Adakah Cara Menjadi Feminis Kristen?

Sebagai seorang perempuan yang belajar teologi, saya mengenal teologi feminis pertama kali sebagai sebuah mata kuliah di program S1 Teologi. Lantas apakah semua yang mengambil kuliah tersebut menjadi seorang teolog feminis? Tentu tidak.

Saya ingat seorang teman laki-laki yang mengambil kelas teologi feminis baru-baru ini mengatakan kepada saya: “Jangan sekolah mulu Ca, nanti keterusan, nggak nikah-nikah..!” Well, apakah saya harus kesal? Toh saya sadar, sesama perempuan yang mengambil mata kuliah itu pun tidak lantas menjadi seorang perempuan feminis.

Mata kuliah teologi feminis tidak hanya tentang teologi, tetapi juga memberikan informasi tentang pergerakan feminis dari waktu ke waktu, nilai-nilai yang diperjuangkan, dan para feminis yang menjadi figur penting dalam setiap pergerakan tersebut. Tentang teologi feminis, tentu saja kami belajar bahwa teologi dikonstruksi dalam budaya patriarkis dan dipelihara dalam bahasa maskulin.

Memanggil Allah sebagai “Bapa” misalnya, seolah menjadi satu-satunya panggilan Allah, padahal Alkitab memberikan banyak metafora yang merujuk pada feminitas Allah. Kita dapat memanggil Allah sebagai “Ibu,” “sahabat,” dan sebagainya. Toh sebagai manusia yang memiliki rasio terbatas kita tidak dapat mengenal Allah sepenuh-penuhnya. Allah adalah Sang Misteri.

Jika kita terlalu yakin dengan nama Allah yang kita sebut, maka sebenarnya itu bukanlah lagi Allah. Ia tidak lagi menjadi Sang Misteri, tetapi menjadi berhala yang kita ciptakan sendiri.

Lalu bagaimana caranya menjadi feminis Kristen? Belajar teologi feminis tentu perlu, tetapi tanpa kemauan untuk curiga pada budaya patriarki dan bahasa maskulin, kita tidak bisa menjadi seorang feminis Kristen. Kecurigaan ini membuat kita resah dan marah pada ketidakadilan yang kita temui sehari-hari, baik yang dekat maupun jauh.

Misalnya, apakah kita akan marah ketika melihat seorang perempuan dilecehkan di ruang publik? Apakah kita hanya menghormati dan cenderung memilih pendeta laki-laki? Apakah kita diam saja mendengar khotbah yang menjadikan perempuan sebagai yang inferior dari laki-laki? Misalnya, saya pernah mendengar seorang pendeta laki-laki berkhotbah: “Kalau perempuan tidak mau belajar memasak, siapa laki-laki yang mau (menikahinya)?” jadi syarat pertama menjadi seorang feminis Kristen adalah curiga, resah, dan marah.

Baca:  Apakah Transgender itu Pilihan atau Takdir?

Saya adalah anak pertama dan memiliki dua saudara perempuan. Saya belajar teologi, adik yang pertama belajar psikologi, dan yang kedua belajar sosiologi. Tentu hanya saya yang belajar teologi feminis, akan tetapi tidak membuat kedua adik perempuan saya tidak dapat menjadi seorang feminis Kristen.

Kami sering berdiskusi tentang nilai-nilai yang kami percaya dan apa yang kami pikirkan tentang pembagian peran dalam rumah dan dalam masyarakat. Kami mengamati bagaimana orangtua kami dan keluarga lain yang kami kenal mengelola pembagian peran. Selain itu kami bertiga juga memperhatikan pengaruh pembagian peran, ekspektasi kultural, dan pemahaman teologi pada kesehatan mental dan tidak jarang menghasilkan trauma.

Misalnya, jika kita percaya pada Tuhan seperti seorang Bapak yang suka menghukum, maka kemungkinan orangtua akan sering menghukum dan menganggap bahwa hukuman tersebut adalah sebuah tindakan yang sakral. Belum lagi jika ini didukung oleh nilai kultural yang patriarkis, maka pelanggengan kekerasan dalam keluarga menjadi sebuah kewajaran. Dalam hal ini syarat kedua menjadi seorang feminist Kristen adalah membuat interseksi antara berbagai ilmu, jika kamu memiliki keluarga dan teman yang belajar ilmu lain, percakapkanlah topik atau contoh peristiwa yang membuat kalian berkomitmen untuk melawan kekerasan.

Saat ini kekasih saya adalah seorang pendeta. Sebelum kami berpacaran kami bertukar pikiran tentang isu-isu sosial, nilai-nilai dalam masyarakat dan keluarga. Kami juga berdiskusi tentang apa yang kami pikirkan tentang pembagian peran berdasarkan gender.

Suatu hari Ia bercerita setelah selesai berkhotbah diadakan acara makan bersama. Seperti “biasa” pendeta dipersilahkan untuk mengambil makanan, lalu kemudian bapak-bapak menyusul, lalu kemudian ibu-ibu setelah semua bapak selesai mengambil makanan. Akan tetapi ketika dipersilakan mengambil makanan Ia berkata: “lebih baik Ibu-Ibu dulu yang mengambil makanan karena mereka yang telah berjerih payah menyiapkan makanan kita..”

Baca:  Apakah Meneladani Nabi Harus Dengan Poligami?

Mungkin kelak soal mempersiapkan makanan dilakukan oleh ibu dan juga bapak bersama-sama. Akan tetapi apa yang kekasih saya katakan adalah sebuah langkah awal untuk menegaskan bahwa perempuan sudah dan selalu mengambil peran yang penting dalam kehidupan jemaat Kristen. Kekasih saya adalah seorang laki-laki, ia pun adalah seorang feminis Kristen.

Lalu bagaimana caranya menjaadi seorang feminis Kristen? Tidak harus belajar teologi feminis dan tidak harus perempuan, tetapi dengan sadar mau belajar dan bertindak ketika berhadapan dengan ketidaksetaraan. Saya sendiri belajar bahwa menjadi seorang feminis Kristen bukan hanya soal kesetaraan antara laki-laki dan perempuan.

Kultur yang patriarkis dan bahasa yang maskulin membuat kita resah dan marah tetapi merasa saja tidak cukup. Menjadi feminis Kristen berarti menentang perdagangan orang, melawan homophobia, rasisme, ableisme, dan memperjuangkan kelestarian dan kebahagiaan seluruh ciptaan Tuhan. Menjadi feminis Kristen berarti memahami bahasa luka, berani menggunakan bahasa perlawanan, sekaligus menjadi penyembuh yang meneduhkan.

Mahasiswa doktoral dalam bidang Teologi di Drew University. Seorang melankolis yang menyukai air dan pepohonan. Memiliki minat belajar tentang kesehatan mental.

2 thoughts on “Adakah Cara Menjadi Feminis Kristen?”

  1. Selamat malam, maaf mengganggu..
    Saya mau tanya, jadi bahasa2 maskulin yang digunakan dalam Alkitab (con. dalam pemanggilan Allah sebagai Bapa) apakah itu sama saja “merendahkan” wanita? Kalaupun iya, apa respon anda sebagai feminis akan hal itu?
    Terimakasih, maaf mengganggu..

    Reply
    • Halo Edwin. Terima kasih ya untuk pertanyaan yang sangat baik ini. Jawaban dari pertanyaan kamu bisa dibaca ditulisan saya “Bagaimana Cara Feminis Kristen Menghadirkan Tuhan” di Empuan.id. Selamat membaca!

      Reply

Leave a Comment

%d bloggers like this: