Feminisme Adalah Masa Depan Perempuan Akhir Zaman

Teror kebencian dan penolakan Feminisme terus digaungkan dalam kajian keagamaan bahkan aksi langsung oleh kelompok Islam konservatif dengan dalih Feminisme bertentangan dengan ajaran Islam, serta merupakan ajaran dari barat nan kafir. Apakah hal tersebut patut untuk dibenarkan dalam Islam?

Tentu saja tidak. Feminisme merupakan masa depan perempuan akhir zaman, karena sesuai dengan membawa semangat pembebasan sesuai dengan perjuangan Nabi Muhammad dalam mengkampanyekan kesetaraan gender baik dalam praktek keseharian dan bersosial.

Konsep pandangan agama yang dibawakan oleh sejumlah tokoh agama karbitan dan eksis di instagram yang juga merupakan laki-laki, menormalisasikan nilai-nilai keagamaan yang kaku dan sempit. Ajaran mereka mengenai perempuan yang baik, sholehah dan calon penghuni surga pada akhirnya mengungkung perempuan di dalam rumah dengan maksud memuliakan perempuan bagaikan calon ratu bidadari surga. Ini adalah cara yang keliru dalam memahami Islam.

Pandangan Islam yang sempit dan kaku dalam memandang perempuan saat ini justru mulai ditinggalkan oleh dunia Arab dengan memberikan akses ruang publik kepada perempuan. Tetapi mengapa di Indonesia justru ingin memasuki zaman sebelum datangnya Islam dimana perempuan dikekang dan dijadikan komoditas?

Konsep pandangan yang seperti apa yang hendak ditawarkan oleh kelompok Islam yang menolak Feminisme?

Jelas, wacana feminisme dimata kelompok Islam yang memegang teguh teks-teks keagamaan yang telah terhegemoni beribu-ribu tahun telah berakar kuat. Hal tersebut menjadi pemasungan diskusi yang sempit yang berputar hanya pada wacana halal dan haram.

Kelompok tersebut tidak memberikan ruang pertukaran pemikiran secara bebas dan ilmiah. Justru pertanyaan kita terhadap ketidakadilan yang dialami perempuan hanya akan mendapatkan jawaban yang populer dari ulama terdahulu. Jawabannya seolah-olah membuat kita merasa cukup berpuas diri pada sejumlah jawaban yang tersedia dan dikenal pada masa lalu dalam aliran pemikiran klasik, tanpa adanya pembacaan ulang dalam memahami teks-teks keagamaan yang tidak adil terhadap perempuan.

Pandangan agama islam yang bertumpu hanya kepada pembacaan teks-teks Quran dan Hadits tanpa adanya pembacaan secara kontekstual dan sebab musabab surah tersebut diturunkan, telah menggeser banyak makna untuk menggapai kemashlahatan antara laki-laki dan perempuan. Teks-teks Quran dan Hadits yang dibaca secara tekstual tersebut akhirnya mudah digunakan secara serampangan bahkan dijadikan dalih kepentingan satu kelompok atau individu untuk meminggirkan perempuan.

Baca:  Dimana Hak Politik Perempuan Dalam Islam?

Jika Feminisme merupakan ciri-ciri dari Perempuan akhir zaman, hal tersebut adalah benar adanya. Dalam konteks Indonesia hari ini Perempuan masih saja menjadi sasaran aksi kekerasan oleh laki-laki baik dalam lingkup terkecil sekalipun.

Pemerkosaan serta pembunuhan terhadap perempuan yang tak pernah ada habisnya juga merupakan ciri-ciri dari bertenggernya patriarki yang semakin menguat apalagi berlindung dibalik dalil-dalil agama. Artinya, pemahaman agama yang sempit dan berkutat hanya kepada pemahaman teks agama dalam memandang perempuan tidak menjawab persoalan perempuan yang tengah dihadapi hari ini—akhir zaman.

Pandangan agama tersebut harus ditafsirkan ulang dan bertransformasi kepada perspektif yang peduli gender dan kesetaraan. Feminisme bergerak dengan pemahaman agama yang berprespektif keadilan dan kesetaraan gender.

Akhir zaman yang dimaksud oleh sejumlah tokoh agama yang berceramah dalam kajian keislaman menampakkan kondisi perempuan yang keluar dari syariat islam. Membangkang terhadap suami, keluar malam dan tidak bersama muhrimnya serta tidak mengenakan jilbab dan sederet pengekangan lainnya dengan membawa dalil-dalil keagamaan.

Lalu menghakimi perempuan dan menakut-nakutinya akan azab dan laknat neraka. Padahal, kondisi yang sebaliknya tengah dialami perempuan. Perempuan yang sudah mengenakan busana syar’i pun tak luput dari aksi kekerasan dan pemerkosaan. Pemerasan dan seksisme di dalam ruang kerja terhadap perempuan pun seringkali terjadi. Perempuan hidup ditengah-tengah budaya yang patriarki berselimutkan dalil-dalil agama yang sempit.

Alih-alih Feminisme yang di gadang-gadang sebagai ciri-ciri perempuan akhir zaman nan penghuni neraka karena membangkang, agaknya telah menakuti sistem patriarki  yang bertengger lama untuk segera melepaskan surplus value atau kenyamanan dan kenikmatan yang telah didapatkannya beribu-ribu tahun dan dilanggengkan oleh institusi agama.

Feminisme bertabrakan dengan kepentingan elit laki-laki yang tidak ingin melepaskan surplus value-nya selama beribu-ribu tahun. Lalu mereka memakai pandangan agama secara tekstual untuk membenarkan posisi inferior perempuan. Kemudian melakukan syiar bahwa perempuan pembangkang tempatnya adalah di neraka dan merupakan ciri-ciri perempuan akhir zaman yang dilaknat Tuhan.

Baca:  Melawan Sistem dengan Suara Kesetaraan

Pandangan agama yang berkembang hari ini selalu menempatkan perempuan pada posisi yang dirugikan, lemah dan butuh perlindungan. Feminisme harus kembali kepada akarnya, yaitu ajaran Islam yang menjunjung nilai kesetaraan dan hal ini jelas sudah dipraktikkan oleh Nabi Muhammad SAW dengan mempromosikan kesetaraan gender, baik dari kehidupan sehari-hari Nabi yang menyiapkan makan, mandi dan menjahit pakaiannya sendiri sampai melibatkan perempuan dalam perang bersama Nabi.

Jelas usaha Nabi Muhammad dalam mempromosikan kesetaraan gender terbilang sulit, karena masih banyaknya kepentingan laki-laki aristokrat / kerajaan yang menjadikan perempuan layaknya barang dan harta rampasan perang sampai budak. Kepentingan Nabi Muhammad dalam menyebarkan nilai-nilai Feminisme bertabrakan dengan kepentingan laki-laki yang sudah ribuan tahun hidupnya dilayani perempuan.

Feminisme memang patut menjadi masa depan perempuan akhir zaman, karena masih eksisnya budaya patriarki berbalut agama yang berkeliaran dan memenjarakan perempuan. Perjuangan Nabi Muhammad dalam mempromosikan dan mempraktikkan kesetaraan gender wajib diteruskan oleh umat islam.

Sampai sini masih mau bilang kalau Feminisme bertentangan dengan ajaran agama islam dan tempatnya di neraka yang dilaknat Tuhan? Astagfirullah Ukhti…

Aktif di kolektif Perempuan Mawar Merona dan aktif menyelenggarakan diskusi bulanan: Santuy Bareng Puan (@SuaraBaruPerempuan - SBP) yang berlokasi di Jakarta. SBP bergerak mewacanakan isu kesetaraan gender dan perempuan dengan kegiatan diskusi,aksi dan berkesenin.

Leave a Comment

%d bloggers like this: