Kita Hanya Ingin Didengar, Bukan Diceramahin

Setiap orang tentu memiliki seseorang atau beberapa orang teman terbaik dalam hidupnya. Tentunya apa yang menjadikan seseorang sahabat adalah upaya dan sikapnya untuk saling memahami sikap dan sifat satu sama lainnya.

Sebagai teman terdekat seharusnya sudah tidak asing harus berbuat seperti apa jika kita terlihat berbeda dari yang seperti biasanya. Seperti contoh, ketika saya tengah merasakan tak semangat dan bergairah karena suatu permasalahan di kampus, cara yang mudah untuk mengembalikan semangatku hanya dengan mengajakku ke kafe favorit kita bersama.

Ada kalanya pula kita dapat menyesali kehidupan sendiri, seperti merasa tak berharga, tak berguna dan tak bermakna. Tentunya kita juga butuh teman yang dapat berempati pada kita. Namun yang ada mereka malah berkata, “Kamu kurang bersyukur, coba banyakin berdo’a dan memohon ampun sama Tuhan. Masih banyak loh yang gak seberuntung kamu..”

Sialan! Kalian ini sahabat atau tukang ceramah sih?

Tidak semua orang yang sedang bersedih ingin mendengar ceramah atau nasehat. Kita hanya menginginkan pendengar yang baik sehingga kita bisa meluapkan amarah dan kesedihan kita. Membicarakan masalah bisa menjadi jalan terapi bagi beberapa orang.

Tak dapat dipungkiri bahwa bagi beberapa orang, berhubungan dengan Tuhan itu sangatlah penting. Tetapi, bukankah hal tersebut hak prerogatif seseorang? Mengingatkan boleh tapi bukan mengatur.

Untuk urusan depresi, tak perlulah membawa Tuhan untuk menyelesaikan masalahnya. Beruntunglah kamu jika bisa merasa langsung tenang jika berhadapan dengan tuhan. Tetapi Tuhan menciptakan mahluknya berbeda-beda sehingga penyelesaiannya dalam menghadapi suatu masalah pun berbeda-beda, karena masalah kesehatan jiwa bukanlah hal yang sepele.

Akan lebih baik lagi, jika seorang sahabat lebih dulu mendengarkan dan mengedepankan empati daripada memberi ceramah dan nasehat yang tak diminta. Kita bisa mulai menanggapi teman kita yang sedang bersedih dengan menanyakan bagaimana perasaannya dan hal apa yang bisa membuat tenang. Kita juga bisa menawarkannya untuk menemani mencari bantuan karena tidak semua orang memiliki kapasitas untuk mendapatkan jalan keluarnya.

Baca:  Mendesak Negara Tak Abai Melawan COVID-19

Sebagai teman bicara yang senantiasa mendengarkan, kita dapat memposisikan diri di posisi teman kita yang sedang merasakan perasaan negatifnya dengan turut mengakui adanya perasaan negatif. Dengan membantu teman kita mengakui perasaan negatifnya, kita sebenarnya tengah membantunya untuk mulai perlahan menerima dan berdamai dengan kenyataannya.

Tak mudah untuk melewatinya bukan?

Perlu diketahui pula, toxic positivity adalah upaya memukul rata bahwa untuk semua perasaan negatif, obatnya adalah berfikir positif. Sebagai dampaknya perasaan negatif seakan ditolak, tidak diakui, bahkan disalahkan. Hal ini sangat menyakitkan, makanya disebut toxic atau beracnu walaupun pesan yang disampaikan adalah hal yang positif.

Ceramah atau nasehat yang tidak diminta bisa membuat kami merasakan bahwa kesedihan kita itu tidak nyata, sehingga eksistensi perasaan kita tak diakui.

Kalimat positif yang hendak dipaksakan ini dapat membuat teman kita semakin merasa kesepian dan tak didengar. Tak jarang teman kita akan berpikir kembali bahwa semua permasalahan ini berawal dari dirinya.

Merasakan perasaan negatif seperti sedih, marah, kecewa, dan takut adalah hal yang sangat wajar dan valid. Jika perasaan negatif seperti itu dilarang, maka hanya akan memendam rasa sakit yang bisa menjadi trauma atau luka batin yang lebih susah disembuhkan. Karena hidup tak selamanya bahagia.

Jika kita berpura-pura terlihat bahagia hanya untuk terlihat kuat, kita hanya membohongi diri kita sendiri.

Tentunya setiap masalah memiliki hikmahnya, tapi belajar menerima kesedihan juga mampu membuat kita makin dewasa menghadapi masalah. Oleh karenanya kita tak boleh menyingkirkan perasaan tersebut.

Setiap orang pernah merasakan sisi gelap atau kesedihan masing-masing dalam hidupnya, dan tentu tidak semua orang menanggapinya dengan cara yang sama. Ada yang kuat dengan tak cerita ke siapa-siapa, ada yang baru merasa kuat saat cerita ke sahabatnya sendiri, dan ada juga yang baru merasa lega setelah ia menangis dengan kencang.

Baca:  Anak Perempuan Butuh Panutan Yang Lebih Beragam

Tak jarang banyak orang selalu menyamakan cara dan pendekatan yang mereka lakukan untuk menyelesaikan permasalahan kita karena mereka merasa bahwa mereka juga pernah mengalaminya. Setiap orang punya perasaan dan cara yang berbeda.

Melontarkan kata-kata semangat untuk sahabat tersayang kalian yang sedang tak bergairah hidupnya itu memang bagus. Maksudnya sih memang untuk menyemangati, tapi bisa juga dapat terasa tak dihargai keberadaannya.

Bisa jadi temanmu ini hanya membutuhkan empati dan simpati dari kalian saja dan tidak membutuhkan kata-kata penyemangat untuk membuat dirinya bangkit kembali. Jika kamu memang benar-benar perduli dengan temanmu, ada baiknya tak meniadakan perasaan tersebut bukan.

Keperdulianmu hanya perlu ditujukan dengan memberinya pelukan yang menenangkan sekaligus menjadikan dirimu tempat bersandar tatkala ingin menangis.

Mahasiswi di UIN SMH Banten. Sedang berusaha aktif mencerna ilmu tentang feminisme di Women’s March Serang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *