Berdosakah Tak Peringati Hari Ayah?

Melihat kedekatan hubungan ayah dan anak, batinku menimpali. Sembari mataku tetap tertuju pada mereka. Menikmati peristiwa syahdu itu pada acara keluarga sungguh membuat ku iri. Anak itu persis seusia adikku, sangat belia dan lugu. Gelendotan manja pada ayahnya, yang menyambut dengan candaan khas Jawa Tengah.

Berlebihan mungkin, hanya karena adegan ayah dan anak, mata ini bisa sembab. Hatipun teriris-iris mengingat adikku, dia atau lebih tepatnya kami tak pernah mendapat kasih sayang dari seorang bapak. Seperti anak kecil itu, tapi apakah aku ingin mendapat cinta kasih? Tidak juga, aku sudah lama berhenti mengasihani diriku sendiri.

Kekerasan fisik, psikis, dan klenik yang kami alami, cukup merubahku menjadi single fighter bagi ibu dan adikku. Saat itu, aku baru saja menata perjalanan karirku bekerja di salah satu gedung pencakar langit di Jakarta. 

Suatu malam, ibuku menelpon dan menceritakan yang terjadi selama ini. Berita yang kudengar detik itu, tak hanya mengaduk-aduk batinku, detail yang diceritakan ibu, membuatku harus bolak-balik ke WC.

Tak perlu waktu yang lama untuk menyetujui keputusan Ibu keluar dari rumah bedebah itu. Aku kira sudah cukup bagi kami mengeluarkan kata maaf, perilaku kejinya tidak lagi layak mendapat ruang. Sakit jiwa, mungkin dia, memang sakit jiwa, begitulah ia abadi dalam ingatan kami. Berlagak alim di depan umum, menjelma iblis di dalam rumah. Sungguh pengecut.

Dengan modal nekat, ibu dan adik bergegas. Hari itu sore menjelang Maghrib pada Desember 2015, tanpa membawa apapun, mereka lari, pergi ke rumah mbah Uti untuk berlindung. 

Itulah sekelumit cerita tragis yang terjadi di antara kami, biarkan jadi wilayah masa lalu, sembari mensyukuri hari ini, Tuhan masih melindungi kami.

Baca:  Nasab

Namun rupanya penderitaan tetap menghantui, cap anak tak tau balas budi tengah menggentayangi. “Lah wong bapaknya meninggal tak muncul satu kalipun,” ucap suara sumbang yang mengudara dari mulut ke mulut. 

Apa benar, kami termasuk golongan tak berbakti hanya karena kami menolak datang ke pemakaman bapak kami? 

Apa yang masyarakat harapkan dari kami? Apakah menjadi penurut sampai mati adalah jalan hidup yang benar di negeri ini? Aku masih ingat betul, ada banyak sekali berita di media massa, tentang bapak yang memperkosa anaknya, atau bahkan lebih buruk. 

Begitu indah memang, bila kita melihat lini masa yang tengah gegap gempita merayakan hari ayah.  Foto mesra para ayah dan anak-anaknya saling berjejal, seolah mereka tengah berkompetisi pada ajang anak dan ayah ter-romantis. 

Jelas foto-foto yang diunggah adalah yang paling menggemaskan dan menimbulkan kesan bagiku. Sebuah keberuntungan karena tak memiliki sekat antara kebutuhan kasih sayang dan disayangi. Rasa itu, antara marah dan rindu kini menggelora kembali. 

Sonora Louise Smart Dodd dialah orangnya, ia yang menggagas hari ayah, hari yang membuatku marah, rindu dan iri tentunya. Ia berhasil membuat petisi untuk tidak saja memeringati hari ibu, namun juga hari ayah. 

Kampanye yang digaungkan Dodd 62 tahun lalu, merubah tiap keluarga untuk menyisihkan panggung Instagram atau media sosial untuk figur bapak, bapak siapa saja yang masih memiliki hati dan kasih saying yang melimpah. Namun tidak dengan bapakku. Atau bapak mereka yang lebih dari dzalim pada keluarganya.

Ayah, kakek, paman, dan kakak laki-laki dalam berbagai berita kejahatan menjadi manusia-manusia bejat yang tak tahu diri.  Mereka yang harusnya melindungi, malah teracuni nafsu birahi. Sehingga tunduk pada kejahatan yang keji. 

Baca:  Rumah

Banyaknya kasus dan hukuman bui tak serta merta membuat pelaku sadar diri, namun semakin hari menjadi-jadi. Mungkinkah hukuman mati akan membuat mereka berpikir ribuan kali, sebelum melangsungkan kejahatan terhadap anak kandung dan keluarga terdekat mereka sendiri? 

Masihkah ada harapan untuk korban-korban seperti kami? Mungkin, jika kemanusiaan tetap menjadi bagian dari naluri.

Seorang isteri, mengisi harinya dengan membaca novel dan menulis puisi.

1 thought on “Berdosakah Tak Peringati Hari Ayah?”

  1. Bagian “tidak pernah mendapat kasih sayang dari sosok papa” sangat relateable. Walaupun alasan saya berbeda; papa saya ‘tidak waras’ atau ‘gila’ sejak saya kecil. Kadang iri kalau lihat orang lain yg dicintai dan mencintai papanya. Tapi saya tau kalau tanpa sosok seorang papa’pun, saya bisa tumbuh menjadi perempuan yang baik dan tangguh. Terimakasih dan semangat untuk yang menulis ini! Much love.

    Reply

Leave a Comment

%d bloggers like this: