Balada Ibu Rumah Tangga

Alkisah hiduplah seorang perempuan bernama Maimunah. Sejak kecil dia dipupuk untuk memenuhi ekspetasi “Istri Ideal” oleh orang tuanya dan menjadi ibu rumah tangga adalah mimpinya. Setelah menikah, dia dengan senang hati menjalani mimpinya. Membangun rumah tangga yang penuh senyuman dan terpenuhi semua kebutuhannya adalah moto hidupnya. 

Setiap hari dia bangun jam 4 pagi. Dia pergi ke pasar membeli lauk-pauk untuk makan hari ini. Ketika dia sampai ke rumah jam 4.30, dia langsung memasak bahan makanan yang dibelinya untuk sarapan. Sambil menunggu matang, dia kembali ke kamar. Pelan-pelan dia membuka lemari pakaian. Dia memilih sebuah kemeja, celana dasar lengkap dengan dasi dan jas berwarna senada, ditaruh di samping tempat tidur. Dia kembali berkutat di dapur saat suara suling cerek berdengung. Dia masih berkutat di dapur saat adzan subuh bergema. Dia mematikan kompor dan tergopoh-gopoh menuju kamar. Dia berbisik membangunkan suaminya. 

Lalu dia berpindah ke kamar sebelah, dimana kedua anaknya yang masih sekolah tertidur. Dia mengelus kening mereka sambil meminta untuk solat subuh. Selesai subuh, suaminya kembali ke kamar untuk mandi. Dia kembali ke dapur dan menyeduh air hangat sebagai bekal minum kopi setelah menyiapkan air hangat buat mandi suaminya, sementara kedua anaknya melanjutkan tidur.

Saat suaminya bersiap diri, Maimunah mulai menghidangkan roti bakar, nasi goreng, susu coklat, secangkir kopi, dan buah-buahan sebagai menu sarapan. Dia kembali ke kamar anak-anaknya, membuka gorden lebar-lebar. Meminta kedua buah hatinya bangun karena sudah jam 5.30, waktunya bersiap ke sekolah. Saat anaknya mandi, Maimunah menyesuaikan mata pelajaran dengan isi tas anak anaknya hari ini. Dia mengambil seragam untuk hari Senin di lemari dan di taruh di samping ranjang.

Baca:  Harapan

Maimunah masih mencari topi sekolah si sulung saat suaminya memanggil dan menanyakan kaus kakinya yang hilang. Maimunah menemukan kaus kaki itu di bawah rak sepatu hanya dengan sekali pandang. Waktu menunjukan jam 7 pagi, saatnya sang suami berangkat kerja dan anak anaknya sekolah. Pekerjaan Maimunah belum selesai. Cucian piring menumpuk di westafel. Belum lagi dia harus mencuci pakaian secara manual karena mesin cucinya rusak.

Setelah hampir seharian berkutat dengan baju kotor, dia beralih ke gagang sapu. Dia mulai membersihkan sudut rumah dan mengepel lantainya biar mengkilat. Tak terasa waktu sudah bergulir sore. Maimunah kembali ke dapur untuk menyiapkan bumbu. Hari ini dia masak banyak makanan karena sang suami membawa kolega ke rumah. 

Jam 4 sore, kedua anaknya pulang sekolah. Sementara kedua anaknya mengerjakan PR Maimunah kembali memasak. Sehabis magrib, Maimunah mandi dan bersolek. Dia tidak ingin suaminya pulang dan melihat istrinya tak cantik. Apalagi di depan koleganya. Jam 7 malam sang suami datang bersama beberapa kolega. Salah seorang dari mereka bertanya pada suami Maimunah, “Istrimu bekerja apa?”

Lalu sang suami menjawab enteng, “ Dia nggak kerja”

Maimunah cemberut seketika. Dalam hati Maimunah hanya bisa ngedumel.  

Eitss, tunggu dulu…

Akhir seperti ini hanya untuk perempuan yang hidup di jaman patriarki masih merajalela. Ayolah, ini 2020 dan perempuan sudah berdaya sekarang. Maimunah tidak mungkin melepaskan masa lajangnya yang serba berkecukupan hanya untuk hidup dalam perbudakan yang disahkan oleh negara. 

Ayolah, tulis ulang akhirnya.. akhir tentang perempuan yang tak hanya tau apa yang dia inginkan tapi juga hak-haknya sebagai pasangan. Salah seorang dari mereka bertanya pada suami Maimunah, “Istrimu kerja apa?”

“Aku ibu rumah tangga” Maimunah menjawab.

Baca:  Nasab

“Hei, itu kewajiban bukan pekerjaan,” dia terkekeh dengan sedikit mengejek, “menjadi ibu rumah tangga bahkan enggak pernah digaji”

“Tidak juga. Suamiku menggajiku tiap bulan,” jawab Maimunah lagi.

“Berapa besar?” tanyanya lagi.

“Aku rasa cukup untuk membeli beberapa pasang sepatu Jimmy Choo,  Tas Gucci, pakaian indah Dolce & Gabbana dan liburan ke beberapa negara saat musim panas.”

“Itu namanya pemerasan.”

“Bukan pemerasan melainkan apresiasi. Suamiku tau pekerjaanku sulit. Bahkan lebih sulit dari sekedar mencari nafkah seharian. Lagipula dia sudah berjanji untuk menanggung beban gaya hidupku setelah kami menikah.”

Kolega suaminya hanya terdiam.

“Itulah kenapa aku menikahinya”, Maimunah menggenggam tangan suaminya. Dia sungguh beruntung memiliki suami yang mengerti tentang hak-haknya sebagai pasangan 

“Lalu apa apresasimu pada istrimu, Tuan”, Maimunah bertanya.

Kolega suaminya langsung tersedak mendengar pertanyaan Maimunah. Tersadar kalau dia tidak pernah mengapresiasi istrinya sebesar yang suami Maimunah berikan. Bahkan satu kata terima kasih pun tak pernah dia ucapkan pada istrinya yang selalu mengurus dia dan anak-anaknya setiap hari. Tanpa cuti. Tanpa digaji. 

“Bisa kita mulai acara makan malamnya,” Kolega suaminya menyarankan

Maimunah hanya tersenyum menang saat melihat dia mengalihkan pembicaraan dan pura-pura tidak dengar.

Manusia yang hobi menulis bacotannya tentang perempuan dan patriarki di story IG. Hampir membenci matahari tapi bukan vampir dan penikmat kopi tubruk kelas berat. Karena terlalu senang berkhayal tentang dunia lain, akhirnya ia memutuskan untuk menerbitkan buku fantasi berjudul “Dunia Yang Hanya Tuhan Tahu.”

Leave a Comment

%d bloggers like this: