Suatu ketika, salah seorang teman di komunitas tempat kami berdiskusi tentang kesetaraan gender dan isu perempuan, datang kepada saya dengan wajah resah.  “Kata teman-teman di organisasiku, feminis aliran sesat. Apakah begitu, kak?” tanyanya

“Yang nanya begitu gendernya apa?” tanya seorang teman.
“Laki-laki” jawabnya.
“Apa saja yang mereka bilang sama kamu tentang feminisme?” lanjut teman lainnya penasaran.
“Mereka bilang jangan masuk gerakan feminis, bahaya, semua aliran disana sesat, mengajari hal yang tidak benar dan tidak sesuai kodrat.” jawabnya.
“Kodrat kata mereka? Coba tanya, apakah mereka tahu betul feminis itu apa? Dan apa mereka tahu arti dari kodrat?” gumam seorang teman, lalu singkat cerita kami pun melanjutkan diskusi feminisme yang kami agendakan tersebut. 

Walau sebenarnya kami kesal, tapi pasti selalu ada cara mengkampanyekan feminisme dan agenda-agendanya dengan cara yang tepat, terlepas bisa diterima atau tidak oleh semua kalangan. Sebab kami yakin, nilai-nilai feminisme dapat terintegrasi apabila semua paham definisinya, disertai dengan referensi setiap gelombang feminisme yang dicatat didalam sejarah. 

Di lain kesempatan, saya pernah diundang oleh kelompok organisasi keagamaan tepat di Hari Perempuan Internasional melalui aplikasi zoom. Dengan pemahaman yang sangat positif, saya hanya berpikir secara politis kesempatan ini akan saya manfaatkan untuk menyampaikan konsep kesetaraan dan keadilan dengan relevansinya terhadap agama. Atau, minimal saya dapat menyentil kelompok laki-laki yang merasa ‘religius’ yang sering kali merebut ruang perempuan yang berbicara dan berpikir secara bebas. 

Diskusi pun dimulai. Akhirnya, ada salah satu penanya laki-laki menggelitik pikiran saya dengan tanggapannya terhadap gerakan feminis. Ia bilang bahwa feminisme adalah aliran yang sesat karena mengajarkan perempuan merokok, mengkonsumsi ganja, bertato, berpakaian sexy, mengumpat dengan bahasa kotor, melakukan free sex dan berpindah aliran kepercayaan, dan membuat perempuan menjadi Ateis.

Walau akhirnya saya menjelaskan pada semua peserta diskusi mengenai ketidakbenaran dan kesesatan berpikir masyarakat tentang feminis, tetap hati saya gundah seusai diskusi. Diluar sana, berapa banyak anggapan salah tentang feminisme semakin marak dimanfaatkan sebagai upaya misoginis untuk membunuh perjuangan kesetaraan dan gerakan perempuan. Terlebih, representasi feminis dicerminkan sebagai aliran sesat yang menjauhkan perempuan dari agama.

Baca:  Jika Perempuan Selalu Benar, Kenapa Masih Menyalahkan Kami?

Mari berpikir dengan kritis, bukankah khotbah dan ceramah tokoh agama yang justru menjauhkan perempuan dari agama? Atau apakah semenjak masuk ke komunitas feminis, kita yang awalnya menganut agama atau kepercayaan tertentu tiba-tiba menjadi penganut ateis?

Lalu, apakah menjadi ateis adalah sesuatu yang salah? Bukankah setiap manusia bebas memilih kepercayaannya? 

Sederhananya, apakah seorang ateis adalah si jahat yang melakukan kesadisan yang merenggut nyawa dan melakukan praktek intoleran? Lantas, apakah orang beragama sudah berhasil mempraktekkan toleransi dan berlaku tidak diskriminatif pada satu individu atau kelompok lainnya?

Pertanyaan-pertanyaan di atas bukan dalam rangka provokasi kepada siapapun. Akan tetapi, kita harus digelisahkan untuk memperkuat iman dan kepercayaan kita akan sebuah aliran. Tidakkah kita resah dibilang sesat? Padahal aliran feminisme mencoba menempatkan posisi setara diantara umat manusia.

Sedikit mengutip dari ayat di alkitab kristen yang termaktub pada Galatia 3 : 28, ”Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus”. Rasul Paulus dianggap berpihak terhadap kaum feminis karena dalam ayat tersebut tercermin narasi kesetaraan gender, dimana perempuan dan laki-laki memiliki hak dan kewajiban yang sama baik dalam lingkup keluarga, masyarakat maupun gereja.

Di sisi lain, saya akan mengutip salah satu jurnal berjudul “Gender dan Feminisme dalam Islam” yang dikaji oleh Junaidi dan Hadi (2010), mereka menuliskan beberapa respon teologis dalam Al-Quran yang menilai bahwa Islam mendukung kesetaraan gender, diantaranya Kemanusian perempuan dan kesejajaran nya dengan laki-laki (Q.S. al-Hujurat:13) yang berbunyi: 

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” 

Membaca dua referensi dari dua agama di atas, bukankah agama sebenarnya tepat diperdamaikan dengan kehadiran feminisme? Lalu mengapa dituduh sesat?

Baca:  Perempuan Itu

Disaat pemuka agama berkhotbah di podium, meminta istri tunduk pada suami, atau meminta istri berpakaian dan berdandan dengan benar, bisakah diubah dengan ajakan pemuka agama agar suami dan istri saling menghargai dan tidak membenarkan kekerasan dalam rumah tangga?

Hal lainnya, disaat pemuka agama menceramahi anak perempuan untuk menjaga tubuhnya agar tetap suci, bisakah diubah menjadi lebih reformis dengan himbauan agar baik anak laki-laki maupun perempuan untuk saling menjaga diri dan menghormati satu sama lain, terlebih agar laki-laki tidak memperkosa.

Saya kadang bertanya-tanya, apakah pemuka agama dan para pengkhotbah pernah meng-upgrade atau memperbaharui pengetahuannya agar dapat menyampaikan khotbah yang setara dan revolusioner?

Demikian juga saya bertanya-tanya apakah feminisme benar menolak hadirnya agama atau sebenarnya para feminis mengutuk khotbah pemuka agama yang kurang baca dan belajar?

Jadi siapa yang sebenarnya menyebabkan kesesatan?

Lusty Malau pernah memenangkan kategori #WanitaHebat versi Pantene dan Narasi TV pada 2018 oleh karena ceritanya bangkit dari pelecehan seksual hingga menjadi penyintas yang mendirikan Komunitas Perempuan Hari Ini di Medan. Saat ini, menulis untuk blog dan mengajar sembari mengerjakan ruang edukasi bagi perempuan dan anak marjinal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *