Kenapa Anak Perempuan Juga Perlu Body Positivity?

Le Pham Kha Di di foto oleh ibunya di Vietnam

Suatu ketika saya sedang menelusuri instagram story (instastory) teman-teman saya dan tak sengaja, saya mendapatkan salah satu teman saya mengunggah video bersama keponakannya yang kembar (perempuan dan lelaki) serta masih balita. Di instastory tersebut, terdengar komentar tentang tubuh anak perempuan yang terlihat memiliki badan lebih berat sehingga tak diberikan snack oleh keluarganya sebelum dia sit-up dulu. Saya pun tercengang.

Dibandingkan dengan kembarannya yang lelaki, anak perempuan tersebut memang memiliki ukuran badan yang dua kali lebih besar. Kalau diukur berdasarkan grafik pertumbuhan, si anak perempuan mungkin masuk kategori berat badan berlebih. Tetapi apakah hal tersebut membuat komentar yang dilontarkan oleh teman saya tetap pantas untuk dikatakan?

Baru-baru ini, netijen Indonesia sempat heboh dengan foto kampanye body positivity atau citra tubuh positifnya Tara Basro ke media sosial. Foto tersebut menunjukkan Tara dengan lipatan lemak di perutnya. Tubuhnya jauh dari tubuh ideal ala model perut rata nan kencang yang selama ini ditunjukkan di media, tetapi foto tersebut menunjukkan realita tubuh perempuan apa adanya.

Ada banyak perdebatan seputar unggahan Tara Basro itu, mulai dari tuduhan pornografi oleh Kominfo sampai di kalangan perempuan yang menganggap Tara terlalu cantik dan tidak cukup gemuk untuk pantas menyuarakan tentang citra tubuh positif. Apapun perdebatan itu, satu hal yang pasti adalah tubuh perempuan senantiasa diobjektifikasi.

Bukti awal bagaimana tubuh perempuan diobjektifikasi adalah bagaimana teman saya mengobjektifikasi keponokannya yang masih berusia tiga tahun. Sejak kecil anak perempuan sudah menerima objektifikasi dan diberi standar tubuh ideal oleh orang dewasa di sekitarnya.

Beberapa orang mungkin berargumen bahwa orangtua harus bisa membuat anaknya menurunkan berat badan supaya sehat, tetapi apakah hanya orang kurus saja yang sehat? Apakah gemuk berarti tidak sehat? Tentu saja, mengukur anak sehat tak segampang itu. Perlu berbagai pertimbangan untuk menciptakan lingkungan yang sehat untuk anaknya.

Baca:  Apapun Masalahnya, Mengatur Tubuh (Perempuan) Solusinya

Mungkin alasan orangtua atau teman saya memotivasi anak perempuan untuk kurus bisa dengan embel-embel sayang, tetapi apakah hal itu akan tetap sama apabila si anak perempuan ini tetap gemuk 10 tahun kemudian? Apakah ia akan tidak diberi makan karena orangtuanya takut anaknya akan menjadi gemuk? Apakah keluarganya akan merisaknya jika ia terus berbadan besar dengan ejekan yang membuat dirinya tak berharga sepertia tidak akan ada yang suka dengan dia jika ia gemuk?

Bagaimana jika anak perempuan tersebut tumbuh dewasa dan menyadari perlakuan yang berbeda dengan saudara kembarnya lantaran berbeda jenis kelamin? Tidakkah ia merasa tersakiti dengan bentuk objektifikasi yang dilakukan orangtua dan keluarganya sendiri? Ia bisa saja menjadi depresi kemudian mengalami gangguan makan seperti bullimia atau anorexia yang dapat membahayakn hidupnya.

Tentunya citra tubuh yang positif sudah harus diajarkan kepada semua orang bahkan sejak dia kecil sekalipun. Tidak hanya tentang menerima tubuhnya apa adanya tetapi juga mengajarkan bahwa manusia terutama perempuan dengan bentuk tubuh apapun berhak untuk dihargai dan dihormati. Jangan sampai kita mengajarkan pada anak bawah nilai tubuhnya bisa ditetapkan oleh orang lain.

Tak bisa dipungkiri kalau masyarakat kita memiliki stigma sosial yang buruk terhadap orang gemuk, namun tidak dengan orang kurus. Orang kurus dianggap sehat dan rajin berolahraga dibandingkan lawannya yang dianggap malas. Maka tak jarang orang gemuk mendapatkan perlakuan berbeda dari rekannya yang kurus.

Saya tidak tahu bagaimana cara cepat untuk mengkampanyekan citra tubuh positif. Perjalanan untuk mencintai tubuh sendiri dengan segala lipatan lemak, selulit, bekas jerawat dan lainnya memang membutuhakan waktu yang lama terutama jika kita hidup di masyarakat yang terus mengobjektifikasi perempuan. Tetapi saya berharap kita semua bisa lebih berhati-hati dengan komentar yang keluar dari mulut kita bahkan terhadap anak-anak terutama anak perempuan. Jangan sampai kita menciptakan lingkungan yang beracun sehingga ia tak nyaman berada dengan keluarga terdekatnya yang seharusnya menerima dan mencintai dia apa adanya.

Baca:  Perempuan Kepala Keluarga itu Ada Dimana-mana

Saya hanya bisa berharap bahwa setiap anak perempuan bisa tumbuh menjadi anak perempuan yang baik. Kalaupun dia tetap tidak memiliki berat badan yang dianggap ideal, dia bisa cepat menemukan support system yang mendukung tubuhnya menjadi miliknya sehingga kepercayaan dirinya tak dihancurkan dengan komentar-komentar “sayang” dari keluarganya.

Seorang dokter umum yang juga penggemar seni dan seorang feminis. Dulu saat tinggal di Jakarta hobi sekali nonton teater. Sekarang Gisella menghabiskan waktunya di twitter menjadi pengagum BTS dan membaca fanfictions (bukan BTS) setiap hari, sambil melakukan pekerjaannya sebagai seorang dokter.

Leave a Comment

%d bloggers like this: