Benarkah Perempuan Butuh Perlindungan Lelaki?

Beberapa waktu lalu, saya menonton sebuah video pendek tentang desa perempuan di Kenya. Desa itu didirikan dan dihuni oleh perempuan-perempuan dengan latar belakang yang kurang lebih sama, mulai dari korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), korban Female Genital Mutilation (FGM), hingga korban perkawinan anak. Pada intinya, para perempuan tersebut adalah korban kejamnya patriarki.

Saya terhanyut melihat bagaimana kehidupan mereka yang berhasil bangkit dari masa lalu dan hidup lebih bahagia melalui nyanyian dan tarian mereka. Namun, ketika video menunjukan bagaimana pandangan para laki-laki di sekitar desa, saya langsung mengernyitkan dahi.

Beberapa laki-laki mengatakan bahwa perempuan tidak akan bisa hidup sendiri sebab mereka butuh kepemimpinan laki-laki. Tapi, para perempuan di desa itu telah membuktikan bahwa mereka mampu membentuk masyarakat, membangun ekonomi, dan juga pendidikan dengan kepemimpinan mereka sendiri. 

Para laki-laki di sekitar desa juga mengatakan bahwa perempuan tidak akan bisa hidup sendiri sebab mereka perlu perlindungan laki-laki. Tapi saya bertanya-tanya, melindungi dari apa?

Bahaya yang dialami para perempuan Desa Umoja adalah bahaya dari laki-laki, mereka adalah korban kekerasan dan patriarki. Maka, melindungi dari apa? Melindungi dari laki-laki? Bagi saya, ini adalah sebuah ironi yang sangat menyedihkan. Sayangnya, ini banyak ditemukan dalam kehidupan masyarakat di seluruh belahan dunia.

Narasi-narasi bahwa perempuan harus bersama laki-laki karena mereka butuh perlindungan tak ada manis-manisnya sama sekali. Bukan hanya karena alasan bahwa yang membahayakan perempuan adalah laki-laki, namun juga karena narasi tersebut adalah penjara bagi perempuan.

Perempuan dipenjarakan dalam ketidakberdayaan, diharapkan untuk memiliki karakter lemah-lembut dan butuh perlindungan, namun di sisi lain harus menghadapi bahaya dari orang yang dianggap pelindung. Sangat jelas bahwa ada relasi kuasa antara laki-laki dan perempuan yang tidak seimbang dalam hal ini. Dengan begitulah, patriarki tetap bertahan. 

Baca:  Apakah Transgender itu Pilihan atau Takdir?

Perlindungan seharusnya tidak diperlukan jika saja perempuan hidup aman dari bahaya. Sepenuhnya aman dari bahaya memang terdengar utopis, namun yang diharapkan setidaknya adalah aman dari bahaya kekerasan terutama kekerasan seksual.

Kekerasan telah menghambat perempuan dalam banyak hal, termasuk keterlibatan di ruang publik. Oleh karena itu, dibanding terus beralasan bahwa perempuan butuh perlindungan laki-laki sebagai alasan untuk mengekang perempuan, lebih baik membangun pendidikan yang mengajarkan manusia, terutama laki-laki untuk tidak melakukan tindak kekerasan.

Hal yang lebih penting lagi adalah membangun pendidikan anak yang adil gender, terutama membangun kepercayaan diri anak perempuan untuk sanggup melindungi diri dan berdaya, serta anak lelaki untuk menghargai perempuan. Pendidikan yang saling menghargai dan menghormati lebih memberdayakan dibanding membuat perempuan bergantung pada perlindungan lelaki. Lagipula, perlindungan dari luar tidak akan selalu ada untuk kita.

Satu-satunya manusia yang selalu ada untuk melindungi kita adalah diri sendiri. Maka, kita pun sebagai perempuan harus keluar dari penjara bahwa kita membutuhkan laki-laki karena hanya mereka yang bisa melindungi kita.

Lihatlah apa yang terjadi ketika perempuan keluar dari penjara patriarki. Perempuan-perempuan di desa Umoja keluar dari rumah tangga yang penuh kekerasan, anak-anak lari keluar dari FGM dan perkawinan anak. Mereka bahkan berdaya secara ekonomi dan bisa membangun sekolah, bukan hanya untuk anak di desa itu tapi juga anak-anak dari desa lain.

Pada akhirnya, mereka merasakan kebebasan dan kebahagiaan dalam keberdayaan mereka. Bagi saya, ini adalah bukti bahwa narasi “perempuan butuh laki-laki untuk melindungi” adalah sebuah penjara yang harus diruntuhkan. 

Banyak lelucon yang merendahkan perempuan dengan narasi “perempuan butuh perlindungan laki-laki” , dan perempuan yang menolak dilindungi sering dikatakan kekeraskepala dan tidakmau menerima kelemahan mereka.

Baca:  Pekerja Seks Berdaulat: Menyangkal Kejamnya Dunia Prostitusi di Indonesia

Namun, penentangan tersebut adalah gugatan perempuan terhadap penjara yang telah menghambat mereka selama puluhan generasi. Penentangan tersebut adalah kekuatan untuk bangkit memberdayakan diri, seperti yang dilakukan para perempuan di Desa Umoja, Kenya.

Lagipula, jika pun hubungan laki-laki dan perempuan adalah tentang perlindungan, maka seharusnya kita saling melindungi, entah sebagai pasangan, sesama anggota masyarakat, ataupun sebagai sesama manusia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *