Perjalanan Keluar Dari Hubungan Tak Sehat

Seringkali, teman-teman saya menceritakan tentang hubungannya yang tidak sehat (toxic relationship). Hal ini membuat saya terbakar emosi karena saya sendiri pernah jadi korban abusive relationship. Belum lagi kasus kekerasan oleh pasangan abusive yang sempat anyar juga bikin tambah miris.

Saat itu, saya minder untuk curhat meskipun saya ragu dengan kewajaran hubungan saya. Saya takut dicap tidak becus membina hubungan, juga takut ternyata dugaan saya benar. Hingga butuh perjalanan panjang untuk dapat memahami dan keluar dari hubungan yang abusive.

Saat menjalani hubungan ini awalnya saya menyalahkan diri saya sendiri dan merasionalisasi kalau saya yang kurang sabar dan pengertian. Waktu itu saya mengharapakan bisa pacaran lama hingga menikah.

Saya merasa kalau saya menyerah, berarti saya gagal. Saya juga mencoba berpikir kalau semua orang pasti punya kekurangan dan belum tentu kalau saya meninggalkan dia, saya bisa dapat yang lebih baik. Ketika sudah putus pun, saya masih dihantui perasaan kalau pasangan selanjutnya ternyata bisa menangani dia, itu berarti saya yang gagal. Saya selalu dibuat merasa ada kompetisi terhadap perempuan lainnya.

Saya pun mentolerir dia karena latar belakangnya. Contohnya, karena dia tak ada role model, keluarga dia kurang harmonis, masa kecilnya kurang bahagia, dia pernah dikhianatin mantan, dan seterusnya. Belum lagi akumulasi kehancuran rasa percaya diri dan harga diri akibat manipulasi yang mengecilkan diri saya (gaslighting): “Kamu tuh harusnya tahu diri. Orang lain belum tentu mau sama kamu.” 

Mantan saya yang kedua adalah yang paling parah. Pengalaman dengan dia lah yang membuatku diam-diam mencari tahu apakah model hubunganku normal atau tidak. Akhirnya saya sadar, saya sering terjebak dalam siklus hubungan yang tidak sehat

Saya selalu memulai hubungan ketika saya dalam keadaan rendah diri setelah di-abuse oleh pasangan sebelumnya. Saya mencari validasi eksternal juga ceroboh menilai calon pasangan. Ini adalah kesalahan yang fatal. Orang-orang abusive biasanya mempesona dan tahu bagaimana memikat calon korbannya, kalau kita cermat selalu ada tanda-tanda di awal. Dia tahu cara memanipulasi korban berikutnya.

Baca:  Mendesak Negara Tak Abai Melawan COVID-19

Jadi bagaimana saya keluar dari hubungan ini? Saya berusaha mengenali apa itu abusive relationship.

Dilansir dari Psych Central, ada 21 ciri hubungan abusive yang kalau dirangkum sesuai dengan pengalaman saya intinya: 

Dia sering bikin kamu minder dibalik kata-kata “cuma bercanda”
Dia suka membandingkan, berkata kasar atau sarkastik, termasuk memberi kritik berlebihan meskipun hal itu benar. Misalnya, “Malu aku jalan sama kamu. Kamu gendut kayak kebo. Aku jadi cranky karena kamu jelek.

Dia dengan sengaja nyuekin kamu supaya kamu tersiksa aja sih
Hal ini bisa karena kamu melakukan sesuatu yang ia tak suka juga bisa tanpa alasan. Dia bisa menghilang berhari-hari lalu kembali tanpa penjelasan. Tapi malah kamu yang jadi ngerasa bersalah dan minta maaf karena kamu potong rambut atau karena post-ingan ngga estetik kamu bikin dia kesal.

Dia super moody, rasanya seperti di ladang ranjau
Mood dia bikin kamu berasa main tebak-tebakan. Kamu jadi merasa bertanggungjawab atas kestabilan dia dan akan berusaha supaya dia ngga ngilang/murung/ ngambek/ngamuk. Parahnya, kamu akan ngerasa gagal kalo itu terjadi. Ngga jaran, hal-hal di luar hubungan kamu yang bikin dia kesal akan dia salahin ke kamu.

Dia sering mengancam atau maksa kamu melakukan sesuatu
Ingat ya, pasangan yang baik nggak akan mengancam kayak mafia. Contoh pengancaman: “Kalo gigi kamu tetep tonggos tanpa behel sampe wisuda, aku ngga bakalan datang ke wisuda kamu.” Contoh lain yang paling umum “Kalo kamu ga ngizinin aku untuk berhubungan seks sama kamu, aku akan cari yang lain. Coba kalo si Bunga. Dia pasti ga bakal mikir dua kali.”

Posesifnya tidak normal 
Dia secara halus maupun terang-terangan mencegah kamu berhubungan sama teman dan keluarga kamu sendiri, juga dalam melakukan hal yang kamu suka. Dia bisa aja nuduh kamu genit sama temen lelaki. Dengan temen perempuan pun dia bakal bilang, “Aku ga suka sama si Bunga. Kurang-kurangin lah temenan sama orang kayak gitu.” Dia juga ngga suka kalo perhatian kamu terbagi ke hobi kamu. Anehnya, enggak jarang pasangan abusive adalah tukang selingkuh. 

Baca:  Bukan #TimIstriSah tapi #TimDukungPerempuan

Nah dominasi sistematis yang dilakukan oleh pasanganmu ini yang bisa meminimalisir pandangan kamu terhadap dunia luar supaya kamu tidak sadar hubungan ini sudah tidak beres. 

Buat kamu yang tak pernah ngalamin ini secara pribadi tapi kenal dengan orang yang jadi korban kekerasan, berilah dukungan supaya dia berani meninggalkan hubungan tersebut. Jangan dihakimi.

Ada banyak faktor yang membuat seseorang susah menyelamatkan diri dari abusive relationship, termasuk keyakinan si korban bahwa si pelaku bisa menjadi orang yang lebih baik. Padahal seseorang tak bisa mengubah orang lain, jika orang lain tak memiliki keinginan untuk mengubah dirinya. Kenali mana kekurangan yang bisa diperbaiki, mana yang bisa ditolerir, dan mana yang udah jadi karakter yang mandarah-daging.

Tentunya sebelum kita menjalin hubungan kita harus bisa memenuhi validasi dari dalam diri kita sebelum melanjutkan hubungan dengan orang lain.

Sayangi dan hargai diri sendiri dulu. Ketika kamu mencintai diri kamu dan merawat dirimu sendiri, kamu tidak akan menerima perlakuan yang tidak pantas dari orang lain.

Winnie, 26 tahun dan dikaruniai seorang suami yang baik dan seorang bayi yang lucu. Experience made me a self-proclaimed expert on abusive pattern.

Leave a Comment

%d bloggers like this: