Saatnya Feminis Mengecam Produk Dengan Tes Hewan

Kita pasti pernah merasakan rasanya kelilipan atau terkena busa sabun mandi atau sekadar perihnya mata ketika memotong bawang. Sudah pasti rasanya tidak enak sekali. Kita perlu membersihkannya cepat-cepat bahkan kita panik jika masih merasa tidak nyaman. Tapi ternyata, perasaan tidak nyaman itu selalu dirasakan spesies lain.

Lebih dari 80% tikus, kelinci dan hewan lainnya yang selalu dijadikan tes percobaan untuk kosmetik kita. Terdapat sebanyak 100.000 hingga 200.000 hewan yang tersiksa dan mati hanya karena kosmetik yang kita pakai.

Tes yang dilakukan pada hewan berupa memasukan zat kimia korosif ke dalam mata mereka hingga mata mereka memerah. Seperti kelinci dengan Draize-eye test, tubuhnya dikekang ketika zat kimia korosif diteteskan ke mata mereka. Kelinci bisa menjerit kesakitan dan banyak yang mematahkan lehernya hanya untuk mencoba bebas. Mata kelinci yang sensitif dan hanya memiliki sedikit cairan menyebabkan zat kimia sangat bertahan lama di matanya. Zat tersebut dapat menyebabkan rasa sakit yang membakar, menyebabkan peradangan, dan kerusakan jaringan. Tes tersebut tetap dilakukan selama tujuh hari.

Tes lainnya dilakukan pada tikus untuk melakukan tes alergi kulit. Zat kimia tersebut disuntikkan ke kulit. Kemudian selama radiasi dengan sinar UV-A yang mengikutinya, hewan-hewan dikurung selama berjam-jam dalam tabung plastik sempit yang membuatnya mustahil bagi mereka untuk bergerak. Tes tersebut juga menyebabkan stress dan kerusakan jaringan.

Kita bisa melihat bagaimana manusia memandang hewan hanya sebagai objek saja. Hewan dianggap pantas dan tak ada yang salah tentunya, jika dieksploitasi atau “disuruh” berkorban untuk kepentingan manusia.

Dalam perspektif ekofeminisme, kita bisa melihat adanya hierarki yang amat terlihat antara spesies manusia dengan spesies lainnya. Kita memperlakukan tikus dan kelinci seolah-olah dia tidak punya ruh, seolah-olah dia tidak memiliki kepintaran sendiri untuk bermanfaat bagi ekosistemnya, seolah-olah mereka tidak pantas untuk bersenang-senang dengan hidupnya. Hidup mereka dipaksa untuk melayani hidup kita.

Baca:  Perawat Berhak Diperlakukan Setara

Oleh karenanya, sangat disayangkan jika kita masih menggunakan produk yang menggunakan tes hewan (animal testing), padahal kita selalu menggaungkan slogan anti kekerasan. Secara tidak langsung, kita berkontribusi pada tersiksanya dan tertindasnya spesies lain. Kita bisa bilang memukul, menjambak, pelecehan termasuk kekerasan, seharusnya kita juga bisa setuju bahwa tes hewan juga merupakan kekerasan.

Sebagai feminis, kita harus lebih dalam menyadari bahwa penindasan sistemis yang terjadi ini tentu bukan hanya terjadi pada perempuan saja, tapi pada spesies lainnya. Dan sebagai manusia yang adil, mengetahui fakta ini harusnya membuat kita marah.

Produk yang kita akses untuk keindahan wajah kita ternyata penuh dengan cerita pedih dibaliknya. Padahal tes hewan tak perlu dilakukan. Fakta bahwa uji coba hewan tidak memberikan kontribusi apa pun bagi keselamatan konsumen ditunjukkan oleh serangkaian kasus yang terus terjadi.

Salah satu kasus misalnya skandal pada tahun 1986, ketika sejumlah besar Dioxin yang memicu kanker ditemukan di berbagai sampo dan produk mandi. Tak lama kemudian, organisasi pengujian produk Jerman ‘Stiftung Warentest’ menemukan hingga 5 kali konsentrasi maksimum logam berat karsinogenik termasuk arsenik, barium, timah dan merkuri, dalam banyak lipstik, maskara, dan eyeshadow.

Tes hewan hanya dilakukan oleh perusahaan untuk melindungi diri sendiri dari klaim kerusakan jika terjadi cedera kepada konsumen. Dengan demikian, kita bisa melihat secara jelas bahwa tes tersebut hanya berfungsi untuk melindungi produsen bukan konsumen.

Sekarang, kita bisa mulai mengakses produk yang bebas dari tes hewan (cruelty free). Produk-produk itu sudah hadir dimanapun dan sudah banyak variasinya. Kamu tetap bisa menggunakan produk kosmetik yang mempercantik dirimu dan tidak berkontribusi pada kekerasan.

Baca:  Apakah Meneladani Nabi Harus Dengan Poligami?

Produk ini menggunakan tes dengan mempelajari kultur sel dan jaringan atau dengan menggunakan bahan-bahan aman yang sudah ditentukan sebelumnya. Beberapa lembaga yang fokus pada isu ini juga mengeluarkan sertifikat langsung dan memberi cap bebas dari tes hewan pada produk yang lulus sertifikasi (biasanya berlogo kelinci) sebagai penanda bahwa produk tersebut tidak melakukan tes kepada hewan dan hanya sedikit menyakiti hewan.

Dalam dunia patriarki yang berkelindan dengan kapitalisme, kita memang tidak bisa berharap banyak, karena kita sudah dikondisikan untuk bergantung pada produk-produk ini. Kita hanya bisa melakukan apa yang kita bisa lakukan untuk meminimalisir ketidakadilan.

Apalagi mendambakan dunia tanpa kekerasan dan eksploitasi. Rasanya tidak mungkin. Namun suatu hari saya berharap dan memiliki mimpi, jika seorang feminis berteriak anti kekerasan, maka bukan anti kekerasan terhadap manusia saja yang hendak dibela, namun juga terhadap hewan yang bahkan tidak bisa membela haknya sendiri.

Seorang feminis dan vegan yang berfokus pada isu ekofeminisme. Pisau analisis gender menurutnya lebih tajam untuk menganalisis lapisan penindasan dari kondisi perubahan iklim yang sedang terjadi

Leave a Comment

%d bloggers like this: