5 Alasan Kenapa Kamu Lebih Suka Drama Korea

Sebagai peminat drama pertikaian, saya tentu amat menggemari sinema berseri yang memiliki jalan cerita menarik. Durasi episode yang tak teralu panjang, hingga alur cerita yang jelas adalah referensi saya untuk memilah sinema berseri. Menonton drakor (drama korea) adalah teman terbaik selama karantina mandiri saat pandemi. 

Kalau kamu memiliki kebiasaan bergadang demi nonton oppa kesayangan, berarti kamu akan setuju dengan pendapat saya bahwa drakor jauh lebih menarik daripada sinetron Indonesia. di artikel ini kita akan bahas kenapa drakor jauh lebih menarik dari sinetron dalam negeri? Apa karena milenials terkikis budaya asing? Erosi kali ah terkikis.

Sebelum kita mulai, saya mendedikasikan tulisan ini untuk mamak saya yang jadi lebih mencintai drakor. Makasih oppa, uang jajan jadi naik.

Semua berawal dari maraknya televisi yang menayangkan ulang beberapa serial hits drakor, seperti The World of the Married hingga Touching Your Heart. Semua stasiun televisi saling rebut perhatian, berlomba-lomba tampilkan drakor paling romantis agar rating kian menanjak.

Mamak semula gemar menonton sinetron, perlahan mulai penasaran dengan alur cerita drakor yang saya sukai. Beliau kini semacam tersihir oleh alur bercerita yang baik dan terperinci seperti the world of the married. Ini adalah 5 alasan kenapa drakor lebih layak tonton daripada sinetron.

  1. Alur cerita yang fokus

Tentu hal ini menjadi faktor paling besar kenapa drakor lebih menyenangkan daripada sinetron Indonesia. ya, mereka sangat fokus dengan alur cerita yang sudah dibangun dari awal. Jalan cerita yang tidak menyebar menghindarkan penonton dari kebosanan, dan pembodohan. Sinetron Indonesia memiliki alur yang sama sekali tidak konsisten, meluas, dan tak ada tujuan. Penulis naskah sinetron kita seakan merancang cerita kehidupan orang satu pulau, sehingga baginya tak apa jika jalan cerita diperluas pada karakter-karakter pendukung lain.

Baca:  Feminisme Adalah Masa Depan Perempuan Akhir Zaman

Sinetron ‘Raden Kian Santang’ misalkan, ia tak hanya bercerita tentang Raden Kian Santang sebagai karakter utama, ia juga bercerita tentang musuhnya, buyutnya, musuh dari buyutnya, dan buyut dari buyutnya juga. Padahal penonton hanya ingin tahu tentang bagaimana kisah hidup rade kian santang dengan singkat dan menarik, bukan sodara setanah air.

  1. Tidak membunuh logika penonton

Kalian harus setuju dengan hal ini, walaupun di beberapa jenis drakor seperti fantasi yang mengedepankan khayalan, logika sebab musabab bertemunya tiap karakter tak sekonyol tertabrak lalu jatuh cinta. Drakor jauh lebih bisa menghargai logika penontonnya. Sinetron menganggap penontonnya tidak memiliki logika. 

Betapa kita banyak melihat adegan orang tersakiti yang diam saja tak melawan lalu berdoa kepada Tuhan. Oh, dan adegan favorit semua orang, bertabrakan lalu jatuh cinta. Yag pada kenyataannya jika kita nabrak orang yang tentu kesal. Drakor lebih menghargai proses kehidupan, dan itu tergambar jelas pada jalan cerita ditiap adegan. 

Sinetron berusaha membunuh logika dan proses kehidupan. Alhasil adegan-adegan instant seperti bantuan segera datang setelah berdoa, pasti akan sering kita jumpai pada scene sinetron Indonesia.

  1. Karakter dalam drakor tetap sebagai manusia

Selain membunuh logika penonton, sinetron juga enggan merepresentasikan karakter dalam sinetron sebagai manusia. Setiap karakter antagonis akan selalu jahat, paling berkuasa dan tak ada yang bisa menghentikannya. Layaknya setan atau iblis yang tak pernah berbuat baik. Begitupun sebaliknya.

Hal tersebut tak akan kamu jumpai pada drakor, mereka masih menyuguhkan manusia sebagai karakter bercerita. Baik antagonis maupun protagonist, mereka masih mempunyai kebaikan dan kejahatannya sendiri. Representasi sempurna untuk manusia yang tidak sempurna.

  1. Berapa episode? Belasan!

Beberapa diantara kalian pasti muak dengan episode ratusan sinetron kita. Sutradara sinetron seperti enggan menerima kenyataan bahwa masa-masa syuting dan panen uang dari hasil sponsor akan berakhir. Maka dari itu banyak diantaranya memilih untuk memperpanjang episode, meskipun ceritanya berubah ngalor-ngidul. Yang paling penting adalah rating, cuan dan kebiasaan syuting barangkali. 

  1. Tak ada badut sinetron
Baca:  5 Alasan Kenapa Feminis Harus Berhenti Memakai Produk Perusak Lingkungan

Apakah kamu pernah melihat sosok karakkter mirip (pemeran premet) atau daus mini dalam sinetron aladin pada drakor? Ya, tentu tak ada. Mereka lebih memilih fokus pada beberapa karakter pendukung cerita yang memiliki andil besar di dalamnya.  

Karakter yang tak mendukung keberadaan tokoh utama, namun memiliki porsi serupa ini berfungsi untuk menambah keajaiban jalan cerita sinetron. Tokoh-tokoh ini diharapkan mampu menghibur penonton akan kebosanan alur cerita yang sudah kemana-mana. Padahal apa yang mereka lakukan, justru nambah ambyar cerita sinetron tersebut.

Sinetron Indonesia memang lebih mengutamakan keuntungan daripada memperbaharui karya. Tontonan yang baik akan melahirkan generasi anti drama receh. Ada baiknya jika pekerja sinetron yang membaca tulisan ini merasa berkaca, dan segera memperbaiki kualitas sinetron mereka. Bukan menambah kuantitas episodenya.

Reka Kajaksana atau lebih dikenal dengan Soerere adalah  perempuan berusia 23 tahun yang jatuh cinta pada dunia tulis sejak ia mengenal buku harian. Kecintaannya pada menulis menghantarkan ia pada dunia jurnalistik. Pewarta online dan buruh retail ini juga aktif dalam lingkar belajar perempuan.

Leave a Comment

%d bloggers like this: