Dimanakah Ilmuwan Perempuan Indonesia?

Saya yakin tidak banyak dari kita yang tahu bahwa 11 Februari merupakan international day of women and girls in science. Perlu kita ketahui, jumlah perempuan di bidang matematika dan ilmu pengetahuan alam (MIPA) kecil. Berdasarkan data UNESCO, dibandingkan lelaki, hanya ada 30% peneliti perempuan di dunia dan hanya 35% perempuan yang mendaftar untuk belajar Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM).

Apakah fakta tadi cukup mengusik? Pernahkah kita mempertanyakan keberadaan para ilmuwan perempuan Indonesia? Dimanakah mereka? Di laboratorium? Lembaga riset? Atau terpojok di lingkungan yang pelik isu-isu kesetaraan?

Menengok kembali masa-masa sekolah, saya kira orang tua sering menakar kecerdasan anak-anaknya melalui kemampuan mereka dalam MIPA. Namun sedikit saja anak yang akhirnya menekuni MIPA murni.

Kecenderungan tersebut saya lihat saat belajar kimia di fakultas sains dan teknik. Kimia bukan pilihan pertama. Sebagian besar mahasiswa masuk jurusan itu karena kimia sepi peminat.

Dalam satu angkatan, jumlah mahasiswa perempuan lebih banyak dan mereka lebih berprestasi dibandingkan lelaki. Namun, setelah lulus, tidak banyak perempuan bisa bekerja di bidang yang linear dengan pendidikannya. Sains bisa jadi kurang populer di Indonesia. Perempuan yang menekuni sains kemudian harus berhadapan dengan pilihan dilematis untuk mengembangkan diri lewat bidang itu.

Saat saya lulus di tahun 2008, tidak banyak organisasi yang membutuhkan sarjana sains murni. Jikapun ada, lelaki seringkali lebih diprioritaskan. Mengikuti jejak para senior, saya kemudian bekerja sebagai guru kimia di salah satu SMA dan melamar di berbagai bank. Hal ini menurun di berbagai angkatan.

Setelah beruntung bekerja sebagai analis, saya merasa bangga menemukan banyak ilmuwan perempuan yang berperforma kerja baik di berbagai laboratorium lingkungan. Perempuan mendominasi laboratorium kami dan semuanya handal dalam pekerjaan teknis dan manajemen. Hal ini tidak mudah dalam keterbatasan staf.

Baca:  Perempuan Resah

Hanya saja, di awal bekerja, saya menyadari bahwa perempuan butuh usaha lebih daripada lelaki untuk unjuk diri. Para lelaki kerap lebih diprioritaskan untuk mengikuti professional training meski perempuan lebih unggul dalam kerja. Kadang pula ada pandangan dangkal bahwa mencuci alat laboratorium adalah tanggung jawab perempuan. Hal ini memicu pertanyaan dalam hati saya, apakah koki lelaki tidak mencuci di dapurnya?

Pandangan tadi merefleksikan kekeliruan yang terlanjur eksis dalam masyarakat kita. Lelaki dan perempuan diasosiasikan dengan pekerjaan tertentu. Jauh sebelumnya, seorang dosen pernah berkata bahwa kimia adalah bidangnya lelaki. Perempuan dilarang mengenakan rok ketika masuk laboratorium dan harus meminimalkan kontak dengan area kerja beresiko. Kelak saya mengerti bahwa itu adalah mekanisme lazim pengamanan diri dan berlaku juga bagi lelaki. Laboratorium akan aman bagi siapa saja sejauh prosedur keselamatan kerja diberlakukan.

Bagi saya, jika kita terfokus pada bahaya, tidak banyak orang sudi menekuni sains. Mungkin banyak ilmuwan perempuan yang mundur karena lebih melihat resiko kerja daripada manfaat sains bagi masyarakat. Pekerjaan laboratorium menguras banyak energi dan waktu karena mempersyaratkan ketekunan, kesabaran, kewaspadaan, dan ketahanan mental dalam menghadapi aneka ketidakpastian hasil analisa.

Selanjutnya, pemanfaatan data sains akan melibatkan orang-orang non-sains. Konflik nilai akan membuat sains kerap dipandang tidak perlu dilibatkan karena rumit dan mahal. Data kualitas lingkungan, misalnya, seringkali tidak diakomodir dalam manajemen dan kebijakan lingkungan. Padahal data merupakan sumber informasi untuk memahami kondisi terkini, memprediksi dampak, dan menyiapkan masyarakat menghadapi ketidakpastian di masa depan.

Antusiasme pada sains padam di lingkungan yang menyepelekan bidang itu maupun peran perempuan disana. Ini perlu kita cegah.

Ingat, dunia pernah punya Marie Curie, si pioner penelitian radioaktif yang terlibat menghadirkan X-ray untuk mendeteksi cedera sepanjang perang dunia pertama. Tahun 2018, Frances Arnold menyusul jejak Curie menang nobel kimia lewat penelitian enzimnya. Indonesia punya menteri kesehatan dan lingkungan hidup perempuan. Saya yakin banyak ilmuwan lain yang eksis di tengah masyarakat kita dengan beragam kontribusi positif.

Baca:  Pernikahan dan Krisis Eksistensi

Kita butuh sains untuk memastikan pembangunan berkelanjutan. Kita butuh kerjasama laki-laki dan perempuan untuk memastikan sains punya ruang untuk peran itu.

Sejauh ini, pemberdayaan perempuan Indonesia terfokus pada entrepreneurship. Tapi kita juga punya banyak sarjana sains perempuan yang rindu mengimplementasikan ilmu mereka. Mengapa tidak kita dorong mereka menjadi pemimpin di bidang yang mereka cintai?

Untuk itu, kita perlu memastikan laboratorium dan area kerja ilmuwan lainnya bebas pandangan-pandangan seksisme. Lapangkan kesempatan ilmuwan berkontribusi positif. Lengkapi area kerja itu dengan perangkat analisa dan pengaman diri yang memadai.

Rasio staf lelaki dan perempuan perlu dipertimbangkan. Lelaki perlu ada untuk kerja-kerja sains di daerah-daerah dan waktu-waktu beresiko, mengingat lingkungan kita masih rawan pelecehan terhadap perempuan.

Peran ilmuwan perempuan tidak perlu dikerdilkan lewat penyerangan terhadap status perkawinan dan tanggung jawab mereka dalam keluarga. Melajang bukan dosa. Perempuan pekerja mendukung kesejahteraan keluarga. Beri mereka kesempatan untuk melanjutkan pendidikan dan jangan hambat peningkatan karir profesionalnya.

Saat kontak dengan laboratorium dihindari sepanjang masa kehamilan, baiknya perempuan diijinkan menyentuh area profesional lain yang terhubung keahlian mereka. Sebaiknya pula ayah-ayah punya cuti untuk berbagi tugas pengasuhan anak, sehingga kerja profesional perempuan tidak mati.

Fakultas sains juga perlu mendorong porsi seimbang dosen dan peneliti perempuan dalam kegiatan-kegiatan ilmiah. Promosi, kaderisasi, dan berbagai dukungan akan melestarikan keberadaan ilmuwan profesional dan peran-peran positif sains.

Terakhir, jangan putus asa, perempuan-perempuan ilmuwan! Teruslah berkontribusi.

Perempuan yang sesekali menulis setelah letih mengurus laboratorium. Beberapa tulisan bisa dibaca di emptysphere.blogspot.com dan viejournalcom.wordpress.com.

Leave a Comment

%d bloggers like this: