Kegagalan Neoliberalisasi: Eksploitasi Tenaga Kesehatan Perempuan

Tenaga medis yang berada di garda terdepan melawan COVID-19 kini sedang bertarung mati-matian untuk dapat bertahan hidup. Belum lagi dengan tenaga medis di Indonesia bahkan di dunia yang kini didominasi oleh perempuan. Berdasarkan Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) 2016 yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik, perempuan mendominasi sektor kesehatan sebanyak 67.5 persen.

Di Amerika, berdasarkan Biro Sensus Amerika Serikat, 76% sektor kesehatan diduduki oleh perempuan. Menurut sumber yang lain, Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization), total tenaga kesehatan dunia diisi oleh perempuan sebanyak 70%. Hal ini menunjukkan perempuan lah yang paling banyak merawat pasien secara langsung, terutama di tengah pandemi Covid-19 yang mengglobal ini.

Kini, perempuan menghadapi beban yang berlapis-lapis. Ketika di tempat kerja ia harus berjuang bersama pasien untuk melawan Corona, ia juga masih dibebani dengan tugas rumah tangga. Pekerjaan rumah tangga yang sifatnya merawat masih dilakukan oleh perempuan. International Labour Organization (ILO) mengeluarkan laporan pada tahun 2018 bahwa perempuan menghabiskan 76.2 persen waktunya untuk melakukan kerja perawatan yang tidak dibayar, terutama di negara-negara Asia, perempuan menghabiskan sekitar 80 persen untuk merawat keluarganya.

Dari rangkaian data di atas, kerentanan tenaga medis perempuan di tengah pandemi global dapat tergambarkan. Tidak hanya rentan, tenaga medis perempuan memiliki kemungkinan besar untuk dapat menularkan virus ini ke anggota keluarganya yang lebih rentan, seperti ke pada anak atau orang tua yang ada di rumah mereka karena perempuan lebih dekat dalam mengurus anggota keluarganya.

Maka tidaklah heran jika kamu menemukan video yang beredar di media sosial, menggambarkan tenaga medis perempuan mengeluhkan minimnya perlindungan untuknya. Adalah Imaris, seorang perawat perempuan yang mengunggah videonya tengah menangis setelah ia memutuskan untuk mengundurkan diri dari rumah sakit karena takut menulari anggota keluarganya yang memiliki pre-existing condition atau kondisi bawaan yang membuat mereka lebih rentan dan berdampak jika terinfeksi Covid-19. Imaris, tentunya, bukan satu-satunya perawat yang memutuskan hal demikian.

Kerja-kerja yang tak kunjung usai (dan tak kunjung terbayarkan) milik perempuan

A woman’s job is never done (pekerjaan perempuan tak pernah usai) merupakan sebuah kiasan yang menggambarkan bagaimana perempuan diharuskan untuk bekerja tanpa kenal waktu. Tugas perempuan kerap kali diasosiasikan dengan “kodrat” yang berpusat pada sumur, dapur,  dan kasur. Perempuan diharuskan untuk melayani dan merawat keluarganya hingga melayani keluarga suaminya. 

Pekerjaan perawatan lazim dilekatkan dengan pekerjaan domestik yang tak berbayar, yang biasanya dibebankan pada perempuan. Dalam bukunya The Second Sex, Simone de Beauvoir menjelaskan bila sepasang perempuan dan laki-laki hidup dan tinggal bersama dalam satu rumah, maka perempuan tersebutlah yang harus dan akan mengerjakan pekerjaan domestik dengan bagian yang lebih banyak.

Selain merawat pasangannya, perempuan diharapkan untuk merawat generasi yang lebih tua dan juga yang lebih muda dalam rumah tangganya; anak-anak, mertua, maupun orang tuanya. Beban kerja mereka tentu saja tak berhenti, dan banyak dari beban tersebut tak terbayar karena tak dapat dimonetisasi. Kerja perawatan tersebut pun diromantisasi menjadi sebuah bentuk “pengabdian”, “bakti”, maupun “cinta” dari seorang perempuan terhadap keluarganya.

Dari artikel New York Times yang ditulis oleh Claire Cain Miller, menyatakan bahwa pekerjaan dan juga bidang studi yang biasanya ditekuni oleh perempuan merupakan area bergaji rendah, meskipun bidang tersebut dulunya didominasi oleh laki-laki.

Miller mengutip Paula England, seorang profesor sosiologi di New York University yang menyatakan bahwa bias gender menyelinap dalam fondasi penentuan penggajian pekerja, karena pekerjaan tersebut menjadi terlihat tak lagi rumit dan penting bila diambil alih oleh perempuan.

Tidak hanya itu, England juga mengemukakan hasil penelitiannya yang menyebutkan bahwa sekalinya sebuah bidang pekerjaan didominasi oleh laki-laki, maka bidang tersebut akan memanen prestise, sebuah fenomena yang bertolak belakang bila pekerjanya ialah perempuan. Ia mencontohkan bidang studi dan pekerjaan teknik informatika, yang kini bergengsi dan bergaji amat tinggi setelah didominasi oleh laki-laki. Belum lagi, perempuanlah yang akan menyesuaikan karir laki-laki dari area dan tempat tinggal karena laki-laki digaji lebih tinggi. 

Kerentanan tenaga kesehatan perempuan

Pavija Kavilanz dalam artikelnya menuliskan bagaimana pengupahan dan dominasi gender pada profesi dokter di Amerika Serikat, Kim Templeton, salah seorang narasumber, menyebutkan bahwa alasan dokter perempuan digaji lebih rendah adalah karena frekuensi mereka bertemu dengan pasien tidak sesering rekan profesi mereka yang laki-laki, karena dokter perempuan akan menghabiskan lebih banyak waktu untuk mengurus anak dan keluarga.

Baca:  Naik Angkot di Ibu Kota, Menyelami Permasalahan Kaum Miskinnya

Fatima Stanford, salah seorang dokter yang juga dijadikan narasumber berpendapat bahwa ketidakadilan gender dalam hal gaji akan menyebabkan banyak perempuan meninggalkan profesi ini. Nampaknya, salah satu alasan untuk bertahan adalah karena terdapat kekurangan tenaga dokter di negara ini. Di Rusia, profesi ini dipenuhi oleh perempuan dan gaji yang ditawarkan juga amatlah sedikit. 

Dikarenakan dengan beban-beban pekerjaan yang mesti dipikul perempuan, banyak juga perempuan yang secara sukarela memilih pekerjaan yang digaji rendah, hanya untuk mengisi waktu luang dan menambah penghasilan karena masih terbebani oleh tugas domestik. Atau mencari bidang studi yang akan memudahkan mereka mencari pekerjaan yang dapat menyesuaikan kerja-kerja domestik.

Menjadi dokter juga menjadi salah satu pilihan, karena dapat membuka praktek di rumah saja atau bertugas di puskesmas terdekat. Secara keseluruhan, pekerjaan apapun yang dilakukan oleh perempuan, akan digaji lebih sedikit, dengan prestise yang lebih rendah.

Beberapa beban ganda yang dialami oleh tenaga kesehatan perempuan tentu saja tidak dapat dialami oleh tenaga kesehatan laki-laki. Sebagai contoh, artikel ini menampilkan kisah perawat Afit yang memompa ASI (air susu ibu) ketika mengemban tugas untuk merawat pasien wabah virus COVID 19.

Tentu saja kasus yang dialami perawat Afit bukanlah kasus tunggal. Ada banyak dokter, perawat, bidan, maupun apoteker yang harus melakukan hal demikian di kala tenaga mereka sedang dibutuhkan dalam sewaktu-waktu akibat wabah ini. Imbasnya, tenaga medis ini amat rentan eksploitasi dan juga paparan bencana wabah, terutama tenaga medis perempuan.

Kerentanan ini tentunya bukan dijadikan alasan untuk mengeksploitasi tenaga kesehatan perempuan maupun tidak mempekerjakan mereka, justru dijadikan aspek pertimbangan untuk menjadikan profesi di bidang kesehatan lebih ramah gender. Lebih jauh, kebijakan politis yang berpengaruh pada dunia medis harus memperhatikan efek yang harus dipikul oleh tenaga kesehatan perempuan, yang masih memiliki beban domestik dan beban perawatan seusai mereka pulang kerja.

Ketidakterlibatan perempuan dalam pembuatan kebijakan merupakan sebuah tindakan yang tak hanya diskriminatif, tetapi juga berpeluang untuk melanggengkan norma yang tak adil gender di lingkungan pekerjaan.

Tenaga kesehatan perempuan di luar negeri

Data dari BPN2TKI tahun 2014 menyebutkan bahwa terdapat 1235 perawat Indonesia yang bekerja sebagai perawat dan juga pengasuh (caregivers) (Efendi, Chen, Nursalam, Indarwati, & Ulfiana, 2016). Jepang juga telah memberikan status legal dan residensi bagi perawat-perawat Indonesia dan juga negara-negara ASEAN lainnya. Meskipun menerima perawat asing tidak begitu disepakati oleh aktor-aktor internal di Jepang, pemerintah Jepang mengakomodasi mereka dengan beberapa ketentuan (Matsuno, 2009 & Sato, 2006; dalam Efendi, Chen, Nursalam, Indarwati, & Ulfiana, 2016).

Banyak dari lulusan akademi keperawatan yang dipenuhi oleh perempuan mengadu nasib ke Taiwan. Sebanyak 597 perawat Indonesia berada di Taiwan untuk bekerja pada data di tahun 2013. Banyak dari mereka akhirnya berakhir menjadi pengasuh atau care workers (Nursalam, et al., 2020).

Indonesia memiliki banyak lulusan dari berbagai akademi keperawatan, dan keberangkatan mereka ke negara-negara maju untuk bekerja merupakan sebuah fenomena brain drain atau kehilangan tenaga terdidik. Selain karena migrasi ke negara-negara maju, tenaga kesehatan yang jumlahnya tak seberapa ini mesti meregang nyawa untuk menyelamatkan jiwa pasien. 

Rekrutmen perawat asing dari negara berkembang merupakan sebuah strategi sederhana dan cepat bagi negara-negara dengan populasi yang menua, yang rata-rata merupakan negara maju (Efendi, Chen, Nursalam, Indarwati, & Ulfiana, 2016). Mereka tinggal berinvestasi saja di negara yang memiliki biaya hidup yang murah dengan tenaga yang muda, mudah, dan murah pula.

Liberalisasi perdagangan, globalisasi, serta intensitas frekuensi perjalanan internasional jelas mengakomodasi strategi ini. Semua berawal dari ketiadaan pasar bagi tenaga-tenaga perawat ini di negeri kita sendiri serta minimnya pendanaan bagi sektor kesehatan nasional.

Dalam pandemi ini, kami tidak menemukan artikel manapun yang melaporkan tentang kondisi-kondisi perawat dari negara berkembang yang bekerja di rumah sakit di negara maju di tengah pandemi COVID 19, entah dari Filipina, Indonesia, maupun Vietnam. Bagaimanakah kondisi mereka? Apakah mereka dipulangkan ke negara masing-masing? Apakah mereka juga berada di garda terdepan menghadapi pandemi COVID 19?

Baca:  Bukan Penis Envy, tapi Womb Envy: Perlawanan Karen Horney terhadap Pandangan Misoginis

Minimnya Fokus Pemerintah Terhadap Sektor Kesehatan

Sistem kesehatan kita memang tidak sanggup dalam menangani wabah ini. Terutama ketika sistem kesehatan masih sangat minim anggarannya. Begitu pula dengan negara-negara yang tidak menganggarkan sektor kesehatan mereka seperti ketika NHS – layanan kesehatan nasional milik Inggris yang menurunkan pengeluaran untuk kesehatan di tahun 2009-2015. Mereka menurunkan anggaran kesehatan mereka hingga seperempat anggaran kesehatan pada periode pemerintah sebelumnya yaitu tahun 1996-2010.

Begitu pula dengan penurunan anggaran sistem kesehatan Amerika Serikat, sehingga kekurangan sumber daya manusia dan sistem yang mendukung. Ia memangkas anggaran untuk CDC – Pusat Kontrol dan Pencegahan Penyakit. Dan kini Amerika menduduki peringkat pertama jumlah kasus Covid-19 yang terkonfirmasi yaitu sekitar 1,850,000 kasus melampaui negara Tiongkok yang berada di sekitaran 80,000 kasus.

Pengamatan yang dikeluarkan oleh PerupaData sejak 17 Januari,  Indonesia terus menyangkal akan masuknya virus Covid-19, hingga akhirnya sekarang kelabakkan. Daripada melakukan pencegahan, pemerintah malah menggelontorkan 72M rupiah untuk membayar influencer asing agar berlibur ke Indonesia untuk meredam isu corona.

Fokus pemerintah terhadap sektor kesehatan pun makin tak terlihat tatkala iuran BPJS tak kunjung diturunkan karena belum ada terbitan Perintah Presiden. Pemerintah khawatir bahwa ekonomi akan berhenti dalam seketika. Sedangkan rumah sakit perifer yang berada di daerah terpaksa mencari inisiatif kepada pabrik garmen untuk menjahit APD sendiri.

Hal ini dituturkan oleh Reka Kajaksana, pemilik dari Sri Garment, Gresik, Jawa Timur. Reka menyatakan bahwa konveksi skala kecil dan besar berinisitaif untuk memproduksi hazmat suite dan masker kain. Namun sayangnya mereka dijual bebas tanpa pengawasan.

Minimnya upaya pencegahan dari pemerintah menunjukkan bagaimana negara membebankan kerja perawatan kepada keluarga masing-masing. Hal ini sesuai dari pandangan Nancy Fraser, dengan kapitalisme finansial, tanggung jawab kerja perawatan dibebankan kepada anggota keluarga perempuan baik sebagai ibu atau sebagai anak.

Kerja perawatan perempuan yang merupakan kerja reproduksi kemudian tidak dianggap dan tidak berbayar atas nama cinta dan kodrat. Adanya RUU Ketahanan Keluarga makin menunjukkan bentuk eksploitasi kerja-kerja perempuan. 

Meningkatnya jumlah perempuan dalam profesi kesehatan memang tidak membawa banyak perubahan ke dalam sistem kesehatan jika kesehatan kita masih sangat minim pendanaan. Belum lagi dengan buruh tenaga medis yang seringkali masih mendapatkan upah yang jauh dari kelayakan hidupnya.

Adanya perempuan yang memenuhi profesi kesehatan justru menunjukkan bahwa kapitalisme bergerak dalam mengeksploitasi kerja perawatan perempuan dalam hal ini termasuk tenaga medis perempuan. Adanya anggapan bahwa perempuan lebih nurturing mengakibatkan kerja perawatan perempuan tak dihargai dan tak diupah semestinya.

Alhasil, sektor kesehatan yang dipenuhi oleh perempuan jarang menjadi fokus negara dalam membangun kesehatan warganya. Belum lagi dengan minimnya situasi kerja yang ramah gender serta budaya patriarkal yang menyulitkan tenaga medis perempuan untuk bernegosiasi dengan pasangannya dalam mengurus rumah tangga

Pada akhirnya sektor kesehatan menjadi terprivatisasi karena minimnya anggaran negara terhadap kesehatan terutama untuk pencegahan. Pencegahan yang seharusnya menjadi moda utama sektor kesehatan pun terabaikan karena dianggap tidak menghasilkan uang, otomatis fokus kesehatan hanya berpusat pada tindakan kuratif karena dianggap menghasilan keuntungan. 

Sektor kesehatan seharusnya menjadi fondasi dan investasi utama untuk menjamin kesejahteraan rakyatnya, dan pencegahan seharusnya menjadi moda utama sistem kesehatan itu sendiri agar bisa meminimalisir dampak dari Covid-19. Roda perekonomian pun tidak akan jalan jika masyarakatnya tidak memiliki sistem kesehatan yang mumpuni.

Kalau kata Chandrahekar Rao, kepala pemerintah Telengana di India, “Kita bisa menghidupkan ekonomi kembali, tapi kita tidak bisa menghiduplan orang mati.”

Seorang feminis Jawa yang sesekali melakoni sebagai dokter gigi serta melawan segala ketidakmungkinan untuk menemukan cinta, kehidupan, dan semangat hidup.

Leave a Comment

%d bloggers like this: