Suami Saya Bapak Rumah Tangga dan Saya Bangga

Bapak Rumah Tangga

Beberapa hari yang lalu, suami saya bercerita tentang pertanyaan seorang petugas perempuan di kantor TU SD ketiak ia hendak membayar uang SPP bulanan Aletta. Sambil menerima uang dan pethuk (lembar bayar) SPP, si ibu bertanya: “Kemana ibunya kok bapaknya yang kesini sambil bawa bayi?”

“Ibunya bekerja.” Balas suami saya.

Si ibu makin agresif bertanya dan mulai mencecar suami saya dengan rentetan pertanyaan. “Lho bapaknya tidak kerja? Bapak kerja dari rumah ya? Ah masak sih, ga nyambi apa-apa gitu pak?”

Alhasil, suami saya cepat-cepat menyudahi pembicaraan dan berpamitan dengan alasan harus segera memandikan bayi Khalisee. Suami saya beranjak pergi meninggalkan ibu yang masih belum terima bahwa di dunia ini ada yang namanya bapak rumah tangga yang pekerjaannya mengurus rumah tangga thok.

Fenomena bapak rumah tangga di kota besar macam Jakarta bukanlah hal yang baru dan memang sudah menjadi pilihan bagi beberapa pasangan muda. Sampai saat ini saya tidak menyesal sedikitpun memiliki suami yang menjadi Bapak Rumah Tangga.

Atas kesepakatan bersama, suami memutuskan untuk tinggal di Jakarta (setelah sebelumnya mencoba membuka usaha di Klaten dan tidak membuahkan hasil) dan mengurus kedua buah hati kami secara penuh atau menjadi full-time daddy. Keputusan tersebut tidak mudah mengingat masyarakat kita masih menekankan pandangan bahwa suami harus bekerja mencari nafkah di luar rumah, dan istri “hanya” perlu mendukung baik dengan bekerja ala kadarnya atau mengurus rumah tangga saja.

Tidak mudah menerima bahwa seorang istri akan menjadi pencari nafkah utama atau tulang punggung keluarga. Lebih lagi, tidak mudah bagi seorang suami untuk meninggalkan egonya dan mengurus rumah tangga secara penuh sementara sang istri bekerja ke kantor setiap hari. Suami yang biasanya bertemu dengan teman-teman dan koleganya selama masih bekerja harus merelakan dirinya terjebak dalam rutinitas domestik yang tentunya tidak mudah diterima oleh nilai-nilai sosial yang masih mendewakan budaya patriarki.

Baca:  “Tapi Dia Kan Emang Cakep”: Tara Basro dan Sulitnya Menyampaikan Pesan Self Love

Beberapa pasangan merasa bahwa kecanggihan teknologi saat ini dapat menjadi “penutup” bagi status fulltime daddy dengan mengumumkan bahwa suami bekerja dari rumah sambil mengurus anak-anak. Namun, rasanya kok tidak tepat bagi kami untuk menggunakan tabir tersebut untuk menjawab pertanyaan setiap orang yang iseng mempertanyakan status suami saya.

Kami berdua melatih diri untuk jujur bahwa suami memang adalah bapak rumah tangga thok yang tidak nyambi apa-apa selain mengurus rumah tangga dan anak-anak. Karena tanpa pengasuh dan asisten rumah tangga, menjadi Bapak rumah tangga bahkan bisa jauh lebih melelahkan dan menguras waktu serta tenaga dibanding kita yang bekerja kantoran.

Jam kerja suami mulai pukul 04.30, diawali dengan membuatkan susu untuk anak-anaknya dan minuman hangat untuk istrinya. Segala urusan persiapan masuk sekolah termasuk memasak sarapan dan menyiapkan bekal untuk Aletta dilakukan oleh suami sementara saya membereskan rumah dan mempersiapkan diri untuk berangkat kerja sambil mengurus si kecil yang kadang masih mau menyusu atau minta gendong.

Kemudian suami mengantar anak ke sekolah sambil menggendong si kecil sementara saya berangkat ke kantor. Beres dengan anak pertama, suami mulai mengurus anak kedua dari mulai memandikan, menyuapi, menidurkan, dan mengajak bermain. Belum lagi beberes rumah. Tanpa terasa sudah tengah hari dan saatnya bagi mereka untuk menjemput kakak dari sekolah dan mengantar ke tempat les.

Kembali ke rumah, suami kembali ke siklus menyiapkan makan, memandikan dan mengajak bermain atau membantu mengerjakan tugas sekolah atau PR anak. Satu-satunya waktu untuk istirahat di siang hari bagi suami adalah saat si kecil tidur siang, yang dimanfaatkannya dengan menonton channel History atau memainkan game Candy Crush.

Pada sore hari ketika saya pulang bekerja, selalu saya lihat tatapan matanya yang penuh syukur sekaligus melas karena akhirnya dia bisa benar-benar menyandarkan punggungnya di kasur untuk melepas lelah.

Jangan bayangkan suami saya adalah suami yang lenjeh dan terbiasa dengan kehidupan domestik sebelum ini. Sebelum menikah dengan saya, suami terbiasa dengan kehidupan jalanan yang sampai sekarang masih menyisakan bekas berupa berbagai jenis tato dan tindik di berbagai tempat di badannya, bekas luka akibat keseringan adu jotos dan balap motor dan sertifikat lulus rehabilitasi karena pernah menggunakan narkotika.

Baca:  Mendesak Negara Tak Abai Melawan COVID-19

Segala kemampuannya dalam mengurus anak dan mengelola rumah tangga ini diperoleh dengan proses yang sangat panjang, berliku-liku dan penuh perjuangan. Resistensi dan cibiran orang atas statusnya sebagai bapak rumah tangga kadangkala menyebabkan dia galau dan emosional dan hal itu sangat berpengaruh terhadap hubungan kami. Namun, komunikasi yang terbuka selalu menjadi jalan tengah bagi kami untuk menemukan solusi setiap permasalahan yang kami hadapi.

Terkadang kami masih belum percaya bahwa kami mampu mengurus rumah tangga dan anak-anak tanpa bantuan siapapun, kecuali para driver Go-Food dan Kios Laundry depan rumah. Suami full-time daddy saya telah menyelamatkan anak-anak saya dari pengasuh yang pernah memukul dan mencubit si sulung, meningkatkan kepercayaan diri anak-anak dengan pendampingannya di rumah dan mendukung saya melaksanakan peran saya sebagai pencari nafkah utama sekaligus ibu bagi anak-anak kami.

Dan terlebih lagi, saya sangat bangga padanya yang tidak malu melepas egonya untuk berperan ekstra dalam menunjukkan rasa cintanya kepada saya dan anak-anak kami. Tentunya tak perlu malu menjadi bapak rumah tangga karena dengan komunikasi yang terbuka dan sikap saling menghargai dan menghormati, lelaki juga bisa berbagi peran dengan pasangannya.

Jadi Bu TU, ndak salahnya lho menjadi Bapak Rumah Tangga thok. Ndak percaya? Yowis sak karepmu.

Seorang ibu dari dua anak kriting. Saat ini memutuskan untuk melanjutkan study S3 di Monash University, Australia.

Leave a Comment

%d bloggers like this: