Dua tahun lalu, saya mengikuti sebuah sesi pengenalan diri. Pada sesi tersebut, saya diminta untuk menuliskan timeline dan peristiwa-peristiwa yang terjadi dari awal saya lahir hingga dewasa. Semua saya tuliskan pada kertas, mulai dari pengalaman masa kecil saya yang berkarir dalam bidang akting, masa-masa mengalami perundungan, hingga akhirnya saya lebih bisa mencintai diri sendiri dan mengalami peningkatan dalam hal kepercayaan diri.

Dari sekian banyak peristiwa yang saya tuliskan pada kertas tersebut, ditemukan sebuah pola yang selama ini saya jalani selama berkehidupan. Pola tersebut dikenal dengan istilah conditional love atau cinta bersyarat untuk memenuhi ekspektasi dari relasi yang saya miliki.

Saya teringat bahwa para perempuan harus bersikap lebih tomboy, menyukai tontonan-tontonan yang dicap lebih ‘maskulin’, seperti acara Smack Down (acara tersebut di masa kejayaannya), dan menyukai permainan yang tidak terkesan feminin agar diakui oleh kelompok pertemanan yang kita inginkan. Pada masa itu, saya bukanlah seseorang yang bisa memenuhi persyaratan-persyaratan yang diberikan, bahkan saya hanya menyebutkan nama-nama atlet yang terbesit di kepala saya agar terkesan mengerti.

Saya yang lebih mengidentifikasi dengan hal-hal yang dikenal sebagai feminin pun semakin tidak bisa menyesuaikan dengan kelompok bermain tersebut dan saya pun tidak dapat menyesuaikan diri meskipun membohongi sendiri. Sehingga, saya pun mulai dijauhi oleh kelompok pertemanan tersebut dan dari situ saya mulai belajar untuk meluangkan waktu sendiri.

Namun, mengulas balik peristiwa tersebut, saya melihat suatu tindakan yang mendemonisasi perilaku feminin, seakan-akan femininitas merupakan suatu hal yang buruk sedangkan sikap maskulinitas lebih beresonansi dengan nilai-nilai patriarki.

Saat saya masih di sekolah dasar adalah dan aktif dalam dunia akting, satu persatu teman-teman saya mulai menjauh dan bahkan secara terang-terangan menyatakan ketidakinginan untuk menjalin pertemanan dengan saya karena kegiatan yang saya lakukan. Saya pun semakin terbiasa untuk menyendiri dan menangis setiap hari selama satu semester di kelas 4 SD. Ada sebuah kondisi dimana saya harus melakukan hal tertentu untuk dapat diterima oleh pertemanan kita, sehingga ketika kita tak melakukannya maka kita akan dijauhi.

Baca:  39 dan Lajang

Kejadian-kejadian tersebut membuat saya semakin menutup diri. Saya semakin takut untuk menjadi berbeda dan menunjukkan diri saya yang lebih sebenarnya. Sejak kecil saya ingin sekali diterima di lingkungan saya berada dan tidak jarang saya juga melakukan berbagai untuk menyesuaikan diri dengan dimana saya berada, bahkan beberapa kali menggunakannya sebagai survival mode.

Dari situ saya melihat adanya pola ‘cinta bersyarat’ ketika saya mencari validasi dari pertemanan saya. Konsep ‘cinta bersyarat’ terjadi apabila seseorang harus meraih cinta dari orang lain dengan memenuhi suatu ekspektasi yang diekspresikan. Pemenuhan ekspektasi tersebut dibalas dengan afeksi maupun penerimaan dari orang tersebut.

Orang yang harus memenuhi syarat yang diberikan merasa dirinya tidak cukup, cemas dan khawatir apabila ia tidak dapat memenuhi apa yang dipersyaratkan terhadapnya. Konsep ini bisa terjadi dalam hubungan apapun dan dengan siapapun, bisa terjadi antara orang tua dan anak, bahkan dalam hubungan romantis dimana satu pihak harus memenuhi ekspektasi pasangannya meskipun dirinya tidak nyaman untuk melakukan dan memenuhi persyaratan tersebut. Hal ini berakibat pula pada seseorang yang merubah dirinya untuk memenuhi ekspektasi orang-orang yang berinteraksi dengannya dan bisa berujung pada orang tersebut merasa kehilangan jati dirinya.

Lalu, bagaimana caranya agar kita bisa dicintai dan diterima tanpa adanya syarat? Pada dasarnya, orang-orang yang memang mencintai kita tanpa adanya syarat adalah orang-orang yang menerima kita apa adanya tanpa ekspektasi apapun. Untuk melihat siapa saja orang tersebut, kita harus menjadi diri kita sendiri.

Klise, memang, namun kita juga melihat bahwa semakin sering kita mengekspresikan diri apa adanya, orang-orang yang mengambil manfaat dari kita yang menyembunyikan jati diri pun akan pergi. Orang-orang yang hanya datang kepada kita hanya untuk hal-hal tertentu pun juga semakin sedikit. Kita juga melihat bahwa kita tidak perlu banyak orang yang harus mencintai kita apa adanya dan kita tidak harus diterima oleh banyak orang.

Baca:  Kami Bukan Anak Durhaka, Hanya Saja Kami Ingin Bahagia

Dengan pemahaman ini pun kita dapat berhenti untuk hidup demi validasi orang lain dan melepas diri dari tuntutan harus disukai oleh banyak orang. Dengan tidak menaruh penilaian diri pada orang lain pun adalah cara kita dapat terlepas dari pola cinta bersyarat. Semakin kita mengetahui apa yang kita suka dan toleransi, semakin mudah kita menentukan Batasan sejauh apa kita berusaha untuk membangun hubungan dengan orang lain dan kapan kita bisa meninggalkan hubungan tersebut apabila sudah mengancam ketenteraman diri.

Merupakan seniman multidispliner yang mengangkat isu-isu hak
perempuan dan LGBTQ+ dalam karya-karyanya. Natasya dapat ditemukan melalui akun Instagram @natasyafilarais.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *