Pada suatu hari Harrison (pimpinan Space Task Group NASA) memarahi Katherine Johnson yang dianggap terlalu lama mengambil waktu istirahat. Dengan murka akhirnya Katherine Johnson menceritakan bahwa setiap kali ia ingin buang air kecil, ia harus berlari sejauh 800 meter ke toilet di sisi lain gedung yang dikhususkan bagi orang kulit hitam. Ia tidak diperkenankan menggunakan toilet yang ada di gedung, karena itu khusus untuk orang kulit putih.

Belum lagi bentuk diskriminasi lain yang harus ia tanggung seperti cangkir dan teko kopi yang dipisahkan di area pantry seolah-olah ia manusia yang menjijikan yang tidak boleh menggunakan cangkir dan kopi orang kulit putih. Mendengar hal itu Harrison terkejut dan ia mencabut label warna kulit di toilet sehingga tidak ada lagi pembagian toilet berdasarkan warna kulit. Dan Katherine Johnson mencatat sejarah sebagai perempuan kulit hitam pertama yang bekerja di divisi Space Task Group yang dimonopoli lelaki kulit putih.

Kisah di atas adalah penggalan dari film “The Hidden Figures” yang berangkat dari kisah nyata tiga orang perempuan Afro-Amerika yang bekerja di Langley Research Center di Hampton, Virginia tahun 1961. Mereka adalah Katherine Johnson yang jago analisa geometris dan matematika, Mary Jackson seorang insinyur yang bertanggung jawab untuk mendesain kapsul penahan panas pesawat luar angkasa, dan Dorothy Vaughan yang jago komputer. Mereka bertiga bisa dianggap sebagai perempuan-perempuan pelopor di bidang sains dan teknologi di periode segregasi rasial yang berlangsung tajam di Amerika.

Dalam kesehariannya, mereka bertiga memang kerap dianggap remeh dan dipandang sebelah mata. Bukan hanya karena warna kulitnya tetapi karena mereka perempuan yang lebih cerdas dibanding laki-laki. Contohnya Katherine Johnson yang mampu menyelesaikan hitungan matematis rumit untuk menemukan titik pendaratan astronot, ketika semua lelaki di ruangan tidak ada yang tahu jawabannya, termasuk Harrison.

Contoh lain lagi adalah Mary yang segera mengidentifikasi mengapa kapsul penahan pesawat luar angkasa buatan mereka gagal terus. Dan Dorothy Vaughan yang belajar mandiri cara mengoperasikan komputer IBM7090 ketika semua lelaki kulit putih yang ditugaskan di unit tersebut tidak mampu mengoperasikannya. Ia juga mengajari perempuan kulit hitam lainnya untuk mengoperasikan komputer agar tidak terlindas oleh kemajuan teknologi. Walaupun, karena warna kulit mereka membuat mereka bekerja di ruangan khusus orang kulit hitam.

Baca:  Mengapa Representasi Perempuan Penting Dalam Isu Lingkungan?

Film ini dengan baik juga menampilkan betapa kuatnya manifestasi mitos-mitos yang budaya patriarkat hembuskan di tengah masyarakat sehingga mereka percaya bahwa dunia sains dan teknologi bukan dunia bagi perempuan atau “unwomanly.” Selain itu masih berlaku mitos kaitan antara gender dan ilmu juga pekerjaan sehingga mempengaruhi pilihan perempuan.

Misalnya Biologi dan Psikologi dianggap lebih feminin daripada kedokteran, ilmu politik, ilmu hukum, fisika, dan Matematika yang dianggap lebih maskulin. Pada tahun 2018, UNESCO dan Korean Women’s Development Institute melakukan riset dan menemukan bahwa jumlah peneliti perempuan di bidang sains dan teknologi di Indonesia hanya 39%, sisanya adalah peneliti lelaki. 

Simone de Beauvoir mengatakan bahwa mitos yang diciptakan budaya patriarkat membuat banyak orang (termasuk perempuan) meyakini bahwa perempuan itu lemah, tidak mampu bereksplorasi, pasif, dan tidak berdaya. Mitos ini pada akhirnya membuat perempuan diobyekkan sedemikian rupa sehingga kemampuan perempuan menjadi subyek menjadi mandul. Sehingga sangat sedikit perempuan yang terjun dalam bidang sains dan teknologi dan banyak juga perusahaan yang enggan mempertimbangkan untuk mempekerjakan perempuan di bidang sains dan teknologi karena kekuatiran jika perempuan cuti hamil dan melahirkan juga mengasuh anak akan merugikan perusahaan.

Makin terlihat jelas bahwa budaya patriarkat menggunakan fisik perempuan sebagai kelemahan serta landasan dasar untuk membenarkan nilai-nilai superioritas laki-laki. Padahal, perbedaan biologis seharusnya tidak boleh dijadikan dasar perbedaan sosial. Fakta biologis bukanlah fakta sosial. 

Di tengah segala situasi ketertindasan yang disebabkan segregasi rasial dan mitos budaya patriakat, para perempuan di film “Hidden Figures” mampu memberikan inspirasi bagi banyak perempuan untuk menyadari bahwa peran perempuan bukan hanya di rumah dan di dapur.

Baca:  Mengenang Nh. Dini, dan Kenapa Perempuan Harus Menulis

Walaupun peradaban Barat yang patriarkis sudah terlanjur menghayati kisah penciptaan perempuan sebagai sebuah legitimasi bagi superioritas laki-laki yaitu keberadaan perempuan dimaksudkan untuk menemani laki-laki. Konsekuensinya adalah keyakinan bahwa tugas utama perempuan adalah menjadi ibu karena perempuan punya rahim. Menjadi ibu adalah kewajiban sehingga ini menjadi identitas tubuh perempuan yang membuat kebebasan perempuan terbelenggu.

Hal lain lagi yang perlu kita sadari sungguh-sungguh adalah tidak ada keterkaitan antara gender dan ilmu juga pekerjaan. Sehingga sudah seharusnyalah dibuka peluang sebesar-besarnya bagi para perempuan untuk berkarya di bidang sains dan teknologi.

Sudah saatnya perempuan diberikan dukungan dan afirmasi bahwa perempuan dapat berkarir sama baiknya dengan lelaki di bidang sains dan teknologi. Barangkali kita juga perlu lebih banyak menceritakan kepada anak-anak perempuan kita tentang tokoh-tokoh perempuan yang berkarir cemerlang di bidang sains dan teknologi. Termasuk juga menggiatkan pelatihan adil gender di perusahaan-perusahaan sehingga tercipta lingkungan yang adil dan ramah gender bagi perempuan untuk berkarya.

Sudah saatnya mitos-mitos yang dihembuskan budaya patriarkat diberantas sampai habis sehingga perempuan dapat merdeka menentukan pilihannya, bekerja sesuai bidang minatnya dan berkontribusi di ruang publik.

Seorang pelukis, introvert yang mencintai feminisme.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *