Naik Angkot di Ibu Kota, Menyelami Permasalahan Kaum Miskinnya

Menjadi penumpang setia Angkutan Kota (angkot) dan Koperasi Angkutan Jakarta (kopaja) di ibu kota membikin diri ini tambah puyeng dan mual-mual, sedih, marah dan juga geram terhadap situasi dan kondisi. Sangat berbeda jika dibandingkan dengan naik trans jakarta, yang sejuk ACnya, duduknya nyaman sambil baca buku atau sambil chatting tanpa takut smartphone-nya dimaling.

Angkot umumnya digunakan oleh masyarakat miskin kota. Praktis karena tak perlu bingung pakai kartu yang uang depositnya disimpan di bank yang tak bisa kita nikmati bunganya. Harganya murah meski kecepatannya berbeda dengan ojek online.

Kondisi angkot biasanya sudah rapuh tapi tetap bisa digunakan. Penumpangnya banyak sampai sumpek-sumpekan. Sampahnya dimana-mana dan kotor. Belum lagi pengamen yang nyanyi suaranya cempreng. Dibalik itu semua banyak permasalahan yang dialami para penumpangnya juga sopirnya. Dengan begitu, kita yang sehabis kerja menguras tenaga dan pikiran tambah puyeng deh naik angkot!

Tapi kita tak perlu menghindar dari masalah. Dengan naik angkot kita melihat berbagai masalah kaum miskin kota. Kita akan dibenturkan dengan realita yang mereka hadapi. Hmm yang kuat yaa sobat misqueen.. Apalagi lokasinya di ibu kota yang kejamnya konon katanya melebihi ibu tiri. Tapi memang sangat kejam, bukan dengan perumpamaan atau lebih tepatnya stigma kepada ibu tiri.

Di awal tahun 2020 ini, harga berbagai kebutuhan pokok naik, BPJS naik, listrik naik, tarif toll naik dan beberapa biaya angkot juga naik. Kenaikan harga kebutuhan bahkan tak diimbangi dengan kenaikan gaji, alias gaji tetap aja dan tak kunjung naik.

Saat kita naik angkot, kita bertemu dengan orang-orang dengan muka murung, suram nan gelisah karena memikirkan hutang yang belum terbayar, uang yang didapat hanya cukup untuk makan, belum bisa kirim uang keluarga di kampung, kos kebanjiran dan masih banyak lainnya. Kalau diamati, banyak juga penumpang yang ngalamun sepanjang perjalanan. Berangan-angan, seandainya jadi orang kaya, pasti gak akan ribet hidupnya. Berkhayal, kalau punya mobil, pasti gak bakalan naik angkot.

Baca:  5 Alasan Kenapa Feminis Harus Berhenti Memakai Produk Perusak Lingkungan

Saya punya teman yang sering pulang bareng. Suatu ketika, saat angkot berhenti di lampu merah, yang lumayan lama karena macet, dia melihat restoran jepang H**B** dan menatapnya dalam-dalam. “Hey ngapain, lihat apa!?”, saya tepuk bahunya. “Itu restoran, gimana ya rasanya? Enak gurih gitu?”, tanyanya.

Saya yang pernah makan tidak sanggup menjawab. Saya juga perlu menghela nafas, jeda sejenak dan menjawab, “Yah biasa aja kok, enak juga masak sendiri kan” sambil sedikit tawa agar asyik ngobrolnya.

Setelah mengobrol, saya menjadi berpikir yang artinya saya tambah puyeng dan tambah mual naik angkot. Permasalahannya adalah kaum miskin kota, terutama teman saya itu, ia seorang perempuan juga sebagai istri dan ibu bekerja 6 hari dalam seminggu di sebuah bengkel hanya digaji 1.500.000 / bulan. Gimana kalau beli H**B**? Gaji sehari-dua hari juga langsung ludes!

Sebagai seorang perempuan dengan beban berlapis yang harus ditanggung, Korporasi memanfaatkan perempuan sebagai pekerja dengan gaji jauh dibawah standar UMR. Korporasi selalu beralasan bahwa perempuan bekerja untuk mencari tambahan uang, jadi gaji tidak setara dengan laki-laki (suami) yang dikontruksi secara sosial sebagai pencari nafkah.

Perempuan yang naik angkot juga was-was dengan berbagai bentuk kekerasan dan berbagai modus pencopetan. Berdasarkan Catatan Tahunan Komnas Perempuan 2018, pengaduan langsung mengenai bentuk kekerasan di tempat umum yang diterima Komnas Perempuan sepanjang tahun 2018 sebanyak 39 kasus. Saya sendiri lebih memilih duduk di posisi paling depan agar aman.

Selain itu, saya juga melihat berbagai permasalahan lain. Sulitnya cari uang sebagai sopir angkot karena tergusur dengan trans jakarta. Sulitnya mencari pekerjaan lain kalau angkot sudah tergantikan. Bahkan sopir-sopir angkot tak jarang batuk-batuk selama perjalanan, bahkan ada yang curhat sakit TBC. Ya namanya juga kelas pekerja yang berada di kondisi yang sangat tertindas: sulit cari uang, tidak ada jaminan kesehatan, bekerja di jalanan penuh polusi.

Baca:  Membaca Ulang Kisah Hawa Agar Adil Dalam Pikiran

Di sela-sela mengamati orang-orang di angkot, tak jarang ada sedikit hiburan dari pengamennya yang bernyanyi, “buruh, tani, mahasiswa, rakyat miskin kota.. bersatu padu rebut demokrasi..”. Walaupun muka ini masih aja cemberut, bad mood sebab lama menunggu angkot.

Dalam keadaan itu, gimana ga tambah puyeng naik angkot, situasi diri sendiri saja belum happy ditambah harus merasakan kesulitan rakyat miskin kota. Dari situ juga kita yang berada di situasi yang lebih baik, merasakan bersyukur. Tapi juga sebenarnya itu menjadi permasalahan yang kita hadapi bersama sebagai rakyat indonesia.

Rakyat miskin bukan hanya orang-orang yang naik angkot yang biasa kita temui tapi juga warga terdampak penggusuran, perempuan, petani, buruh pabrik, buruh migran, LGBTIQ, Papua dan orang-orang tertindas lainnya. Data dari Oxfam dan International NGO Forum on Indonesia Development (lNFlD) menyebutkan bahwa harta 4 orang terkaya di Indonesia sama dengan harta yang dimiliki oleh sekitar 100 juta orang miskin. Nah sobat misqueen, anggota aliansi kita banyak kan!

Dengan naik angkot, kita bisa merasakan betapa susahnya menjadi kaum miskin kota. Betapa marahnya pada situasi dan kondisi ini yang tidak adil kepada kaum yang lemah.

Dari kegeraman itu kita sadar bahwa sebagai kelas pekerja, kita butuh solidaritas dan persatuan untuk menuntut kehidupan yang setara, adil dan sejahtera. Galang kekuatan, rakyat bersatu!

Perempuan muda yang semangat belajar, demokratis dan feminis. Saat ini bekerja sebagai staf divisi Bantuan Hukum Migrant CARE

Leave a Comment

%d bloggers like this: