Seseorang yang tidak kukenal pernah mengirimku pesan melalui Direct Message (DM) Instagram: “Palingan perempuan yang kayak kamu itu, yang koar-koar soal feminisme dan kesetaraan gender, perempuan yang nggak bisa masak yang kerjaannya cuma pengen leyeh-leyeh malas-malasan di rumah, makanya nggak mau jadi ibu rumah tangga”. Membaca DM itu, dari seseorang yang bahkan tidak pernah berbicara langsung padaku, hanya mengenalku melalui social media milikku, aneh, aku kok tidak kesal, aku malah ngakak sambil baca ulang-ulang. 

Aku? Nggak bisa masak? Sukanya malas-malasan? Ya iya, sih, kalo malas-malasan memang suka. Tapi, kalo dibilang nggak bisa masak, sih, ih sok tahu!

Sebenarnya, aku tak perlu menjelaskan diriku pada orang lain, tidak perlu juga melakukan pembuktian cuma buat diakui orang lain. Tapi, aku mengambil alih semua urusan dapur sejak aku duduk di bangku kelas 2 SMA. Mencuci sayuran, mencincang daging, goreng-goreng, bakar-bakar, rebus-rebus, bahkan ke pasar untuk beli semua keperluan dapur, aku yang lakukan. 

Aku tidak suka memasak. Ya, bukan tidak suka juga, sih. Maksudku, aku memasak bukan karena aku suka masak. Bukan juga tidak suka masak. Yah, aku bisa masak karena memang harus bisa. Ibuku adalah seorang ibu tunggal yang harus bekerja di luar rumah untuk kedua putrinya, aku dan kakakku. Untuk meringankan bebannya, aku yang mengurus rumah. 

Pesan dari orang sok tahu itu adalah satu dari sekian olok-olokan mereka terhadap perempuan feminis. Tidak sedikit yang mengejek perempuan-perempuan yang berjuang untuk kesetaraan dengan mengatakan mereka itu sebenarnya adalah perempuan pemalas yang tak bisa masak. Padahal, apa hubungannya coba menjadi feminis dengan pemalas dan tak bisa masak?

Perempuan yang tidak mengaku feminis juga banyak yang tidak bisa masak. Ah, lagian, bisa masak itu bukan kodrat satu jenis kelamin atau gender tertentu aja, mau kamu perempuan, laki-laki, transpria, transpuan, androgini, dan lainnya pun memasak itu basic life skill atau kemampuan bertahan hidup. Tapi, tentunya, tidak semua orang menganggap basic life skill itu sebagai sesuatu yang penting.

Baca:  Tak Perlu Malu Menjanda

Memasak, misalnya, ada sebagian orang beranggapan tidak perlu bisa masak, kalo bisa beli aja. Tidak ada yang salah, toh, kalau memang mampu ya sudah, asal tidak menyusahkan untuk orang lain. Tapi, bisa masak dan menguasai basic life skills lainnya juga akan sangat menguntungkan untuk kita lho, kita akan jadi lebih mandiri dan tidak bergantung pada orang lain.

Sering juga aku mendengar komentar orang-orang yang bilang: “Perempuan-perempuan pemalas yang hanya menjadikan feminisme sebagai tameng untuk ketidakbecusan mereka”. Aku bertanya-tanya, mengapa laki-laki yang tidak bisa masak, laki-laki yang tidak bisa bersih-bersih dan mengurus rumah, atau setidaknya mengurus diri sendiri tidak disebut sebagai laki-laki tidak becus? Kenapa hanya perempuan yang mendapat label seperti itu?

Jawabannya tentu saja karena orang-orang terutama lelaki patiarkal mau enaknya saja sehingga merea enggan menanggalkan konstruksi gender yang menitikberatkan kerjaan domestik sebagai pekerjaan perempuan. Padahal, lagi-lagi, memasak dan mengurus rumah adalah basic life skill manusia, terlepas lahir dengan vagina atau penis di selangkangan.

Urusan masak enak ini bukan juga soal biar dapatin suami. Karena kalau kata Cher, penyanyi asal Amerika pada suatu wawancara ketika ia bercerita tentang sang Ibu yang meminta dia menikahi seorang lelaki kaya, “I don’t need a rich man, I am a rich man.” Aku tidak membutuhkan lelaki kaya, aku adalah si lelaki kaya itu.

Kalau memang harus bisa sesuatu, ya memang harus bisa, bukan karena mengikuti konstruksi sosial tentang keperempuanan. Lagipula, rasanya tujuan hidup jauh dari sekedar ‘mencari lelaki idaman’. Ada banyak hal yang bisa dikejar di dunia ini baik untuk diriku dan untuk orang yang kita sayangi.

Lalu, mengenai perempuan feminis yang menolak jadi ibu rumah tangga, sungguh, ini benar-benar kesesatan dalam memahami feminisme. Sejatinya, feminisme itu datang membawa ide bahwa perempuan (dan tentunya semua orang) punya pilihan dan pilihan itu tidak hanya satu. Bahkan feminisme memikirkan bagaimana menciptakan sistem yang memungkinkan anak-anak mendapatkan perawatan anak yang lebih baik seperti subsidi penitipan anak oleh negara dan pendidikan yang setara tanpa melihat kelas.

Baca:  Yakin Ikut Kelas Poligami?

Justru dalam beberapa gerakan feminisme, memasak dan bercocok tanam adalah cara untuk melawan dan menjadikannya pertahanan komunitas-komunitas masyarakat adat. Karena mereka menolak bergantung pada komunitas di luar.

Lagian bukannya lebih romantis ya kalau bisa masak bareng-bareng?

Feminisme mengusung segala pembebasan perempuan yang dapat menghambat dirinya termasuk dalam urusan pernikahan. Pernikahan sejatinya dapat dilakukan dengan membangun hubungan yang setara dimana terdapat kesalingan dalam mengurus dan berbagi tugas rumah tangga.

Feminisme juga tidak mencemooh perempuan-perempuan yang memilih secara sadar, tanpa adanya paksaan, dan memang pilihan yang datang dari diri sendiri untuk jadi ibu rumah tangga. Bahkan feminisme juga memperjuangkan adanya pemahaman bahwa kerja perawatan atau reproduksi sosial yang dilakukan oleh perempuan ibu rumah tangga memiliki nilai ekonomi, karena tanpa adanya yang melakukan kerja perawatan maka keluarga tak dapat berfungsi.

Menjadi feminis adalah menyadari bahwa ada hal yang menghambat perempuan untuk mendapatkan kesejahteraan dan keadilan sosial, serta menentukan sendiri pilihan hidupnya. Oleh karena itu feminisme ada untuk membongkar pemahaman-pemahaman yang membenarkan ketidakadilan dan ketimpangan gender, bahkan ia pun berupaya agar setiap mahluk hidup di muka bumi mendapatkan kebahagiaan.

Sebelum nyinyirin perempuan feminis, baca dan belajar lebih banyak yuk.

Mencintai makanan manis dan tidak pernah lupa tidur siang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *