Arti di Balik Perempuan yang Bersuara

Terlahir sebagai perempuan, apa saja yang telah saya alami? Banyak, mungkin tidak semua bisa saya ceritakan, bahkan cerita ini mungkin akan kemana – kemana berdasarkan pengalaman ditambahi dengan opini saya sendiri.

Berdiskusi isu politik dengan keluarga adalah hal yang paling saya sukai tapi, jika pendapat saya bersebrangan, mereka mengernyitkan kening. Lahir dikeluarga militer 2 generasi, pemahaman politik orde baru dipatri dikeluarga besar. Jika saya mengklarifikasi maka bisa dipastikan saya mendapat ceramah, jadi lebih baik saya menghindari pembicaraan orde baru.

Saya hidup di lingkungan militer, setiap saya pulang sekolah selalu di tanyai oleh om – om “Adek mau kemana?”, “ayo om anterin”. Pertanyaan yang terlontar dari segerombolan om – om yang tidak seharusnya dilontarkan kepada anak SD yang berjalan pulang kerumah, membuat saya kesal & takut. Perasaan tidak nyaman yang saya rasakan selama 6 tahun menerima godaan atau pertanyaan itu membuat saya trauma dengan orang baru, tidak suka dengan lawan jenis. Semakin saya tumbuh, catcalling alias pelecehan seksual yang saya terima semakin gencar, perasaan tidak nyaman semakin berkabut.

Pertanyaan yang sering didapat “kamu china?, apa agamamu?, kenapa gigi mu gingsul” Saya memandang wajah saya, bertanya kenapa tuhan memberikan gigi gingsul, wajah cina padahal saya tidak ada keturunan cina. Mendapat catcall dari kecil, bullyan lengkap sudah trauma yang menyebabkan saya kurang percaya diri, tidak nyaman, takut manusia terlebih lawan jenis yang tidak dikenal.

Saat SD ada perlakuan mendiskriminasi perempuan saat pelajaran olahraga, kalimat diucap bapak guru saat anak perempuan kurang semangat bermain sepak bola “perempuan ini lemah, gak mau main sepak bola”. Apa kelemahan perempuan hanya diukur dengan bermain sepak bola?

Baca:  “Tapi Dia Kan Emang Cakep”: Tara Basro dan Sulitnya Menyampaikan Pesan Self Love

Saya dipanggil oleh guru biologi saat SMP disuruh berdiri di depan kelas, Rok saya bahasa jawanya di dedel dilepaskan semua lipatan jahitannya, menurutnya rok saya terlalu pendek. Apakah pantas jika memang rok saya pendek, badan saya diputar – putar & disaksikan seluruh siswa di depan kelas? Hal ini sangat tidak adil, rok saya tidak mempengaruhi proses belajar, tidak mempengaruhi siapapun, tak menyalahi aturan karena memang tidak ada batasan mengenai panjang rok.

Seorang guru laki – laki diSMA terus menggoda saya sampai anak – anak ikutan menggoda & mengatakan bahwa saya gadis guru tersebut, saya risih tidak nyaman pada suatu hari saya melawan. Saya luapkan ibaratnya gunung yang meletus, karena memendam hampir satu semester. Saat saya melawan beliau pun marah saya diusir dari kelas, saya langsung ke kantor BK menceritakan semuanya ke BK bahwasanya saya tidak nyaman dengan perlakuan beliau memanggil dengan sebutan sayang.

BK saya seorang laki – laki beliau menanggapi cerita saya dengan serius, beliau juga paham bahwa saya korban tapi untuk membuat kasus ini selesai beliau meminta saya untuk mengalah dan meminta maaf.

Setelah kejadian itu, saya tidak segan untuk bersuara seperti protes saat nilai kelompok saya tidak sesuai, mendapati ketidakadilan tersebut, kami melakukan protes. Tidak hanya sekali namun beberapa kali, kami mendatangi pak guru. Akhirnya beliau bilang “iya nanti diganti, sudah pergi sana perempuan nuntut terus”.

“Menuntut bagaimana? Itu memang hak kami, kami seharusnya memang dapat A, kenapa dengan perempuan?” beliau hanya diam saja sambil main game di laptopnya, Lalu kami diusir oleh petugas dari kantor.

Rentetan diskriminasi yang tersistematis sejak kecil membuat saya tak pantang bersuara. Menurut saya sebagai sarjana pendidikan, perlakuan beberapa guru tidak adil. Semua anak dilahirkan spesial dengan bakat dan minatnya masing-masing, tidak bisa juga dihakimi berdasarkan jenis kelaminnya.

Baca:  Naik Angkot di Ibu Kota, Menyelami Permasalahan Kaum Miskinnya

Menjadi perempuan yang bersuara dan berpikir kerap dianggap hal yang aneh, dianggap banyak bicara, banyak maunya. Padahal saat perempuan bersuara berarti ada ketidakadilan disekitar mereka, ada ketidaknyamannya yang menindas mereka dan perempuan ingin memperbaikinya. Mengutip kata Midge di serial tv The Marvelous Mrs. Maisel “Maybe they just put those [shoe] ads in newspapers to distract us, because if women don’t realize what’s going on in the world, they won’t step in and fix it. Because they will fix it! And accessorize it!”

Dari kutipan diatas menandakan sudah naluri perempuan untuk ikut andil dalam pergerakan dunia. Raden Dewi Sartika dibukunya “meluruskan yang keliru dan menguatkan yang lemah”. Namun hingga saat ini perempuan selalu dibatasi, dianggap hanya sebagai pemanis, perempuan berpendapat selalu dianggap hanya angin lalu, masyarakat selalu menganggap perempuan tak bisa berpikir rasional, pemikiran perempuan selalu dilandasi emosional dan terbawa suasana.

Karena banyaknya respon negatif pada perempuan yang bersuara membuat perempuan lain diluar sana lebih memilih untuk diam, bukankah itu hal yang jahat. Biarkan perempuan bersuara, dengar kan mereka. Dengarkan para perempuan berbicara karena di saat perempuan bicara lantang, disitu ada ketidakadilan.

Intan menciptakan & menulis dunia nya sendiri. Membaca, menonton, mendengar dengan sedikit berbicara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *