Kenapa Ibu Saya Lebih Unggul dari Lelaki

Perempuan tak ubahnya seperti objek yang hanya dinikmati saja. Anggap saja, rumah sebagai penjara yang menyesakkan serta pekerjaan rumah tangga yang dianggap satu satunya pekerjaan yang dianggap pula sebagai simbol kasih sayang seorang perempuan terhadap keluarganya.

Kita semua tahu bahwa perempuan bisa melakukan apa yang laki-laki lakukan. Yang menjadi pertanyaan disini adalah, mengapa harus perempuan saja yang menanggung beban tersebut?

Analisa ini bermula dari keprihatinan saya melihat ibu saya yang pontang-panting membersihkan rumah dari mulai halaman depan, hingga belakang satu harian penuh seorang diri setiap hari. Ketika saya menengok ke ruangan lain di rumah yang sama, ayah dan kedua adik laki-laki saya tenang-tenang saja seakan pemandangan ibu yang membersihkan rumah tersebut adalah pekerjaan yang lumrah saja dilakukan oleh perempuan.

Apa yang saya lihat di depan mata kepala saya itu adalah suatu wujud superioritas laki-laki terhadap perempuan. Hal tersebut terjadi dalam kurun waktu yang lama hingga secara tidak sadar, indoktrinasi tersebut mendarah daging pada setiap keturunan seluruh ibu di seluruh dunia.

Bahwa, melakukan pekerjaan rumah adalah lumrah dilakukan oleh perempuan, dan laki-laki tidak pantas melakukan kegiatan seperti mencuci piring, menyapu, mengepel, bahkan memasak. Pekerjaan domestik atau yang sifatnya merawat seperti ini dianggap dapat menghilangkan kejantanan lelaki.

Laki-laki merasa diri mereka adalah satu-satunya makhluk yang ‘menikamti’ segala bentuk pekerjaan perawatan yang perempuan lakukan. Secara tidak langsung, mereka ingin mengatakan bahwa mereka lahir untuk menjadi superior, tidak penting bagi mereka untuk tahu bagaimana sejarah lahirnya laki-laki dan perempuan itu ada.

Sebagian besar masyarakat Indonesia menganggap pekerjaan perawatan tidak menghasilkan secara finansial, dan dianggap pekerjaan kelas rendahan yang dilakukan sebagai bentuk kesukarelawanan perempuan terhadap ‘rumah’ nya bersama suami dan anak. Padahal tanpa adanya pekerjaan perawatan yang dilakukan perempuan, apakah lelaki bisa bekerja melakukan pekerjaan yang katanya menghasilkan uang itu?

Baca:  Apakah Transgender itu Pilihan atau Takdir?

Pekerjaan laki-laki seperti bekerja di kantor, perusahaan lebih ‘menghasilkan’ secara finansial. Maka, tidak heran karena stigma pekerjaan kelas bawah tersebut, perempuan dibatasi haknya untuk belajar sesuatu yang lain. Ia tidak bisa bertemu dengan kawan-kawan semasa sekolah, setelah menikah ia hanya dituntut untuk membersihkan rumah, memasak, mengurus anak, bahkan setelah masa pesakitannya melahirkan yang sungguh tidak mudah, perempuan tetap diwajibkan untuk menyusui anak, memandikan anak dan lain-lain.

Jangan lupakan pula bahwa terbatasnya ruang gerak perempuan. ia tidak memiliki keahlian apapun. Akibat dari kosntruksi ini, ketika Pekerja Rumah Tangga dikomersilkan, maka tidak salah data statistik menunjukkan DKI Jakarta menempati posisi pertama dengan PRT terbanyak di Indonesia sebesar 901.566 Orang, disusul Jawa Timur sebanyak 402.762 orang di tahun 2003.

Laki-laki sedikitpun tidak pernah merasakan bagaimana sakitnya melahirkan, bagaimana seorang perempuan membawa anaknya yang berusia 0 hingga 9 bulan seorang diri , bahkan ketika sang ibu mengalami menstruasi yang sakitnya minta ampun itu laki-laki tidak merasakan hal serupa. Tidak pernah sekalipun!

Bahkan, ketika saya memprotes ibu saya, mengapa ibu saya tidak pernah menyuruh ayah atau adik laki-laki saya membantunya, jawaban beliau sungguh membuat saya trenyuh. “Ini adalah pekerjaan mudah, ibu bisa melakukannya seorang diri.”. Harus dengan cara apa menyadarkan, agar laki-laki sekalian mau berbagi porsi pekerjaan merawat?

Setelah lebih dari setengah abad, Indonesia masih tetap masuk ke dalam Negara ketiga atau Negara berkembang? Padahal, sudah berapa kali pergantian presiden di Republik ini terjadi? Sudah berapa banyak Undang-Undang yang dibuat? Namun, masih banyak masyarakat yang hidup berada di bawah garis kemiskinan.

Mungkin di antara kawan sekalian banyak yang sudah menilik data kemiskinan Indonesia setiap tahun berkurang? Tapi itu tetap tidak selaras dengan hitung-hitungan ibu saya di rumah yang gajian berapapun banyaknya tetap habis dalam waktu yang singkat karena harga sembako yang naik, biaya sekolah anak yang tinggi, belum lagi harus membeli kebutuhan rokok ayah saya yang harganya bisa 3 kali lipat uang saku adik saya per bungkusnya.

Baca:  Apakah Meneladani Nabi Harus Dengan Poligami?

Hitung-hitungan seorang ibu rumah tangga nampaknya mencerminkan potret kemiskinan di Indonesia. Ini, karena perempuan yang memiliki perspektif perempuan tidak banyak menduduki jabatan yang memiliki kekuasaan untuk memutuskan kebijakan.

Pada akhirnya, seorang perempuan lebih tahu kebutuhan dan keadaannya dalam rumah tangga. Seperti halnya perempuan-perempuan yang dulu berkongres, mereka membahas mengenai harga sembako yang tinggi. Sayangnya keluh kesah perempuan jarang didengar oleh negara, karena menganggap ini masalah perempuan yang harus diselesaikan oleh perempuan masing-masing.

Kemerdekaan hanya dimiliki segelintir pejabat negara yang terpilih oleh rakyat. Mereka berada pada posisi yang nyaman sehingga tak mungkin mereka membuat kebijakan yang menghilangkan kenyamanan mereka.

Politisi mengatakan, budaya masyarakat Indonesia adalah gotong royong, tapi saya tidak melihat gotong royong itu bahkan di dalam rumah saya. Saya masih melihat penindasan sepihak dan superioritas laki-laki yang kian hari semakin besar terhadap perempuan, yang tidak lain adalah ibu saya sendiri.

Tenang saja, pekerjaan mencuci piring dan mencuci baju tidak akan membuat kamu kehilangan kejantanan kamu.

Sebenarnya Ibu saya lebih unggul daripada lelaki di rumah saya, karena ia bisa melakukan segala pekerjaan dari mencuci piring hingga berladang. Kalau ada yang menganggap lelaki lebih kuat daripada perempuan, mereka salah besar. Tentunya ibu saya adalah cerminan perempuan Indonesia begitu pula ibu-ibu puan sekalian.

One Reply to “Kenapa Ibu Saya Lebih Unggul dari Lelaki”

  1. Bagus… isunya tetap menjadi isu kekinian walaupun terus dan terus dibahas. Pada sebagian masyarakat memang masih terkonstruk bahwa seluruh pekerjaan domestik rumahtangga adalah tugas istri atau ibu. Bahkan banyak kasus perempuan jg harus ikut mencari nafkah sekaligus bertanggung jawab penuh terhadap pekerjaan rumah tangga. Meskipun demikian, saat ini semakin muncul kesadaran bahwa pekerjaan domestik rumah tangga adalah tanggung jawab bersama suami dan istri, serta anak-anak jika anak sudah cukup besar. Hal ini perlu juga ditambahkan agar tulisan makin berimbang, karena fenomena di masyarakat memang ada dua sisi tentang kondisi perempuan. Ada yang menjadi sosok yang mengambil alih semua tugas rumah tangga, ada pula yang “beruntung” memiliki pendamping yang sangat pengertian dan punya kesadaran tinggi untuk meringankan “tugas” perempuan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *