5 Alasan Kenapa Feminis Harus Berhenti Memakai Produk Perusak Lingkungan

Produk Make Up

Hari ini, hampir semua produk mengandung zat yang didapatkan dan limbahnya berdampak pada kerusakan lingkungan. Hal ini membuat kita tersadar bagaimana masifnya produksi barang-barang tersebut berasal dari eksploitasi alam dan perempuan. Pola kerusakan ini adalah cerminan dari patriarki dan kapitalisme itu sendiri.

Sebagai feminis yang mulai memahami nilai-nilai keadilan, sudah sepantasnya kita juga mempertanyakan produk apa saja yang kita pakai. Apakah produk tersebut menyumbang pada ketidakadilan seperti contohnya kelapa sawit yang merusak lingkungan serta bahan mica yang didapatkan dari buruh anak di Afrika sebagai bahan make up kita.

Pernah ingat diskusi Twitter beberapa waktu lalu tentang produk paraben yang berdampak buruk pada kita? Ternyata penemuan peneliti terbaru menyatakan bahwa zat paraben yang kita pakai berakhir di laut dan ditemukan di jaringan sel mamalia laut.

Paraben ini datangnya dari kamar mandimu, kemudian bahan kimia ini dilepaskan ke danau, aliran sungai hingga ke laut dan akhirnya berdampak pada flora dan fauna. Bukan hanya biota laut yang terkena dampak.

Air dari danau dan lautan menguap di atmosfer kita, kemudian terakumulasi dalam awan, kembali ke tanah kita sebagai hujan. Bahan kimia yang terkait dengan kosmetik pun pada akhirnya telah ditemukan di tanah pertanian dan partikel debu rumah tangga.

Lalu mengapa isu kerusakan lingkungan ini menjadi isu yang sangat feminis? Bahkan feminis harus memiliki kuasa untuk berhenti memakai produk perusak lingkungan? Berikut beberapa alasan yang dapat digunakan untuk menjawab pertanyaan tersebut.

Kerusakan Lingkungan Berdampak Pada Kehidupan Perempuan Lainnya

Tak bisa kita pungkiri, ketika lingkungan kita rusak, kelompok yang paling banyak terdampak adalah perempuan. Ketika banjir, perempuan sulit menemukan air bersih sehingga berdampak pada kesehatan reproduksinya sehingga ia terkena berbagai macam infeksi menular seksual.

Baca:  Adakah Cara Menjadi Feminis Kristen?

Contoh lainnya yang lebih ekstrem, banyak kasus krisis pangan yang berdampak pada ekonomi dan ketika keluarga berjuang untuk memenuhi kebutuhan dasar saja, anak perempuan dapat dilihat sebagai beban finansial dan lebih baik agar cepat dinikahkan. Hal ini dapat meningkatkan jumlah pernikahan anak perempuan yang terjadi.

Perempuan dan Alam Sama-Sama dieksploitasi

Perempuan dieksploitasi baik dari segi fisik maupun psikis. Begitu juga lingkungan yang selalu dimanfaatkan oleh industri ekstraktif. Perempuan dan alam hanya dilihat sebagai “objek” yang digunakan untuk kepentingan laki-laki. Hal ini mencerminkan bagaimana Patriarki mengeksploitasi perempuan dan alam untuk kepentingan pemilik modal tanpa memerhatikan dampaknya.

Kita bisa melihat bagaimana perempuan yang tinggal di pulau tropis yang dianggap eksotis, selalu menjadi model untuk mengiklankan destinasi pariwisata. Pada kenyataannya perempuan akhirnya di eksploitasi sebagai pekerja seks untuk para wisatawan laki-laki dan pembangunan hotel di daerah tropis berdampak pada lingkungan di sekitarnya.

Alam Cerminan Realita Feminin

Walaupun kita tak boleh jatuh pada prinsip ekofeminin, alam kerap disimbolkan sebagai Ibu. Ibu yang menumbuhkan benih, melahirkan benih dan memelihara kehidupan.

Pada akhirnya, alam dan perempuan yang dilihat sebagai bentuk yang feminin digambarkan sebagai objek yang tidak berdaya, pasif dan selalu bisa ditundukkan. Kemudian muncullah eksploitasi besar-besaran karena manusia berupaya untuk menundukkan alam layaknya perempuan.

Namun kini, alam mengambil kuasanya kembali. Ia tidak lagi bisa memberi kita kehidupan karena kita yang mengotori dan merusaknya. Hal ini adalah wujud kemarahannya.

Manusia yang Adil Punya Tanggung Jawab Memulihkan Bumi

Setiap orang memiliki sifat feminin. Sifat-sifat feminin seperti merawat, mengasihi, cinta kasih, kesabaran, memelihara telah tumbuh di dalam diri manusia terutama perempuan sejak lama. Sifat-sifat tersebut menjadi kekuatan yang sangat besar yang dapat digunakan untuk mengembalikan atau memulihkan ekosistem.

Baca:  Perlukah Istilah Emansipasi dan Feminisme Diperdebatkan?

Perempuan memiliki keahlian khusus dalam mengelola alam. Perempuan yang lebih banyak di dapur, lebih banyak tahu bagaimana menjaga keberlanjutan pangan anak dan suaminya.

Namun bukan berarti memulihkan bumi menjadi tugas perempuan saja melainkan tugas manusia yang menjunjung tinggi keadilan. Setiap ajaran agama juga mengajak manusianya untuk merawat bumi.

Perempuan dan Alam Sebagai Satu Kesatuan

Sejarah mengingatkan kita bahwa perempuan merupakan agen pembentuk awal peradaban. Ketika kaum laki-laki berangkat ke hutan berburu, perempuan menanam umbi-umbian dan biji-bijian, karena ada kalanya berburu tidak menghasilkan apapun.

Dari situlah perempuan menetap di suatu wilayah dan membentuk sifat merawat. Mereka melahirkan kebijakan untuk mengikuti pengalamannya sendiri dan mencoba mendengarkan alam. Pada akhirnya, perempuan dan alam melengkapi satu dengan yang lainnya.

Perempuan dan alam memiliki keterikatan yang sangat besar. Lima alasan di atas memiliki semangat tersendiri untuk kita para puan dalam merawat bumi, salah satunya dengan berhenti memakai produk yang merusak lingkungan. Karena sejatinya, puan memiliki potensi besar untuk mencegah dan memutuskan yang terbaik untuknya, untuk orang lain dan untuk bumi.

Seorang feminis dan vegan yang berfokus pada isu ekofeminisme. Pisau analisis gender menurutnya lebih tajam untuk menganalisis lapisan penindasan dari kondisi perubahan iklim yang sedang terjadi

Leave a Comment

%d bloggers like this: