Kami Bukan Anak Durhaka, Hanya Saja Kami Ingin Bahagia

Seorang perempuan yang sudah mengenyam pendidikan pasti menginginkan dirinya bisa berkembang sesuai dengan kemampuan yang mereka miliki, selain mengurus  dapur, kasur, dan sumur. Sama seperti pada manusia lainnya, Perempuan ini ingin bebas terbang memilih jalan kesuksesannya masing-masing.

Termasuk saya, dan perempuan Indonesia lainnya. Kami sering disebut feminis karena tak gentar berulang kali membahas segala ketimpangan gender atau menginginkan adanya keadilan gender di negeri yang ber-flower ini.

Namun saat orang tua kita tidak mengetahui atau belum memahami apa itu nilai-nilai feminis, dan tak setuju dengan konsep perempuan yang berdikari dan bercita-cita tinggi, tak jarang kami mendapatkan ceramah yang terasa menyiutkan nyali kita.

“Perempuan memang punya mimpi yang tinggi sama seperti laki-laki tetapi, tetap saja sebagai perempuan harus tetap bisa mengurus dapur dan sumur. Gak selamanya nanti suamimu beli makanan diluar terus atau laundry pakaian terus bukan?”

Lah, memangnya laki-laki tak bisa masak dan nyuci baju sendiri?

Sedih sekali ketika orangtua kita sendiri hanya menakar kita dari kemampuan melakukan kerja domestik, bukannya turut mendoakan agar mendapatkan pasangan yang mau berbagi beban rumah tangga, eh malah mereka malah ikut menambah beban.

Tidak ada seorang anak pun yang ingin mengecewakan kedua orang tuanya atau sampai dicap durhaka oleh orang tuanya. Tetapi, apakah adil jika sang anak terus menerima tekanan dari segala tuntutan? Apakah sehat jika sang anak merasa terpaksa melakukan segala yang ditekankan oleh kedua orang tuanya? Tidakkah ini berbahaya untuk kesehatan jiwanya?

Label durhaka pun tak jarang paling gampang disematkan orang tua kepada anaknya ketika menolak atau tidak ikhlas dalam melaksanakan keinginan orang tuanya.

Sebagai seorang feminis, tentu saya, kita, dan bahkan sebagian besar orang paham betul dengan pentingya ‘relasi sehat’ atau biasanya disebut ‘mubaadalah’. Yaitu sebuah hubungan atau relasi yang saling bahagia dan membahagiakan. Relasi ini tentu tidak hanya untuk pasangan saja, tetapi bisa untuk relasi keluarga, anak dengan orang tua, kakak dengan adik, teman-teman, sahabat-sahabat bahkan relasi dalam komunitas atau organisasi lainnya.

Baca:  Kenapa Perempuan Saling Membenci?

Relasi yang sehat antara anak dengan orang tua tentu sangat baik dan sangat diperlukan. Di saat orang tua menuntut anaknya dengan standar sosial yang tinggi, maka hal ini akan membuat relasi di antaranya menjadi kurang sehat karena belum tentu sang anak bisa mencapai standar yang dikehendaki. Anak akan merasa sangat tertekan dan orang tua bisa merasa sangat kecewa kerena apa yang mereka inginkan tidak dilakukan oleh sang anak.

Belum lagi dengan kata ‘durhaka’ yang dengan mudahnya dilekatkan kepada anak yang tak patuh. Kata durhaka ini bisa membuat kita merasa tak berharga atau bahkan tak berguna di keluarganya.

Sejatinya, kata durhaka ini layaknya manipulasi yang dilakukan oleh orangtua kepada anaknya. Dengan demikian anak akan merasa bersalah dan terpaksa mengikuti keinginan orang tuanya.

Seorang anak bisa terganggu psikisnya, bahkan sampai mengalami luka batin. Luka ini kelak dapat terbawa terus dalam dirinya hingga dewasa dan memengaruhi sikapnya ketika berinteraksi dengan orang lain.

Bagi anak yang sudah dewasa, tak jarang kami mengalami depresi dan stress tatkala orangtua menuntut kita untuk mengikuti kehendak mereka.

Alangkah baiknya jika anak dan orang tua bisa saling terbuka dan membicarakan cita-cita kita sebagai orang yang sudah dewasa dan bisa mengambil keputusan sendiri. Tentunya kami sangat menghargai jika orangtua dapat mengerti dan memahami, malah kalau bisa ikut mendukung, menuntun dan memantau anaknya ini di jalan yang dia inginkan. Sudah pasti relasinya anak dan orangtua dapat terjaga baik dan sehat sentosa.

Wahai para orang tua dan calon orang tua sekalian, selain karena anak adalah anugerah dari Tuhan, anak juga salah satu cara Tuhan untuk melatih manusia agar lebih bijak dalam menata kehidupan rumah tangga, lebih sabar dalam segala keadaan, dan tentunya melatih orang tua yang sangat dibanggakan oleh anak-anaknya.

Baca:  Berhentilah Menghamba Pada Cinta Lelaki

Walaupun kita sudah dewasa, kita masih membutuhkan perhatian yang cukup dari orangtua kita lho. Tentunya perhatian itu tidak luput dengan meridhoi anaknya memilih jalan kehidupannya sendiri, serta membiarkan kita belajar dari kesalah-kesalahan kita, agar kita bisa mengerti mana yang benar dan salah.

Kita memang anak orangtua kita tapi bukan berarti kita sama dengan orangtua kita. Tak seharusnya orangtua dengan mudah melontarkan kata durhaka untuk menyakiti kita dan membuat kita melakukan apa yang mereka mau. Tak adil rasanya jika kita terus dipaksakan untuk mengikuti keinginan orangtua padahal Tuhan saja menciptakan setiap mahluknya berbeda-beda.

Tidakkah Tuhan sendiri menginginkan hambanya memiliki kehidupan keluarga yang harmonis dan bahagia?

Mahasiswi di UIN SMH Banten. Sedang berusaha aktif mencerna ilmu tentang feminisme di Women’s March Serang.

Leave a Comment

%d bloggers like this: