KBBI

Namun menurut saya, yang menarik dari Ade adalah koneksi yang Ade bangung dengan pelanggannya, salah satunya saya. Saya sering menceritakan tentang masalah kulit saya, dan ia selalu memiliki solusinya. Ade pun juga tidak akan menyarankan orang-orang untuk konsumtif. Jika bahan untuk menyelesaikan masalah kulit ada di dapur kita atau di sekeliling kita, ia akan menyarankan kita untuk menggunakannya. Ia tidak menyarankan pelanggannya untuk terus-terusan membeli produk namun menyerukan agar kita bisa berdaya dengan apa yang ia miliki.

Interaksi dengan pelanggan adalah kunci utama untuk membangun kepercayaan, terlebih jika mengusung bisnis yang mengutamakan keberlangsungan dan pelestarian alam dalam melawan krisis iklim. Terlebih jika krisis iklim iini terjadi akibat industri ekstraktif untuk dapat terus memproduksi barang-barang yang terus dikonsumsi.

Melalui Ade, kita bisa belajar banyak tentang bagaimana kita dapat berdaya dengan membangun usaha yang berlansung tanpa menghancurkan alam kita. Nah sudahkah kita memastikan produk kosmetik yang kita pakai bebas dari minyak kelapa sawit?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *