Kamu gak kayak cewek lain,” kamu pasti pernah mendengar ini ketika seseorang hendak mendapatkan hatimu dan menerimanya sebagai pacar.

Kamu gak kayak cewek lain,” Ucapnya, saat memberikan kamu gombalan.

Mungkin di masa sebelumnya kita akan merasa tersanjung apabila ada laki-laki yang mengucapkan hal tersebut kepada kita, tetapi sudah saatnya kita mulai memikirkan ulang bentuk rayuan tersebut. Kita harus mulai menanyakan pertanyaan yang vital terkait hal ini, “Memangnya ada salah apa dengan perempuan lain?”

Pujian ini mengandung agresi mikro yang terselubung didalamnya. Perkataan klasik ini menempatkan dua orang atau lebih perempuan ke dalam suatu kontes atau perbandingan antara siapa yang paling baik atau yang lebih buruk. Kata-kata “tidak seperti perempuan lain” dapat mengimplikasikan bahwa ada sesuatu yang salah pada perempuan lain sehingga laki-laki tersebut lebih memilih untuk memberikan perhatiannya kepada kita.

Meskipun mungkin alasan seorang laki-laki mengutarakan perkataan ini adalah karena perempuan lain tidak sesuai dengan tipenya dalam mencari pasangan, masih tidak sepantasnya dia membungkusnya dalam hal yang sangat rancu. Dari sekian banyak jenis ‘gombalan’ atau ‘pujian’ yang sehat mengapa memilih membanding-bandingkan perempuan seakan ini adalah ajang kompetisi?

Misoginis Terinternalisasi Ditanamkan Sejak Dini

Dari mana pelajaran untuk membenci warna merah muda itu datang dan menganggap perempuan yang menyukainya sebagai norak? Dari mana pelajaran membenci perempuan lain yang menggunakan makeup dan merasa bahwa kita lebih baik daripada mereka hanya karena kita tidak mengenakannya dan memilih untuk hadir secara natural?

Dari mana pelajaran bahwa kita lebih keren ketika lingkaran pertemanan kita hanya terdiri dari para laki-laki, dan kita tidak suka berteman dengan sesama perempuan karena mereka terlalu dramatis atau cerewet? Dari mana pelajaran membenci perempuan lain yang memilih berpakaian lebih terbuka sehingga kita merasa lebih suci dan lebih pantas dihormati daripada mereka? 

Baca:  Saatnya Mencari Alternatif Merayakan Kartini

Kita mungkin telah menginternalisasikan nilai-nilai misoginis dalam diri kita. Misoginis dapat diartikan sebagai perasaan benci terhadap perempuan. Misoginis merupakan bentuk lebih ekstrem dari seksisme, dimana seorang yang seksis mungkin masih mau mengakui posisi perempuan dalam kehidupan sehari-hari meskipun ia tidak setuju dengan ide peningkatan derajat hidup perempuan, sedangkan seseorang yang misoginis akan menolak sama sekali untuk bekerja sama dengan perempuan dan menganggap bahwa perempuan adalah makhluk subordinasi yang kondisinya berada di bawah laki-laki.

Perilaku misoginis ini tidak hanya dapat terjadi pada laki-laki, tetapi juga pada perempuan. Internalisasi menandakan bahwa nilai misoginis telah diserap dan diterima sehingga hal tersebut menjadi bagian karakter dari diri seseorang. Menurut Johnson (2014: 26), bagi perempuan, misoginis terinternalisasi mencerminkan kecenderungan untuk menyelaraskan diri dengan kekuatan maskulin, dan menolak “keperempuanan” seseorang agar dapat memenangkan dukungan patriarkal. 

Kata-kata “tidak seperti perempuan lain” yang telah kita bahas di atas dapat menjadi penguat dari perasaan misoginis terinteralisasi ini. Misoginis terinteralisasi dalam diri perempuan membuat ia merasa harus berkompetisi dan turut merendahkan perempuan lain untuk mendapatkan perhatian laki-laki agar dipandang berbeda dari mereka, dan lebih layak atas penghormatan dan penghargaan dari sosok laki-laki.

Akibatnya, perilaku ini menimbulkan karakter “pick-me girls” atau “perempuan pilih-aku” yang singkatnya, menganggap bahwa dia lebih superior dari perempuan lain, sehingga sebaiknya para laki-laki memilih dia saja.

Selain dari doktrin misoginis konvensional seperti perempuan yang suka keluar malam adalah perempuan yang nakal, hingga hal yang lebih kompleks seperti fitur dari struktur institusional yang masih seksis, kita juga dapat menyalahkan pelukisan media yang kita konsumsi terhadap peran perempuan sebagai penyebab tertanamnya pemikiran misoginis yang terinternalisasi ini. 

Baca:  Berhentilah Menghamba Pada Cinta Lelaki

Masih terlalu sedikit sinetron-sinetron FTV mengenai perempuan yang bersolidaritas dengan perempuan lain, yang dapat menginspirasi ibu-ibu penonton acara seperti ini untuk memberikan pembelajaran kehidupan yang konstruktif kepada anak perempuannya. Selain itu, iklan-iklan produk kecantikan yang menargetkan perempuan, meskipun telah mengklaim bahwa narasi yang mereka hadirkan telah berubah, tetap saja menyajikan kiasan tentang perempuan yang akan terlihat lebih cantik apabila memiliki kulit cerah serta akan lebih mudah menarik perhatian laki-laki.

Selain dari mereformasi struktur patriarkis, seksis, dan misoginis secara lebih luas, kita juga harus mulai menelaah pola pikir kita terhadap keperempuanan dan femininitas. Dan apabila ada laki-laki yang berkata bahwa kita berbeda dengan perempuan lain, sudah saatnya kita membela dengan menegaskan bahwa kita sama seperti perempuan lainnya, karena dalam setiap diri perempuan terdapat individu yang cerdas dan berani; kita sama seperti mereka, kita sama-sama unik, memiliki aspirasi dan minat serta bakat yang tidak hanya berkelumit di sekitar kepercayaan bahwa kita hanya ingin penerimaan laki-laki; kita sama seperti perempuan lain, dan perempuan lain sama seperti kita. Kita setara.

Daftar Pustaka:

Frey, dkk. (2014). Perfectionism, The Thin Ideal, and Disordered Eating: Does Internalized Misogyny Play a Role? Ph.D.  Dissertation. University of Oklahoma: United States.

Mahasiswa yang suka menulis dan suka ketinggalan hal-hal baru dan viral.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *