Sering kali saya mendengar narasi “Di balik laki-laki yang sukses ada perempuan hebat di belakangnya”, hal seperti ini sering saya temui dalam hubungan teman-teman saya dan saat saya bermain salah satu aplikasi kencan, banyak pria yang ingin ‘ditemani’ dari titik nol, mencari sosok perempuan yang mampu melakukan hal itu.

Saya rasa kita harus mulai membicarakannya, dalam konteks heteroseksual sudah banyak pasangan yang jatuh dalam dinamika hubungan bagaikan “ibu-anak” ini, seperti ada pengkondisian sosial bahwa perempuan memang seharusnya membina pasangannya untuk meraih kesuksesan. Saya juga melihat hal itu terjadi dalam hubungan orang tua saya, setidaknya saat mereka masih bersama.

Ibu menikahi laki-laki yang memiliki pekerjaan serabutan, mungkin pada saat itu ibu percaya bahwa dengan menikahi, menerima sekaligus menemani bapak saya yang apa adanya mampu mendorongnya mendapat puncak kesuksesan, pada akhirnya memiliki penghasilan tetap. 

Anggaplah semua itu terjadi, mungkin orang-orang akan menilai memiliki dua orang tua yang bekerja penuh waktu alaminya mereka akan berkontribusi sama dan setara dalam peran membesarkan keluarga sekaligus menjaga rumah agar tetap layak huni, tetapi nyatanya tidak berlaku pada orang tua saya.

Pengasuhan anak, pekerjaan rumah dan yang paling penting dalam konteks ini manajemen emosional untuk pekerjaan membesarkan pasangannya masih diemban ibu saya sendirian – menjaga semuanya tetap teratur dan memastikan pasangannya bahagia dan sehat selalu. Seharusnya bukan tanggung jawab perempuan untuk membesarkan laki-laki atau pasangannya, kami bukan Ibu mereka. 

Saat pemikiran “perempuan kan lebih baik dalam hal-hal seperti ini” dan dijanjikan untuknya mendapatkan penghargaan label ‘hebat’ oleh masyarakat ketika ia berhasil membesarkan ‘bayi-bayi’ dewasa itu, akan semakin banyak perempuan yang rela melakukannya secara cuma-cuma emotional labor ini. Padahal, mereka sedang mendongkrak superioritas laki-laki atas dirinya, sehingga subordinasi terhadap perempuan kian kuat didalam hubungan. Yang sudah-sudah malah jadi pekerjaan tambahan untuk perempuan disamping beban ganda yang sudah ditanggungnya seorang diri. Tak hanya itu, stereotipe “Istri tidak becus mengurus suami” makin menjamur. 

Baca:  Menjadi Feminis Tak Harus Ateis

Kerja emosional (Emotional labor) merupakan konsep yang diciptakan oleh seorang sosiolog Arlie Hochschild dalam bukunya The Managed Heart (1983). Memang, Hochschild menggambarkannya untuk perempuan dalam tempat kerja saat menghadapi publik. Seperti pekerjaan yang berurusan dengan perasaan orang lain untuk menghasilkan efek emosional tertentu — senang dan puas. Tapi hal ini juga relevan untuk diterapkan dalam ruang lingkup domestik, seperti yang dilakukan Ibu saya. Ya tentunya pekerjaan ini sering tidak dilihat sebagai pekerjaan, tidak berupah dan diremehkan.

Kebanyakan kasus yang melakukannya masih didominasi oleh perempuan. Mengapa? 

Sejak kecil perempuan dipersiapkan peran menjadi seorang Ibu. Tak bisa dipungkiri, saat masih kecil perempuan sering dihadiahi mainan masak-masakan, boneka bayi untuk diganti popoknya, kasir-kasiran dan berbagai bentuk mainan lainnya yang dapat diasosiasikan dengan pelayanan dan pengasuhan.

Adanya penekanan gender atas citra feminin seperti mengayomi, melayani, dan ramah-tamah dilekatkan sejak kecil kepada perempuan akibatnya pekerjaan yang menuntut kerja emosional sering kali tersedia lebih banyak untuk gender satu ini. Semua itu terbawa hingga dalam hubungan, perempuan jadi cenderung merasa bertanggung jawab berperilaku seperti ibu untuk pasangannya dan laki-laki menjadi anaknya.

Sehingga banyak laki-laki yang mencari dan mengharapkan jenis kenyamanan seperti yang biasa dia dapatkan dari ibunya ke perempuan yang akan atau sudah menjadi pasangannya. Saya tersadar, mungkin ini salah satu penyebab adanya kalimat  “Suami-suami takut istri” – istri yang harus mengomeli dan meneriakinya, seakan pasangannya adalah anak laki-laki. Ibu saya sering marah-marah ketika bapak tidak mau dimintai tolong untuk ke pasar.

Saya percaya sebagian besar perempuan melakukannya secara tidak sadar, terjadi begitu saja karena perempuan menerima peran yang mereka yakini sejak dulu, bahwa mereka dibesarkan untuk menjadi seperti itu nalurinya, setidaknya pikir mereka. Lagi pula, ibu-ibu yang suka marah-marah ke suaminya itu dikarenakan peran dan pembagian tugas yang masih kaku dalam keluarga, tidak dilakukan secara kolektif. Karena adanya pengkondisian seperti ini, sudah pasti beban mental atas ekspektasi masyarakat terhadap perempuan dalam hubungan dipikul secara eksklusif.

Baca:  Saatnya Mencari Alternatif Merayakan Kartini

Pada awalnya, mungkin bagi ibu saya semuanya dijalankan dengan senang hati sampai akhirnya dia tersadar bahwa pasangannya ternyata belum meninggalkan fase kekanak-kanakannya, bapak tidak pernah tumbuh dewasa. Laki-laki terus mendapatkan manfaat karena ada yang ‘mengurusi’-nya tetapi tidak dengan perempuan, alih-alih hanya deraan psikis dan fisik yang didapatinya.

Jadi, untuk laki-laki, kami perempuan bukan untuk mengurus segala kebutuhan emosional dan fisikmu apalagi buat menata hidupmu. Tolong sebelum mencari pasangan, do your own things first. Jangan mengharapkan pasangan perempuanmu “dewasa” untuk mendewasakan dirimu dalam hubungan itu. Mengutip dari film Crazy Rich Asians:

 It’s not my job to make you feel like a man, I can’t make you something you’re not.”

Selain mengambil jurusan Sosiologi, Jihan juga giat menyuarakan isu perempuan dan interseksional feminisme, kadang ia juga menulis di blognya sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *