Ika Vantiani: Ganti Penjalasan Kata Perempuan Dalam KBBI

Pernahkah kamu melihat definisi perempuan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia? Atau setidaknya melihatnya dalam tesaurus atau referensi daftar kosakata yang diasosiasikan dengan kata perempuan. Kamu akan melihat bagaimana kata penjelasan perempuan diasosiasikan dengan kata geladak, jahar, jalang, lacur, lecah, nakal hingga simpanan.

Penjelasan kata sendiri merupakan kata turunan. Dalam hal ini kata turunan dari kata perempuan diasosiasikan kepada sekualitas perempuan. Padahal tidak semua perempuan merupakan pekerja seks. Dan masih ada penjelasan kata perempuan yang tidak selalu berkaitan dengan seksualitas perempuan. Inilah yang membuat Ika Vantiani, seorang seniman gelisah melihat kamus yang dirujuk untuk acuan berbahasa.

https://kbbi.web.id/perempuan
http://tesaurus.kemdikbud.go.id/tematis/lema/perempuan
http://tesaurus.kemdikbud.go.id/tematis/lema/perempuan

“Kamus Besar Bahasa Indonesia yang menjadi acuan kita berbahasa, menarasikan perempuan dengan menseksualisasi dan mengobjektifikasi perempuan, tanpa memberikan ruang netral untuk mendekripsikan perempuan menggunakan konteks keseharian kita,” ucap Ika.

Kata pelacur yang disebut berkali-kali dalam KBBI daring keluaran Kementerian Pendidikan dan Budaya juga makin menarasikan perempuan dan melihat perempuan hanya sebagai organ reproduksi yang berjalan. Selain itu kata penjelasan perempuan dalam KBBI selalu mengacu pada organ reproduksinya seperti puki dan vagina.

Ika sendiri telah lama melakukan penelitian ini yaitu sejak tahun 2015. Ia mengadakan lokakarya Kata Untuk Perempuan untuk melihat kata-kata yang diasosiasikan dengan kata perempuan. Ia juga melakukan penelitian untuk melihat edisi cetak KBBI dari edisi I hingga V dan bagaimana kata penjelasan perempuan berkembang dari satu waktu ke waktu berikutnya. Kini ia sedang menelusuri orang-orang yang terlibat dalam merumuskan KBBI.

Menurut Ika, kata perempuan memiliki etimologi yang luar biasa. Perempuan yang berasal dari kata empu memiliki makna kebijaksanaan dan orang yang ahli dalam suatu hal. Ia mempertanyakan kenapa harus membayangkan perempuan seccara seksual dan tidak melihat asal muasal kata tersebut.

Perempuan sendiri sebenarnya memiliki kebijaksanaan yang dilahirkan dari pengetahuan yang dia dapatkan. Kedekatannya dengan alam melahirkan pengetahuan yang membuatnya paling menguasai tentang hidupnya. Oleh karena itu sudah sepantasnya perempuan didefinisikan sebagai manusia yang memiliki pengetahuan dan ahli dalam pengalaman hidupnya.

Baca:  Feby Indirani: Meretas Diskriminasi Terhadap Perempuan Lajang

Ika sendiri tidak membandingkan bagaimana perlakuan KBBI terhadap kata Wanita dan Laki-laki, namun ia melihat fakta bahwa ada hal yang menarik dalam mendefinisikan kedua kata tersebut.

Ika menilai bahwa karena Perempuan adalah subjek manusia yang utuh oleh karena itu ia tidak merasa perlu membandingkan keduanya atau mengaitkan keduanya.

Oleh karena itu, ia menuntut agar kata penjelasan Perempuan dalam KBBI diganti dengan kata turunan yang lebih netral seperti kakak perempuan, adik perempuan dan lainnya. Setidaknya perempuan ditetapkan sebagai subyek atas dirinya sehingga narasi tentang perempuan yang dilihat sebagai objek seksual tidak seterusnya berlanjut.

Ika melihat ada kaitannya bagaimana narasi perempuan dalam KBBI berkaitan erat dan memotivasi kekerasan terhadap perempuan yang ada. Hal ini bisa dilihat dari kalimat yang dicontohkan dalam kamus seperti: banyak tentara pendudukan yg melanggar keperempuanan wanita desa.

Di dalam KBBI kita bisa melihat kata perempuan dijadikan sebuah objek dan dikaitkan lagi dengan keabsenan seksual perempuan yang diagungkan dalam kesucian. Belum lagi penempatan kata ini dinarasikan dalam posisi kekerasan seksual, padahal definisi tentang keperempuanan bisa tidak dikaitkan dengan hal yang seksual, namun bisa dikaitkan dalam pengalaman pendewasaan perempuan untuk mandiri dan berdaya.

Dok.: Instagram Ika Vantiani

Selama ini tanggapan atas inisiasi Ika sangat beragam dan ia melihat bahwa ada dialog yang dibangun. Terlepas apapun opini publik ia percaya bahwa dengan dibangunnya dialog, dia berusaha menghilangkan stigma buruk yang melekat dengan kata perempuan.

Sayangnya ketika Ika menyampaikan keberatannya kepada Kemendikbud perihal tentang kata penjelasan perempuan, ia tidak mendapatkan respon yang baik. “Orang-orang kemendikbud tidak memiliki perspektif bahkan cenderung memberikan stigma terhadap kata perempuan. “Lihat aja perempuan-perempuan di Tiktok, gitu (seperti pelacur) gayanya” seperti itu respon yang aku dapatkan,” Ucap Ika sambil mengingat pengalamannya bertemu dengan orang-orang dari kemendikbud.

Padahal kata penjelasan dalam KBBI diserap dan direkam dari keseharian masyarakat Indonesia menggunakan sebuah kata, dan tidak mencerminkan posisi negara. Tentunya kita lebih sering menggunakan kata penjelasan seperti anak perempuan, kakak perempuan, pegawai perempuan untuk menjelaskan perempuan. Namun kita bisa melihat bagaimana posisi negara ketika melihat kata perempuan. “Ada bias gender dalam mendefinisikan perempuan.”

Baca:  Feby Indirani: Meretas Diskriminasi Terhadap Perempuan Lajang

Ika melihat bahwa dialog ini penting untuk membangun kesadaran tentang bias gender yang ada. “Karena ini kamus besar bahasa Indonesia. Setiap orang yang belajar bahasa Indonesia, akan dibangun cara pandangnya melalui kamus ini. Penjelasan kata perempuan menjadi bahaya karena membangun narasi kekerasan terhadap perempuan di Indonesia. Acuan yang paling benar dan paling lengkap.”

Ika Vantiani adalah seorang seniman, kurator dan pengrajin yang tinggal di Jakarta. Pendidikan terakhirnya adalah D3 Periklanan dari The London Institute of Communications, Jakarta. Di dalam karya-karyanya Ika bereksplorasi dengan ide menjadi seorang perempuan dalam kehidupan saat ini yang berkelindan dengan media dan konsumsi di antaranya. Dengan menggunakan teknik kolase, Ika mengaplikasikannya pada lokakarya, zine, instalasi dan seni jalanan.

Sejak 2009, Ika sudah terlibat dalam berbagai pameran sebagai seniman dan kurator termasuk program satelit Pelicin yang menjadi bagian dari Jakarta Biennale (2013), WANITA: Female Artivism Jakarta! (2015), program pendamping IKAT/eCUT (2017), Breathing on paper (2017), Art Jog (2018), Fashion ForWords (2018), Biennale Jogja (2019) dan masih banyak lagi.

Seorang feminis Jawa yang sesekali melakoni sebagai dokter gigi serta melawan segala ketidakmungkinan untuk menemukan cinta, kehidupan, dan semangat hidup.

Leave a Comment

%d bloggers like this: