Catatan Perawat Covid-19 di Tengah Pandemi

Wabah covid-19 mengetuk hati nurani saya untuk turun dan ikut menangani pasien covid-19. Sejak awal, keputusan saya menjadi seorang perawat, saya telah meletakkan sejumlah prinsip saya untuk hidup bagi setiap orang yang membutuhkan layanan kesehatan, tanpa pandang bulu: “Ketika sistem kesehatan adalah hak dasar, diatas cinta dan kemanusiaan, semua orang berhak mendapatkan layanan kesehatan yang sama, tanpa dibatasi dengan sejumlah sekat komersialisasi hingga keuntungan belaka.” 

Sebelum bertugas, saya mengajukan data dan lisensi saya sebagai perawat melalui organisasi profesi perawat di Jakarta, untuk penempatan tenaga kesehatan dalam penanggulangan wabah COVID-19. Pengajuan saya diterima, dan diintegrasikan ke kementerian kesehatan. Saya kemudian mengikuti pelatihan pencegahan dan pengendalian infeksi, (PPI). Kami dilatih untuk pemakaian alat pelindung diri (APD) khusus. Setelah pelatihan selesai, pembagian jadwal dinas langsung dibacakan. Saya langsung ditugaskan jaga hari itu juga, sebagai perawat dengan jadwal dinas malam.

Dengan beberapa sejawat, kami mulai mempersiapkan diri untuk bertugas malam hari, melayani pasien-pasien COVID-19. Sebuah hal baru yang pertama kali saya hadapi, sepanjang saya bekerja sebagai tenaga kesehatan ialah berhadapan dengan situasi darurat di area yang sangat infeksius. Bukan sebuah ketakutan, melainkan kewaspadaan.

Wabah ini, telah membuka mata kita lebar-lebar mengenai potret layanan kesehatan kita yang selalu terseok-terseok, ketika dihadapkan dengan pandemi yang berskala global. Layanan kesehatan kita tidak siap dalam penanganan sedari awal. Oleh karena itu, kita harus memikirkan bagaimana agar sistem kesehatan kita siap, seperti negara Kuba yang begitu maju dari mulai pendidikan tenaga medis, fasilitas kesehatan, riset kesehatan, pengembangan vaksin dan obatan-obatan, dan didukung tentunya oleh tenaga medis yang berlimpah. Jika kesiapan negara melalui berbagai komponen diatas itu matang, kita tidak akan pernah mungkin ketinggalan dalam situasi darurat seperti ini

Di RS yang terletak di ibukota negara, kami memang tidak pernah kekurangan APD, kami melakukan penanganan pasien sesuai protap atau standar operasional prosedur (SOP), tetapi bagaimana dengan situasi layanan kesehatan di daerah perifer hingga di beberapa RS di daerah Jawa yang masih harus swadaya sendiri untuk pengadaan APD?

Baca:  Menghormati Privasi Mengajarkan Saya Tentang Relasi Sehat

Dalam situasi ini, pemerintah malah sibuk membahas omnibus law, RUU CILAKA yang memuat regulasi pro investasi dan memangkas hak kelas pekerja. Bayangkan saja, di tengah wabah global seperti ini, pemerintah tengah menyiapkan liang yang lain untuk rakyatnya sendiri, yakni liang kemiskinan.

Alih-alih memfokuskan penanganan COVID-19, pemerintah malah getol ingin membebaskan napi koruptor karena alasan penanganan pandemik. Tetapi disatu sisi, kawan-kawan Papua sengaja tidak dibebaskan, hanya karena tuduhan makar? sementara para tapol, terbukti hanya menyampaikan pendapat didepan umum.

Sekarang kamu bisa memahami kan, mengapa kita sedemikian mundurnya? Reformasi rasa orba bukan?

Setidaknya, situasi kedaruratan kesehatan nasional ini harus menjadi fokus utama pemerintah. Dengan tidak adanya ketidaktersediaan APD, ini menjadi salah satu indikator penting dalam layanan kesehatan. Sementara itu, rakyat sendiri diinstruksi berdiam diri tanpa logistik, rakyat miskin makan apa? Ini seperti di medan tempur tetapi tidak punya strategi dan taktik, apalagi senjata dan peluru? Mati kelaparan dan mati karena virus itu sama-sama bencana. 

Indonesia dengan populasi penduduk yang padat, memungkinan transmisi virus ini mudah berkembang karena populasi masyarakat kita tidak didukung dengan langkah preventif yang memadai, dari mulai pengadaan masker, hand sanitizer, hingga sembako yang menunjang kehidupan sehari-hari. Ditambah dengan layanan kesehatan yang buruk, dan sangat berfokus pada wilayah tertentu. Di satu sisi, sebagian orang pasti akan bekerja diluar rumah, bukan karena tidak taat melakukan pembatasan sosial, tapi karena mereka juga butuh makan. Artinya, pemerintah mesti memahami protap penanganan dengan memperhatikan faktor risiko.

Ketidaksiapan sistem penanganan sedari awal itu akan memberi dampak kinerja kita di lapangan. Penanganan pasien akan overload jika tidak didukung sistem sosial ekonomi, dan komponen hingga infrastruktur kesehatan yang stabil akibat rezim yang lamban. Saya selalu memikirkan bagaimana jaminan layanan kesehatan dan perlindungan berdasarkan sosial ekonomi ini penting dan mendesak secara terpadu dilakukan ditengah-tengah situasi ini.

Tak jarang, di RS ini kami menghadapi berbagai pasien yang sebenarnya terkurung bukan karena isolasinya, tetapi memikirkan keluarganya, pekerjaannya, penyakitnya, ruang produktifitasnya yang semakin sempit, hingga kecemasan yang membayangkan pada kematian. Bukan hal mudah, membangkitkan harapan hidup seseorang di tengah pandemik dan situasi sosial ekonomi yang tak karuan.

Baca:  Kurus atau Gemuk, Semua Berhak Mencintai Tubuhnya Sendiri

Saya selalu bertemu pasien dengan berbagai keluhan, ada yang mesti didatangi dan dikuatkan berkali-kali, diedukasi, hingga harus berhadapan dengan situasi pasien-pasien COVID-19 yang dalam kondisi darurat. Walau dengan anjuran minimal kontak, kepercayaan dan keperdulianantar perawat dan pasien harus terbangun. Terapi medikasi kami berikan sesuai dengan kolaborasi bersama dengan dokter, sebagai bentuk terapi simptomatik.

Beberapa pasien kami membutuhkan terapi supportif, disisi lain dengan komunikasi terapeutik, pasien merespon secara koperatif ketika mendengar setiap anjuran kami. Ini selalu menjadi warna tersendiri di setiap pelayanan kami di RS. Ada rasa haru ketika melihat pasien yang kadang bersusah hati, meski raga ini menantang untuk tetap kuat, terlebih khusus dalam situasi ini, memastikan dan mengupayakan orang lain sehat adalah sama dengan memastikan kondisi kita tetap sehat.

Penting bagi masyarakat luas, bahwa makna rakyat bantu rakyat atas dasar solidaritas, di tengah situasi ini perlu kita terapkan juga dalam layanan kesehatan. Perihal stigma pada pasien, hingga tenaga medis harus diakhiri. Stigma tentang penyakit jangan dipelihara sebagai kultur atau budaya. Ingat saat anda mengakhiri stigma, anda telah membantu kami meluaskan harapan hidup tiap orang sakit ditengah wabah. Mereka butuh diisolasi bukan distigmatisasi, mereka butuh dikuatkan bukan dilupakan.

Bagi saya, apapun situasinya rakyat adalah prioritas utama pelayanan kesehatan tanpa membedakan kaya dan miskin. Pun, lewat tulisan sederhana ini saya ingin menitipkan satu hal, “semangat melawan pandemik korona harus segaris dengan semangat menentang komersialisasi kesehatan. Virus korona memang berbahaya, tetapi kemiskinan hingga komersialisasi kesehatan adalah bencana!

Seorang perawat yang seringkali menghabiskan waktunya untuk merenung dan menulis.

Leave a Comment

%d bloggers like this: