Saatnya Mencari Alternatif Merayakan Kartini

Tanggal 21 April, kita memperingati hari kelahiran R.A. Kartini. Jika saat ini kita tidak dalam kondisi luar biasa pandemi COVID-19, tentunya sekolah-sekolah akan mengadakan berbagai acara untuk menyambut hari Kartini. Acara apa saja?

Saat saya masih duduk di bangku sekolah dasar, saya ingat benar bahwa ketika hari Kartini, saya mengenakan busana daerah. Saya bangun lebih pagi dan ibu saya mendandani saya dengan pulasan bedak dan lipstik tipis-tipis serta membantu saya mengenakan kain dan kebaya. Teman sekelas saya bahkan ke salon dan berdandan lengkap dengan sanggul.

Di sekolah, ada beberapa lomba, seperti lomba peragaan busana, lomba menyanyikan lagu Ibu Kita Kartini, lomba membaca puisi. Semua dilakukan dengan mengenakan baju daerah.

Bertahun-tahun kemudian, sejarah berulang. Setelah menjadi ibu, anak saya yang diminta mengenakan baju daerah di hari Kartini. Saya pergi ke salon milik teman saya dan menyewa baju daerah yang cocok untuk anak saya. Sekarang giliran saya yang bangun pagi-pagi dan mendandani anak saya. Persis seperti yang dahulu dilakukan ibu saya kepada saya.

Tentu saja mengenakan baju daerah itu bukan kebiasaan yang buruk. Malah bagus, memperkenalkan berbagai macam kekayaan budaya Indonesia pada anak-anak. Tetapi, di satu sisi, sebagai pemerhati masalah perempuan, timbul rasa khawatir saya setiap kali peringatan hari Kartini tiba.

Mengapa? Karena, bukankah ada upaya yang tidak kita sadari, yang dilakukan setiap tahun terkait peringatan hari Kartini: mengecilkan, bahkan menyembunyikan makna kehadiran Kartini yang sesungguhnya.

Karyanya, arti hidupnya, pemikiran-pemikirannya dibungkam di balik peragaan busana daerah, lomba menyanyi, dan lomba baca puisi. Kartini yang sebenarnya justru dilupakan di hari lahirnya.

Kartini adalah ikon emansipasi perempuan Indonesia. Di sekolah dasar kita belajar bahwa Kartini adalah pahlawan yang memperjuangkan emansipasi di tengah-tengah masyarakat feodal Jawa di akhir abad 19 hingga awal abad 20. Sayangnya, pemahaman yang diberikan kerap kali berhenti sampai di sini.

Alih-alih mengajak anak-anak berpikir apa itu emansipasi, bagaimana masyarakat di masa Kartini hidup memperlakukan perempuan, apakah sekarang setelah lebih dari 100 tahun berlalu setelah era Kartini, sudah terwujud emansipasi perempuan yang diharapkan Kartini….

Baca:  Menghormati Privasi Mengajarkan Saya Tentang Relasi Sehat

Pembelajaran di sekolah-sekolah pada umumnya kerap berhenti hanya pada sebuah hafalan yang tak mendalam maknanya: Kartini adalah pahlawan yang memperjuangkan emansipasi perempuan di Indonesia.

Tanpa diikuti dengan kegiatan lanjutan untuk lebih mengetahui siapa itu Kartini dan apa relevansinya memperingati hari kelahirannya di abad 21 ini.

Sebaliknya, kegiatan yang diselenggarakan untuk memperingati hari Kartini, sebenarnya sama sekali tidak terkait dengan cita-cita Kartini sebagai perempuan yang mendambakan kesetaraan di tengah-tengah masyarakat patriarki yang didiaminya. Apakah Kartini pernah bermimpi dalam hidupnya bahwa hari lahirnya akan diperingati dengan peragaan busana daerah? Dengan lomba tampil paling cantik dan luwes, berjalan di atas panggung dan bergaya dalam berbagai busana daerah? Saya ragu.

Sebenarnya hari Kartini dapat dijadikan momen yang tepat untuk mengajak anak-anak berpikir tentang kesetaraan gender, tentang patriarki, tentang pentingnya memiliki kepercayaan diri untuk menjadi diri sendiri tanpa dibatasi oleh apa jenis kelamin kita.

Guru-guru dapat mengajak murid-muridnya untuk melakukan riset sederhana tentang Kartini. Guru-guru dapat mengadakan lomba menulis esai tentang kesetaraan gender atau lomba resensi buku tentang Kartini.

Bisa juga memanfaatkan teknologi seperti misalnya meminta murid-muridnya untuk membuat vlog tentang apa yang murid-murid pelajari dari kehidupan Kartini. Alternatif kegiatan lain, murid dapat diminta untuk membuat komik, lukisan, cerpen atau puisi tentang Kartini dan relevansi perjuangannya di masa kini.

Ada banyak kegiatan yang dapat dilakukan untuk mengasah kesadaran terhadap kesetaraan gender dengan mengambil momen hari lahir Kartini. Atau sebenarnya, memang selama ini kita tidak peduli pada kesetaraan gender dan menganggap perempuan-perempuan yang ribut mempersoalkan patriarki adalah sebuah sosok yang harus terus diasingkan dan ditaruh di pinggiran masyarakat agar ia tidak bergerak menggoncang tatanan yang sudah mapan?

Begitulah pengabadian budaya patriarki terus bekerja. Ia bergerak dengan halus dalam keseharian. Ia bekerja dalam tradisi yang seharusnya boleh kita pertanyakan tapi kita dibuat untuk tidak mempertanyakannya; ia menenggelamkan Kartini dalam-dalam ke dasar yang tidak dapat kita lihat secara kasat mata, menyembunyikannya di balik sanggul dan riasan wajah yang menawan.

Baca:  Ketika Negara Tidak Perduli Dengan Korban Anak Kekerasan Seksual

Pemikiran Kartini tertutup rapat-rapat dalam balutan kain dan kebaya, terlalu gemerlap sehingga kita lupa bahwa Kartini jauh lebih menghargai pemikiran daripada penampilan. Mengenakan pakaian daerah di hari Kartini bukan berarti tidak boleh dilakukan.

Yang berbahaya adalah jika kita hanya berhenti pada perayaan yang hanya mementingkan penampilan semata, yang mengecilkan esensi kehadiran Kartini, bahkan tidak menghadirkan pemikiran dan perjuangan Kartini di hari lahirnya.

“Gadis yang pikirannya sudah dicerdaskan, pemandangannya sudah diperluas, tidak akan sanggup lagi hidup di dalam dunia nenek moyangnya.” (R.A. Kartini)

Sebagai permulaan, bagaimana jika para guru mengajak anak-anak untuk memikirkan makna kalimat yang diucapkan Kartini di atas atau mengajak anak-anak membaca surat-suratnya sebagai ganti peragaan busana, yang toh memang sulit dilakukan karena kita saat ini sedang dalam situasi pandemi yang membuat anak-anak harus belajar dari rumah?

Di tengah-tengah kondisi diam di rumah ini, mungkin kita dapat benar-benar menghadirkan Kartini di peringatan hari lahirnya. Jika kita memang benar-benar mau menghadirkannya maka kita harus bisa benar-benar mehamahami pemikirannya.

Rouli Esther Pasaribu adalah seorang ibu, istri dan dosen. Tertarik pada isu gender setelah ia menikah dan merasakan betapa norma-norma patriarki sungguh merugikan hidup. Senang mendengarkan musik klasik dan membaca novel di waktu senggang.

Leave a Comment

%d bloggers like this: