Dilema Gerbong Perempuan

Malam itu, saya pulang dengan menggunakan kereta dan memutuskan untuk berada di gerbong khusus perempaun, karena pada saat itu gerbong campuran terlihat cukup ramai dan berdesakan.

Keadaan kereta berjalan seperti biasa dan hanya terdengar suara sekelompok ibu-ibu yang bercanda dengan cukup keras. Tiba – tiba dua orang petugas keamanan menuju ke bagian tempat duduk yang berada dekat dengan ruangan masinis dan memerintahkan seorang anak lelaki untuk pindah ke gerbong campuran.

Kelompok ibu-ibu tadi lantas langsung menegur petugas keamanan bahwa anak tersebut memiliki disabilitas dan memintanya untuk tidak dipindahkan ke gerbong campuran. Kemudian satpam tersebut membalasanya dengan nada tinggi, “Pindah aja bareng sama ibunya, harus pindah bu, nanti kalo tidak pindah saya bisa kena pecat”.

Pada akhirnya anak tersebut berpindah ke gerbong campuran dan entah bagaimana sudah bersama dengan orang tuanya.

Menurut asumsi saya jika dilihat dari penampilannya, anak tersebut terlihat sekitar berusia 13 – 14 tahun, sebenarnya saya pun tidak masalah terhadap keberadaan anak lelaki yang berada di gerbong perempuan.

Tetapi, hal ini sering terjadi ketika saya menggunakan kereta, bisa dibilang kejadian ini merupakan yang ke-3 kalinya. Sebenarnya berapa batas umur usia anak‚Äďanak lelaki untuk berada di gerbong perempuan?

Saya langsung mengecek peraturan batas usia terhadap anak lelaki di gerbong khusus perempuan. Pada website Departemen Perhubungan, dikatakan batas usia anak lelaki yang bisa menggunakan gerbong perempuan hanya sampai 10 tahun.

Saya pun jadi berpikir sendiri, sebenarnya apa yang menyebabkan diberlakukannya gerbong khusus perempuan? Siapa yang seharusnya benar-benar dilarang berada di gerbong khusus perempuan? Peraturan seperti ini merupakan solusi atau malah membuat masalah kekerasan seksual tambah parah?

Baca:  Arti di Balik Perempuan yang Bersuara

Diberlakukannya gerbong perempuan adalah karena maraknya kasus pelecehan seksual terhadap perempuan di kereta serta untuk menciptakan ruang aman bagi perempuan di dalam kereta. Sedangkan, pelaku pelecehan seksual biasanya adalah berjenis kelamin laki-laki, dan rata-rata sudah berumur dan organ reproduksinya sudah aktif.

Jika dilihat kembali, peraturan yang membatasi penumpang lelaki di gerbong perempuan hanya sampai 10 tahun. Logikanya, anak lelaki 10 – 15 tahun sangat kecil kemungkinannya untuk melakukan pelecehan seksual kepada perempuan.

Konsep gerbong khusus perempuan pun sebenarnya dikritik di Inggris, karena dinilai tidak memberikan solusi, yang seharusnya membuat seluruh gerbong kereta aman sehingga perempuan bisa pergi ke gerbong manapun tanpa diganggu oleh para penyerang pelecehan. Bahkan setelah diberlakukannya gerbong perempuan, pada tahun 2018 korban pelecehan seksual malah meningkat, ditambah dengan sikap sinis petugas kereta yang terkadang bias atau yang belum lama ini terjadi, malah menyalahkan penampilan korban saat melapor karena dilecehkan di kereta.

Namun gerbong perempuan tetap dibutuhkan sebagai solusi praktis dan sementara selama kekerasan seksual masih ada. Solusi praktis ini juga harus dibarengi dengan edukasi kekerasan seksual, sehingga tidak dilepaskan begitu saja.

PT. KCI (Kereta Commuter Indonesia) pun masih melakukan penanganan pelaporan kekerasan seksual seperti melaporkan tindakan kriminal lainnya. Namun tak jarang, kasus kekerasan seksual hanya menunggu ditangani jika sudah terlanjur viral, PT. KCI hanya bisa menyampaikan kata maaf.

Lalu apakah anak lelaki usia 13-14 yang memiliki disabilitas tidak boleh berada pada gerbong perempuan?

PT. KCI sendiri belum mampu memberi prioritas dan belum dapat menanggapi problematika permasalahan perempuan dan permasalahan disabilitas. Belum lagi dengan akses terhadap kelompok disabilitas yang masih sangat minim.

Baca:  Tak Perlu Memuji Lelaki

Alangkah baiknya jika PT. KCI memberikan pendidikan gender kepada pegawainya (saya masih melihat beberapa petugas imelakukan pelecehan seksual di gerbong perempuan) dan memberi penyuluhan dan sosialisasi terhadap masyarakat agar tidak melakukan kekerasan seksual. Selain itu PT. KCI dapat meningkatkan pelayanannya terhadap teman-teman disabilitas agar dapat berkomuter dengan nyaman.

Pada akhirnya kita mengharapkan gerbong perempuan dihapuskan, namun hal ini hanya bisa dilakukan jika perempuan sudah bebas dari kekerasan seksual.

Jika petugas PT. KCI memiliki pemahaman tentang gender serta pemahaman mengenai akses disabilitas, setidaknya tahu cara menghadapi korban dan pelaku kekerasan seksual, dan juga memiliki kepekaan terhadap anak-anak terutama kelompok disabilitas yang tidak sengaja berada di gerbong perempuan.

PT. KCI pun juga mulai harus serius dalam menyusun mekanisme penanganan untuk korban kekerasan seksual. Walaupun memang belum ada peraturan yang dapat diturunkan untuk dijadikan prosedur penanganan kekerasan seksual, namun kita tidak bisa membiarkan kekerasan seksual merajalela sampai menunggu ada korban berjatuham.

Memangnya mau sampai kapan KCI mengandalkan kata maaf melalui media sosial untuk menangani kasus kekerasan seksual?


Sumber:

tirto.id/pelecehan-di-kereta-kenapa-petugas-sinis-terhadap-aduan-korban-dm37

tirto.id/pelecehan-seksual-di-krl-nyata-kenapa-kebanyakan-penumpang-diam-djic

dephub.go.id/post/read/menhub-resmikan-kereta-khusus-wanita-2599

Mahasiswa yang dapat cuan dengan serabutan. Selengek-an, tapi galak (sama patriarki).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *