Aku Ada

Dulu, ia belum mengerti dunianya,
Jadi, ia diam tak bersuara. 
Membiarkan mimpi-mimpinya luluh lantah tak bergema.
Runtuh menjadi puing-puing, 
Tak bergeming.

Semua caci maki diterimanya dengan bersahaja,
Cendala, ia menundukkan kepala,
Meminta maaf untuk semua yang bukan salahnya.
Berterima kasih untuk apa yang memang menjadi haknya.

Sekarang, ia masih belum sepenuhnya mengerti dunianya.
Lamun, ia susun kembali apa yang dulu ia anggap sirna,
Hasrat, mimpi, kepercayaan, dan apa yang memang menjadi miliknya.

Tak lagi diam,
Kali ini dia mulai bersuara.
Tak lagi diam,
Kali ini dia berteriak sekencang-kencangnya.

Aku, sudah utuh seutuh-utuhnya,
Diamku sudah berpuluh-puluh tahun lamanya,
Sekarang, aku tak lagi bersembunyi dalam tembok,
yang dibangun oleh mereka, yang tidak ingin aku menggema,

“Dalam diam dan dalam suaraku,
Dalam sedih dan senangku,
Dalam luka dan dalam perjuanganku
Dalam prosa puisi dan dalam bait-bait laguku,
Dalam cerita masa lalu, 
Aku ada dan akan terus ada.
Seutuhnya dan sepenuhnya”

Nabila Fatiha adalah mahasiswa tingkat akhir yang mengambil jurusan Ilmu Politik, selain menjadi penggemar Taylor Swift, di waktu luangnya (atau di sela-sela waktu kuliah dan pekerjaannya) ia suka membaca, menulis puisi dan mengkurasi gambaran-gambaran abstrak ditemani segelas (atau bergelas-gelas) kopi susu kesukaanya.

Baca:  Puan, Mari Runtuhkan Ekonomi!

Leave a Comment

%d bloggers like this: