Sampai Kapanpun Istri Berhak Menolak Seks

Dalam konstruksi masyarakat yang cenderung patriarki, perempuan memiliki porsi lebih banyak. Iya, lebih banyak, lebih banyak untuk menerima kerugian. Masyarakat selalu memiliki standar tertentu yang ditetapkan khusus untuk perempuan. Banyak bertebaran narasi-narasi tentang perempuan yang mungkin kita ikut mengamininya. Salah satunya yang membuat saya harus mengerutkan dahi adalah narasi mengenai tubuh perempuan. 

Banyak anggapan yang masih melenggang dalam masyarakat kita mengenai tubuh perempuan. Biasanya yang paling sering saya dengar adalah narasi yang mengatakan bahwa tubuh perempuan adalah milik ayahnya ketika belum menikah, dan menjadi milik suaminya ketika sudah menikah. Narasi semacam ini seakan menghilangkan diri perempuan itu sendiri yang semestinya memiliki otoritas penuh akan tubuhnya. 

Imbas dari narasi-narasi patriarkal ini menjadikan perempuan seakan harus tunduk dan patuh kepada laki-laki. Apalagi saat sudah menikah. Seringkali suami akan memaksa istrinya untuk berhubungan seks, tanpa ada konsensus di antara keduanya. Atau suami dengan sekehendak hati menghamili istrinya, tanpa keduanya secara sadar menginginkan dan siap dengan kehadiran anak. Tentu saja perempuan sangat dirugikan.

Biasanya istri dalam hal ini cenderung diam dan menurut dan melakukannya dengan keterpaksaan. Seperti apa yang dialami oleh saudara perempuan saya yang telah bersuami. Kebetulan kami memang dekat, sehingga ia banyak bercerita kepada saya utamanya soal kehidupan rumah tangga. Salah satunya adalah saat berhubungan badan. 

Saudara perempuan saya pernah menceritakan satu kejadian yang membuat saya geleng-geleng kepala. Pernah saat ia dalam kondisi sangat lelah karena bekerja dan mengurus rumah, namun di malam harinya ia dipaksa berhubungan badan dengan suaminya. Ketika saya tanya perihal komunikasi sebelum berhubungan badan, ternyata tidak ada komunikasi sama sekali. Akhirnya dengan keterpaksaan ia melakukannya. 

Saya merasa miris, ketika saudara saya justru rela melakukannya walaupun tidak ingin dan dalam kondisi lelah. Apalagi ia berpedoman bahwa ia takut mendapat dosa jika menolak ajakan suaminya untuk berhubungan badan. Ia juga beranggapan bahwa sudah menjadi tugas perempuan untuk melayani suaminya kapan pun dan di mana pun suami memintanya. Satu alasan yang diutarakannya dan membuat saya harus menghela nafas panjang adalah dengan melayani suaminya di ranjang, dirasanya akan meminimalisir suaminya ‘jajan’ di luar rumah. Ini konyol sekali. 

Baca:  Tak Perlu Malu Menjanda

Bagi saya, tubuh perempuan adalah miliknya sendiri. Sampai kapan pun, pemegang kontrol tubuh perempuan adalah dirinya sendiri. Tubuh dan diri perempuan tidak akan berpindah kepemilikan dari ayah ke suami.

Ini tubuh, bukan harta warisan. Meskipun sudah menikah, bukan berarti tubuh perempuan menjadi hak sepenuhnya suami. Apalagi sampai berani mengontrol penuh. 

Seharusnya perempuan memiliki kesadaran akan hal ini. Perempuan dengan segala daya yang dimilikinya memiliki hak sepenuh-penuhnya dan seluas-luasnya terhadap tubuhnya sendiri. Tidak ada yang boleh mengontrol tubuh perempuan. 

Jika menyoal mengenai berhubungan badan dalam rumah tangga, seharusnya ada komunikasi terlebih dahulu. Harus ada konsensus di antara keduanya. Tidak boleh ada yang memaksa dan dipaksa. Dalam berhubungan badan semestinya dilakukan atas dasar suka sama suka, dan dengan kesadaran penuh. 

Meskipun si istri menggunakan alasan “karena Islam”, saya rasa Islam tidak kaku begitu. Islam juga mempertimbangkan aspek thayyib. Bahkan dalam Islam, memaksa orang untuk masuk Islam jika bukan kesadaran dirinya sendiri, maka itu dilarang. Apalagi jika ada yang memaksanya berhubungan seks. Maka saya yakin, Islam begitu lembut dan baik, tentu juga menyukai cara yang baik. 

Menolak seks, itu dibolehkan. Apalagi jika memang dalam kondisi lelah, sakit, atau memang benar-benar tidak ingin. Namun, sebaiknya memang disampaikan dengan cara yang baik. Maka dalam posisi ini, suami harus dapat memahami. 

Memang tidak cukup banyak laki-laki yang sadar bahwa perempuan berhak atas tubuhnya sendiri. Terkadang laki-laki apalagi seorang suami dengan egoisnya menganggap bahwa istrinya adalah miliknya sepenuhnya. Sehingga yang sering terjadi, suami memperlakukan istrinya sekehendak hatinya. Minta dilayani di ranjang dengan menggunakan dalih agama lagi, tanpa mempertimbangkan kondisi istri. Ya gak gitu aturannya cuyy.  

Baca:  Perjalanan Keluar Dari Hubungan Tak Sehat

Padahal hal seperti ini jelas keliru. Dalam rumah tangga, semangat kesalingan itu penting. Dan bersama-sama mewujudkan cinta yang setara. Bukannya malah mencoba menghegemoni. 

Terkadang memang laki-laki acuh terhadap hal ini. Seperti soal kehamilan. Suami dengan gampangnya menghamili istri, tanpa bertanya apakah si istri menginginkan dan siap.

Saya jadi teringat dengan penyanyi Justin Bieber yang memiliki istri bernama Hailey Baldwin. Ada satu statement Justin ketika ditanya soal anak. Justin menjawab bahwa itu menjadi hak dari Hailey, karena Hailey berhak atas tubuhnya sendiri. Ini sangat menyentuh bagi saya. 

Memang seharusnya dalam rumah tangga, urusan perencanaan kehamilan harus atas dasar konsensus. Ya kalau suami mah kagak hamil, lha yang harus hamil kan istri.

Perkara mengandung itu tidak mudah, apalagi selama 9 bulan yang pasti melelahkan. Dan ini hanya bisa dirasakan perempuan. Jadi, jangan asal menghamili ya bapak-bapak sekalian, pertimbangkan juga istrimu masing-masing. 

Saya ingin mengatakan kepada seluruh perempuan, bahwa tubuhmu adalah sepenuhnya milikmu. Betapapun sudah menikah, diri dan tubuhmu tetaplah milikmu.

Tubuhmu adalah otoritasmu, dan dirimulah pemegang kendalinya. Perempuan berhak menolak dan berkata tidak jika itu benar-benar tidak diinginkannya. 

Leave a Comment

%d bloggers like this: