Ketika Aib Pemerkosaan dipikul Perempuan Sebagai Dosa

“Perempuan itu piring, sekali retak untuk selamanya.” Nasehat klasik ini menghantui masa mudaku. Suatu wejangan tentang seks untuk para perempuan supaya tidak terjebak dalam perilaku seks pranikah yang dianggap sebagai kebejatan. Begitu menurut standar moralitas khotbah-khotbah di gereja.

Berbicara tentang khotbah, diceritakan dalam alkitab suatu cerita pilu perempuan bernama Tamar dalam II Samuel 13:1-22. Satu dari sekian cerita tragis tentang perempuan. Ironinya, ia adalah seorang putri raja Daud.

Tamar adalah adik perempuan Absalom, anak Daud setelah Amnon dan Kileab. Tamar yang cantik, adalah sekilas cuplikan diantara narasi suksesi politik laki-laki Kerajaan Israel. Phyllis Trible, seorang teolog, menyebutnya sebagai seorang perempuan dalam alkitab yang kisahnya dipenuhi oleh teror.

Statusnya sebagai seorang putri kerajaan bahkan tidak dapat menghindarkan Tamar dari betapa biadabnya otoritas laki-laki dalam keluarganya. Ia diperkosa bukan oleh orang asing, melainkan orang yang dikenal dalam lingkarannya sendiri, saudaranya Amnon.

Menariknya, narasi pemerkosaan ini menjelaskan bahwa Amnon bukanlah pelaku tunggal dari kekerasan seksual yang terjadi pada Tamar. Bahkan saudaranya Absalom,  Ayahnya raja Daud, juga Yonadab sepupunya. Mereka adalah sekelompok laki-laki disekitarnya yang turut ambil bagian dalam kisah tragis pelecehan itu.

Seperti halnya perempuan yang menjadi korban kekerasan seksual, Catatan Tahunan Perempuan dari Komnas Perempuan menyatakan bahwa pelaku kekerasan terbesar adalah orang yang paling dekat dengan perempuan.

Ketika Tamar berusaha mencari peradilan dan pertolongan, ia diminta oleh Absalom untuk diam dan melupakan peristiwa pahit itu sekejap.

Daud, digambarkan justru meratapi Amnon sang pemerkosa dan bukan Tamar sebagai korban. Yonadab, adalah yang sejak awal memberi nasehat yang keliru kepada Amnon.

Pengabaian terhadap duka dan trauma yang dialami Tamar dalam peristiwa ini oleh tokoh laki-laki yang ada disekitarnya merupakan suatu sikap kompromi khas patriarki yang seakan memaklumkan pemerkosaan sebagai sesuatu yang seringkali dibela dengan jargon Bang Napi: “kejahatan terjadi bukan hanya karena ada niat pelakunya, tapi juga karena ada kesempatan!”

Sikap bungkam dan permakluman yang dilakukan pada kisah ini adalah suatu tradisi dari masa ke masa yang dipelihara untuk mempertahankan kuasa laki-laki atas tubuh perempuan.

Baca:  Perlukah Istilah Emansipasi dan Feminisme Diperdebatkan?

Terutama dalam kaitan dengan tubuh dan seksualitas. Seperti apa yang dikatakan Michel Foucalt, seorang filsuf. “Tubuh merupakan isu konflik diantara pemegang kekuasaan yang mengganggap diri berotoritas. Persoalan seks dan seksualitas sesungguhnya merupakan persoalan kekuasaan.”

Itu mengapa teolog Carole J. Sheffield mengatakan bahwa ini adalah sebuah sistem yang berfungsi untuk mempertahankan keunggulan lelaki. “Kekerasan terhadap tubuh perempuan dan pelestarian rasa takut terhadap kekerasan merupakan dasar bagi kekuasaan patriarkal.”

Setelah mengalami kekerasan seksual, orang cenderung menyalahkan korban dengan menyalahkan pakaiannya yang terbuka. Jam malam menjadikan pelanggengan atas kekerasan seksual yang wajar dialami perempuan ketika perempuan melanggarnya. Keberaniannya untuk jalan sendirian dianggap menantang bahaya dan dianggap pantas untuk dihukum melalui pemerkosan. Kita telah hidup dengan menjadikan dan melanggengkan budaya pemerkosaan bagi perempuan.  

Inilah konstruksi seksual masyarakat kita, seks diatur oleh dan untuk laki-laki. Padahal seks adalah komunikasi tubuh yang seharusnya setara sehingga melahirkan kenikmatan.

Membaca kembali kisah Tamar melalui perspektif feminis membawa saya mengingat beberapa kisah para saudari di masa kini yang bergelut di sekitar kesunyian karena ketidakadilan. Para saudari yang disenyapkan dan dipaksa untuk menanggung aib pemerkosaan sebagai dosa bagi dirinya sendiri.

Mereka dicap “bisa dipakai,” “piala bergilir,” “lonte,” dipaksa menjadi Ibu muda karena dianggap tidak berhak melakukan kontrol atas tubuhnya sendiri. Tubuh-tubuh perempuan yang terperangkap dalam dominasi perspektif laki-laki. Perspektif mioginis seperti celetuk Ayu Utami, “dia menciptakan selaput dara tapi tidak membikin selaput penis.”

Inilah getir dunia kita, dimana kehilangan keperawanan adalah sebuah aib. Sementara tidak perjaka adalah sesuatu yang lumrah.  

Soe Tjen Marching, seorang penulis mengatakan, “bukankah kehidupan manusia berhutang pada seks? Bukankah tidak ada bayi yang lahir bila tidak ada seks, lalu apa yang salah dengan gairah seks?” Anehnya, bila gairah seks lelaki dimaklumi, gairah seks perempuan lebih sering dicaci.

Ketika tubuh perempuan terlibat dalam aktivitas seksual, perempuan diharuskan untuk menanggung kesalahan dan mempunyai resiko dituduh bahwa mereka telah “ternoda”.

Baca:  Benarkah Perempuan Tidak Sekorup Laki-Laki?

Lalu, para saudari seperti Tamar, mengenakan baju kurung indahnya, menaruh abu diatas kepala, mengoyakan baju kurung sambil meratap dengan nyaring. Ratapan itu terdengar lirih sampai hari ini. Betapa banyak perempuan masih meratap bersama aib seksual yang ia pikul sampai mati.

Gadis Arivia, Ibu feminis kita berpendapat, “perempuan harus merebut kontruksi pengetahuan seks dan seksualitas lalu menjadikannya sebagai kekuatan yang positif.”

Sudah saatnya perempuan melakukan pembebasan seksual agar masyarakat kita menghargai tubuh perempuan apa adanya dan melihat keindahannya bukan sebagai ajang untuk dikuasai tapi untuk dihargai. Maka sudah sewajarnya kita menuntut agar Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual segera disahkan agar tidak ada lagi korban kekerasan seksual karena manusia tidak bisa menghargai tubuh manusia lainnya.

Mutiara Andalas, seorang teolog feminis berkata, “kekerasan terhadap perempuan merupakan dosa, kejahatan, dan perkara sosial.” Sekalipun demikian perlu diakui bahwa gereja sebagai ruang yang paling relevan dengan itu seringkali bersikap “tutup mata,” bahkan melakukan apa yang disebut Mary Hunt “penyelewengan teologi menyucikan penderitan (sanctification of suffering).”

Inilah yang kemudian digugat oleh seorang teolog feminis lainnya, Aruna Gnanadason tentang bagaimana gereja perlu melihat ulang gagasannya tentang mengampuni dan melupakan dosa. Nyatanya gagasan pengampunan tanpa keadilan bagi perempuan telah gagal memperbaiki relasi antara pelaku dan korban kekerasan.

Belas kasih, pengakuan akan kesalahan, ganti rugi, dan janji untuk menghentikan kekerasan menjadi norma pengampunan kristiani. Pengampunan berlangsung pada tahap akhir setelah perempuan mendaku kembali kemanusiaannya. Luka-luka kekerasan perempuan korban kekerasan seksual telah menjadi luka yang menganga, mengundang partisipasi teologi yang tulus untuk bersuara, “segera sahkan Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual!”

Seorang teolog perempuan dari Papua. Sedang belajar menulis. Mencintai feminisme.

1 thought on “Ketika Aib Pemerkosaan dipikul Perempuan Sebagai Dosa”

  1. Trima kasih Nona Pendeta cantik, teolog feminis yg cantik … Sangat memberkati sekali tulisannya sayang …. Tuhan berkati seluruh pelayanan mu 😊😊😊

    Reply

Leave a Comment

%d bloggers like this: