Harapan

Dulu ku kira,
Semesta selalu ramah
Akan mendukung bahkan berpihak

Dulu ku kira, 
Akan selalu menjadi perempuan pemberani
Tanpa terbesit rasa takut dan khawatir

Dulu ku kira,
Beranjak dewasa adalah hal yang mudah dan menyenangkan 

Sekarang, 
Berjalan rasanya pun tak berdaya
Rasa takut melangkah hingga masuk ke jurang yang sama 
Semesta ternyata tak selalu ramah

Menghantam hingga memaksa untuk kalah
Seolah tak ada yang mengulurkan tangan
Tak ada yang membukakan telinga untuk menjadi teman cerita
Kesepian mulai menghampiri

Kesesakan mulai kambuh secara perlahan
Terlepas dari semua yang terjadi
Aku memilih untuk terus bertahan

Bertahan meski semuanya tampak berakhir
Aku memberanikan diri untuk terus melangkah 
Aku tak mau kehilangan harapan
Harapan kepada Sang Pencipta Kehidupan

Itulah senjata terakhir untuk bertahan
Tidak akan pernah kembali dengan tangan kosong 
Jika bertahan dan berharap pada-Nya
Apa yang telah hilang akan berganti
Apa yang telah patah akan tumbuh
Apa yang telah hancur akan terobati
Apa yang sia-sia akan bermakna

Seorang pencinta kopi dan penikmat gunung yang sedang berproses dalam menerapkan “Di berkati untuk menjadi berkat”. Yang selalu mempunyai mimpi untuk bisa menikmati senja di berbagai gunung.

Baca:  Komik Girls' World Cerminan Perundungan Sesama Perempuan

1 thought on “Harapan”

  1. Bagus banget puisinya, terima kasih untuk penulissss… sukses selalu..

    Puisi ini mengandung 3 unsur penting dalam kehidupan. Diantaranya adlaah Tuhan, Perempuan dan semesta. Ketiganya menunjukan keindahan.

    Reply

Leave a Comment

%d bloggers like this: