Sore itu, adikku tiba-tiba mengirimiku sebuah pesan menanyakan apakah aku ingin menjadi perwakilan pemuda dari komplekku untuk mengikuti penyuluhan yang dilakukan oleh BKKBN di kantor kecamatan. Adikku bertanya padaku, lantaran tetangga depan rumahku yang tergabung sebagai anggota aktif PKK, perlu mencari peserta untuk penyuluhan tersebut. Ia mengiming-imingi uang transportasi sebesar 50 ribu dan makan siang. Karena aku penasaran maka kuiyakan.

Kupikir penyuluhan yang dilakukan adalah mengenai program keluarga berencana, mengingat usiaku sudah 24 tahun dimana sering kali sudah dianggap cukup umur untuk menikah. Ternyata topik penyuluhan hari itu adalah mengenai hak kesehatan seksual dan reproduksi. Namun, kupikir lebih tepat jika dikatakan temanya hanya kesehatan reproduksi saja, karena penyuluh yang bertugas melalui begitu saja materi mengenai hak dan seksualitas.

         Penyuluh menjelaskan bahwa sosialisasi ini adalah bagian dari program BKKBN, karena BKKBN tidak hanya fokus pada isu Keluarga Berencana saja. Mereka memiliki beberapa program seperti Genre (Generasi Yang Punya Rencana) yang bahkan ada dutanya. Program Genre fokus pada penyiapan kehidupan keluarga bagi remaja melalui pemahaman tentang pendewasaan usia perkawinan sehingga mereka mampu melangsungkan jenjang pendidikan secara terencana, berkarir dalam pekerjaan secara terencana, serta menikah dengan penuh perencanaan sesuai siklus kesehatan reproduksi.

Pada saat kegiatan berlangsung, penyuluh berkali-kali menekankan agar kami menjauhi 3 hal, yaitu pernikahan dini, seks pranikah dan penggunaan obat-obatan terlarang. Selain ketiga hal itu, materi yang disampaikan berupa ciri-ciri pubertas, kesehatan reproduksi seperti berapa kali harus mengganti celana dalam serta stunting.

Program ini layak diapresiasi namun juga harus dikritik. Dalam pelaksanaannya, program ini agak kurang tepat sasaran, karena aku menjadi peserta, padahal aku bukan remaja lagi. Informasi siapa yang bisa mengikuti kegiatan ini pun sepertinya tidak merata, sistemnya seperti asal ada pesertanya saja.

Baca:  Berdamai dengan Rasa Cemas di Masa Pandemi

Proses mengumpulkan pesertanya pun alih-alih menjelaskan mengenai topik sosialisasi yang dilakukan justru menekankan makan siang dan uang transportasi. Ditambah mengapa harus dilakukan secara langsung di kantor kecamatan? Ini masih pandemi, meskipun kotaku masih zona hijau dan oren, apa tidak sebaiknya tetap melakukan kegiatan online dimana semua remaja bisa mengikuti?

Materi yang disampaikan cukup menarik, sayangnya pembahasan mengenai hak seksual dan reproduksinya nyaris tidak ada. Hanya kesehatannya saja. Padahal, yang termasuk hak kesehatan seksual reproduksi kan banyak sekali, ada setidaknya 12 hak-hak reproduksi yang dirumuskan oleh International Planned Parenthood Federation (IPPF) pada tahun 1996, salah satunya yaitu; hak atas kemerdekaan dan keamanan, berkaitan dengan pemaksaan hamil, sterilisasi dan aborsi, hak atas kesetaraan dan bebas dari segala bentuk diskriminasi, termasuk diskriminasi karena kehidupan seksual dan reproduksi seseorang hingga hak untuk bebas dari penganiayaan dan perlakuan buruk.

Dari sederet hak yang tercantum dalam IPPF, program Genre yang dicanangkan pemerintah memang sudah memenuhi hak mendapatkan informasi dan pendidikan. Namun, hak-hak lain seperti layanan kontrasepsi dan informasi aborsi belum ada. Hak atas kesetaraan dan bebas dari segala bentuk diskriminasi juga membuatku bertanya-tanya, apakah sudah diimplementasikan dalam program ini.

Salah satu poin dalam program ini yang layak dikritik adalah seks pranikah. Penyuluh rentan sekali untuk mendiskriminasi perempuan yang telah melakukan seks pranikah dan mengalami Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD) dengan menyebut kehamilan tersebut sebagai aib misalnya atau sudah rusak karena menganggap perempuan yang melakukan seks pranikah tidak lagi perawan. Padahal konsep keperawanan dan pelabelan terhadap perempuan tadi adalah dongeng patriarki yang terus saja disuarakan.

Nah, ketika berbicara mengenai seks dibandingkan melarang seks pranikah, aku lebih setuju untuk menekankan melakukan hubungan seks dengan aman. Bagaimana melakukan hubungan seks dengan aman? Salah satu caranya adalah dengan menggunakan kontrasepsi untuk mencegah KTD, menggunakan kondom untuk mencegah Infeksi Menular Seksual (IMS) dan rutin memeriksakan diri ke dokter untuk mengetahui status kesehatan seksual.

Baca:  Pekerja Seks Berdaulat: Menyangkal Kejamnya Dunia Prostitusi di Indonesia

Ketiga hal ini bisa dilakukan sebelum menikah maupun setelah menikah, karena menikah tidak menjamin hubungan seks yang aman dan bertanggung jawab. Risiko seks juga dapat terjadi terutama jika pasangan kita ternyata melakukan hubungan seks dengan orang lain atau kita tidak lagi ingin memiliki keturunan atau ketika hubungan seks tersebut dipaksakan sehingga terjadi perkosaan dalam rumah tangga (marital rape).

Mahasiswa yang memiliki banyak ketertarikan mulai dari isu gender, feminisme, komunikasi, human rights, dan lain sebagainya. Dulunya aktif siaran di stasiun radio lokal dan sekarang masih berjibaku dengan tugas akhir. Doakan saja lulus dengan baik dan ilmunya berguna bagi banyak orang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *