Jadi Janda atau Menderita?

Kadang dalam hidup kita dihadapkan pada pilihan-pilihan yang membuat kita takut. Terlebih saat harus memilih antara dua pilihan yang sama tidak enaknya atau sama tidak idealnya, menjadi janda atau menderita?

Saya adalah seorang janda dan perempuan mandiri yang sudah bekerja lebih dari 20 tahun di berbagai industri, mulai dari bisnis hiburan sampai ke periklanan. Semenjak saya diundang untuk menjadi pembicara dan memberikan pandangan saya di salah satu TV nasional tentang perselingkuhan dan rasanya jadi janda, akun Instagram saya lalu dipenuhi dengan pesan pribadi perempuan-perempuan yang menceritakan kisahnya yang mirip kepada saya. Mereka bertanya dan meminta saran ke saya, orang yang sama sekali mereka tidak kenal melalui direct message Instagram, tentang pernikahan mereka.

Pernikahan yang buruk dan status Janda, mengajari saya untuk mengedepankan empati saat menerima curhatan mereka. Pengalaman ‘buruk’ saya lalu saya jadikan penyemangat untuk menginisiasi komunitas Perempuan Tanpa Stigma (PenTaS) dengan tagar #PerempuanTanpaStigma. Wadah yang aman dan nyaman bagi para perempuan untuk curhat dan saling menguatkan. Memfasiliasi mereka untuk berekspresi tanpa harus takut ada yang julid, bebas berpendapat tanpa takut diajak debat, saling berbagi ilmu, dan saling menginspirasi.

Hampir semua perempuan yang curhat ke saya merasakan kebuntuan dan saat melihat postingan saya, mereka merasa kalau saya mungkin bisa memberikan mereka saran yang objektif.

Lantas, kenapa mereka tidak pergi ke orang terdekat mereka untuk mencari perlindungan? Apakah mereka takut, atau malu?

Takut kalau keluarga akan menyalahkan mereka, takut kalau keluarga tidak akan mengerti, takut kalau keluarga akan memaksakan mereka untuk mengambil keputusan saat mereka belum siap. Mereka juga malu kalau orang luar tau bahwa pernikahannya ‘bermasalah’ dan mereka tidak bahagia.

Menderita yang saya sebutkan di judul tulisan ini bukan hanya sekedar cekcok yang mungkin masih dalam batas kewajaran, tapi yang sudah berhubungan dengan kekerasan fisik. Tamparan, tendangan, tonjokan, disertai makian dan ancaman.

Perempuan-peremuan ini masih banyak yang bertahan dan bertanya ke saya ‘Apakah pernikahan ini bisa dipertahankan?’

Saya tau kalau rasanya aneh masih ada orang yang sudah dipukuli berkali-kali tapi masih mau berusaha mempertahankan rumah tangganya. Sangat banyak perempuan yang curhat ke saya adalah perempuan yang berpendidikan tinggi, dengan pekerjaan yang cukup baik, jadi pendapat ‘mungkin perempuannya kurang pendidikan jadi mudah dibodohi’ itu salah.

Baca:  Memilih tak Bekerja Juga Hak Ibu

Kekerasan dalam rumah tangga bisa terjadi pada SIAPAPUN, tanpa melihat status ekonomi, intelegensi, kecantikan, bentuk tubuh, atau apapun juga.

Kenapa mereka bertahan? Selain alasan klasik khawatir anak jadi ‘korban’ perceraian, banyak juga pada akhirnya mengakui, kalau alasan mereka masih bertahan karena mereka berpikir mereka adalah perempuan yang kuat, dan merekalah satu-satunya manusia di dunia ini yang bisa mengubah kekerasan hati suami mereka.

Mereka masih percaya bahwa kekuatan cinta dan doa akan bisa menyelamatkan rumah tangga mereka. Karena tiap kali terjadi kekerasan, sang pasangan akan meminta maaf; memohon ampun, bersimpuh di kaki sang istri dengan bercucur air mata. Ya! Masih banyak perempuan yang merasa mereka HARUS bertahan karena terjebak psychological trap disguised as love. Jebakan psikologis berkedok cinta.

Kalian akan terkejut melihat betapa banyak perempuan yang memilih tetap bertahan daripada mereka harus menjanda. Status janda lebih menakutkan buat mereka daripada harus menghadapi suami yang kasar, yang mereka yakini ‘suatu hari’ akan bisa berubah. Mereka memahami bahwa status janda artinya mereka gagal, gagal mempertahankan, gagal memperbaiki, dan gagal menjadi pasangan yang baik sampai maut memisahkan.

Sebagai gambaran, kamu bisa mendengar lagu Lovefool-nya The Cardigans? Lagu itu menceritakan betapa sang perempuan tidak peduli apapun yang dilakukan oleh pasangannya selama dia tidak ditinggalkan. Tidak dicintaipun tak mengapa, dibodohipun tak masalah selama sang laki-laki tetap bersamanya.

Mereka akan putar otak apa lagi yang bisa mereka lakukan agar sang suami tidak melakukan kekerasan. Mereka akan menyalahkan diri mereka sendiri, bahwa merekalah yang membuat sang suami memukul mereka.

Sebagai janda beranak satu, saya mengalaminya sendiri, ditinggalkan setelah saya melakukan apapun yang saya bisa untuk mempertahankan pernikahan saya. Saya bisa bilang kalau kenyataan ini menyedihkan, tapi ya itu… NYATA. Sad but true.

Saya pernah ada di posisi itu. Saya berusaha memperjuangkan agar pernikahan yang saya umpamakan sebagai ‘api unggun’ itu tetap berkobar. Saya terus menambahkan kayu bakar dan menyiramkan bahan bakar dengan harapan apinya akan terus berkobar. Tanpa saya sadari bahwa api unggun itu meredup bukan karena kekurangan bahan bakar, tapi karena pasangan saya terus-terusan menyiramkan air untuk memadamkannya.

Baca:  Kilasan Gerakan Perempuan di Indonesia

Pernikahan adalah keputusan untuk mengikatkan diri antara 2 individu. Saat laki-laki mengucapkan “Saya terima nikahnya…” artinya mereka juga bertanggung jawab memelihara pernikahan kalian. Saat perempuan memutuskan untuk menikah, mereka harus paham bahwa mereka tidak sedang menyerahkan hidup matinya di tangan sang laki-laki.

Perempuan harus paham bahwa mereka akan mengarungi kehidupan baru bersama seorang yang menjadi pasangannya, bukan pasangan yang pada akhirnya memperlakukan dengan buruk karena kamu adalah ‘miliknya’.

Sakinah. Mawadah. Warohmah. Tentram. Cinta. Kasih dan Sayang. Saat dalam rumah tangga sudah tidak ada lagi ketentraman, saat perlakuan pasangan padamu tidak menunjukkan kasih dan sayangnya padamu dan bukan refleksi kecintaannya pada Tuhan, apakah kamu masih mau mempertahankannya?

Saat kamu berpikir bahwa kekuatan cinta dan doamu akan bisa mengubahnya, tanyakan pada dirimu sendiri, apakah istilah ‘sampai maut memisahkan’ artinya sampai pasanganmu mencabut nyawamu?

Saya tidak punya pilihan. Saya ditinggalkan sehingga menjadi Janda. Pastinya beda dengan kalian yang merasa masih punya pilihan sehingga bertahan.

Tapi jika saya ada di posisi kalian dan harus memilih. Saya akan memilih jadi janda daripada menderita. Saya terlalu sayang pada diri saya sendiri untuk membiarkan siapapun menyakiti saya.

Saya terlalu sayang pada anak saya untuk membiarkannya terus melihat saya tersakiti. Saya terlalu sayang pada kedua orangtua saya untuk membiarkan mereka melihat anak yang mereka besarkan dengan penuh kasih diperlakukan buruk oleh pasangannya.

Saya terlalu mencintai Tuhan saya untuk percaya kalau Ia tengah menguji saya dengan pukulan-pukulan yang bisa membahayakan jiwa saya.

Lawan. Sayangi dan cintai diri kalian sendiri.

Salam sayang dari saya, seorang ibu dari anak laki-laki yang bahagia; seorang janda yang merdeka.

Biasa dipanggil KaPop, janda beranak 1 yang kini tengah merintis komunitas Perempuan Tanpa Stigma (PenTaS) yang bertujuan memberikan dukungan pada perempuan untuk melawan stigma negatif yang ditujukan pada mereka dengan berdaya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *