Apakah Feminis Harus Bisa Angkat Galon?

“Kalau kamu seorang Feminis dan menginginkan kesetaraan mengapa tidak menggantikan tugas laki-laki mengangkat galon?”Argumen tersebut dikatakan oleh teman laki-lakiku saat aku masih duduk di bangku kuliah. Setelah mendengar argumen tersebut jawabanku pada saat itu adalah mengenalkan perbedaan tubuh laki-laki dan perempuan.

Terkadang orang-orang salah kaprah membedakan antara gender dan jenis kelamin. Gender adalah perbedaan peran laki-laki dan perempuan yang telah ditetapkan masyarakat sosial sesuai norma dan budaya, adat istiadat, kepercayaan atau kebiasaan masyarakat, sedangkan jenis kelamin adalah perbedaan biologis tubuh laki-laki dan perempuan.

Saat masih belajar tentang Feminisme di bangku kuliah aku seringkali dianggap perempuan yang suka marah-marah. Feminisme membuatku sadar akan eksistensi perempuan. Tentunya seorang perempuan yang  telah mengetahui bahwa perempuan rentan terkena pelecehan seksual, pasti akan kesal dan marah ketika mendapati saudarinya mengalami kekerasan

Aku sering meluapkan kemarahanku di media sosial, tidak dengan kata-kata kasar namun dalam bentuk cerita pribadi, cerita orang di sekitarku yang tak kusebutkan namanya, lalu diakhiri dengan kritik-kritik yang tajam.

Aku juga mulai bersuara jika ada temanku yang melakukan body shaming atau perisakan pada bentuk tubuh seseorang. Pernah suatu ketika aku mendengar teman perempuanku mengomentari payudara perempuan lain dengan negatif, katanya payudaranya besar banget. Spontan aku marah dan berkata, “Kalian tahu Slut Shaming gak? Itu tuh ngomentarin tubuh perempuan dengan negatif. Sebenarnya dia juga gak minta payudaranya gede kayak gitu. Buat apa punya payudara gede kalau dikomentarin negatif coba?”

Sifat pemarah, tegas, lantang, bukanlah karakter seorang peremuan yang “seharusnya” dalam pandangan lelaki. Aku adalah orang yang tidak suka dandan, tidak suka fashion, suka tertawa terbahak-bahak dan banyak lagi yang tidak mencerminkan sifat seorang perempuan yang dianggap “seharusnya”. Stereotipe negatif yang saya terima sebagai feminis terus berdatangan ditambah dengan seringnya aku marah-marah di media sosial.

Baca:  Melawan Sistem dengan Suara Kesetaraan

Ketika aku disebut seorang Feminis, teman laki-lakiku sepertinya berekspektasi bahwa seorang Feminis seharusnya berlagak seperti laki-laki. Kira-kira ada teman laki-lakiku yang mengomentari carakku berteriak, “kok kamu teriaknya kayak cewek banget, sih?”. Akhir-akhir ini sepertinya aku mendapatkan jawaban dari semua pengalamanku sewaktu itu.

Dikutip dari buku The Second Sex yang ditulis ole Simone de Beauvoir tentang eksistensi perempuan serta sejarah opresi terhadap perempuan. Beauvoir menuliskan di halaman 15 bahwa:

“The terms masculine and feminine are used symmetrically only as matter of form, as on legal paper. In actuality the relation of the two sexes is not quite like that of two electrical poles, for man represents both positive and neutral, as if indicated by the common use of man to designed human being in general, whereas woman represents only the negative, defined by limiting criteria, without reciprocity.”

Hal tersebut bermakna bahwa istilah maskulin yang dimiliki laki-laki bersifat positif dan netral, seperti bagaimana seharusnya seorang manusia pada umumnya, sedangkan istilah feminin yang lekat dengan perempuan bersifat negatif dan mendefinisikan keterbatasan, sehingga dianggap liyan dan aneh.

Tubuh laki-laki dianggap mempunyai kesempurnaan manusia seutuhnya sedangkan perempuan tidak. “Dunia ini sebenarnya milik laki-laki,” kata Beauvoir. Laki-laki berfikir bahwa menjadi manusia adalah menjadi laki-laki. Seperti dalam Bahasa Inggris saja “Man” berarti “Manusia”. Melihat dunia hanya dipenuhi oleh superioritas dan kebakuan laki-laki, sepertinya kita semua menjadi sangat yakin bahwa menjadi manusia adalah menjadi laki-laki, dan laki-laki adalah maskulin.

Dari argumen teman laki-lakiku tentang perempuan feminis harus bisa mengangkat galon menggantikan tugas laki-laki saja sudah terlihat bahwa ekspetasi menjadi seorang feminis itu harus maskulin. Lucunya temanku yang satu lagi berekspetasi cara berteriakku tidak seperti perempuan—yang sebenarnya aku tidak mengerti maknanya apa.

Baca:  Bidadari Penuh Luka

Apakah aku harus membesarkan suaraku seperti laki-laki? Memangnya cara berteriak laki-laki itu seperti apa? Apakah tidak sekalian saja untuk menjadi feminis aku operasi ganti alat kelamin?

Ekspetasi yang tidak masuk akal telah terjadi selama ratusan tahun dan dialami oleh perempuan. Hal tersebut membuat perempuan tertekan dan tidak percaya diri. Menurutku permasalahan tentang kesetaraan itu tidak akan terselesaikan dengan perempuan menjadi maskulin. Padahal mengatakan argumen seperti itu malah terlihat terancam dengan adanya perempuan feminis akan mengambil alih kekuasaan laki-laki.

Jika seseorang memanggilku feminis karena aku bersikap maskulin layaknya laki-laki, tolong jangan panggil aku seorang feminis. Itu berarti kalian akan merendahkan perempuan feminis lain yang bersikap feminin. Seorang feminis bukanlah seorang pesaing laki-laki, seseorang yang ingin merebut kekuasaan laki-laki, karena sebenarnya tidak ada yang perlu berkuasa diantara semua gender, termasuk laki-laki dan perempuan.

Semua gender itu sama dan setara. Jika laki-laki merasa terancam dengan perempuan feminis, ketahuilah kami disini ada bukan untuk meniadakan eksistensi kalian, namun untuk menyadarkan bahwa eksistensi semua gender itu berharga, bahwa kita ada untuk menebar cinta dan kasih kepada dunia.

Seorang manusia yang sedang mencoba untuk mencintai diri sendiri dan orang lain dengan tulus. Menyukai musik dan makanan.

Leave a Comment

%d bloggers like this: