Yakin Ikut Kelas Poligami?

Baru-baru ini kembali lagi saya melihat brosur “kelas poligami” di Instagram dan whatsapp saya—kelas ini bahkan sempat-sempatnya hadir di tengah pandemi yang belum selesai ini. Sependek pengamatan saya, “kelas poligami” ini  sudah hadir sejak 2018, konsisten dengan selalu menyuguhkan praktisi yang mempunyai istri lebih dari 1.

Masing-masing dari mereka akan memberikan materi, seperti: cara cepat dapat istri empat dalam perspektif islam sampai ke management konflik pra/pasca poligami. “Kelas poligami” ini pernah hadir di berbagai kota di Indonesia, seperti Surabaya, Jakarta, Bandung dan yang akan hadir ini di Bekasi. Kelas ini pun terbuka untuk yang single maupun sudah menikah.

Dengan harga yang nantinya peserta akan bayar, mereka akan mendapatkan beberapa fasilitas dari mulai lunch, coffee break, materi sampai ke buku saku! Ckckckckck. Bahkan, di tahun 2019, peserta akan mendapatkan free kaos #2019tambahistri

Walah, kalau saya punya pasangan, saya bakal lebih rela lihat pasangan saya pakai kaos partai daripada pakai kaos itu.

Harga yang mereka tetapkan pun cukup mahal; 1,5 juta untuk peserta wanita dan 3,5 juta untuk peserta pria. Melihat angka yang cukup besar ini, cepat saja saya langsung bergumam: apa tidak lebih baik untuk disumbangkan kepada anak yatim atau janda yang terdampak corona?!

Kalimat awal dari brosur “kelas poligami” ini pun sungguh bikin mengernyitkan dahi, begini tulisannya: “New Normal? Poligami!” saya benar-benar enggak mengerti apa yang difikirkan mereka untuk menawarkan “dagangannya” itu di tengah-tengah kehidupan yang lagi serba susah ini.

Dengan melakukan praktik poligami, berarti sama dengan menyanggupi semua syarat yang ada, salah satunya adalah mampu berbuat adil. Di tengah masa pandemi ini, sudah jelas keuangan tercekik, apa masih mampu menyanggupi berbuat adil kepada semua istri dan anak dari segi ekonomi?

Baca:  Pernikahan dan Krisis Eksistensi

Healah, dengan menghidupi satu istri dan satu anak saja kadang sudah bikin engap-engapan kok malah bisa-bisanya kepikiran mengadakan kelas poligami seperti ini.

Untuk orang-orang yang kiranya tertarik dengan kelas poligami ini, saya punya poin-poin penting yang harus kalian pikirkan sebelum merelakan uang 3,5 juta itu menjadi sia-sia:

Pertama, banyak banget syarat yang harus dipenuhi untuk bisa berpoligami, baik dari perspektif slam dan hukum positif kita. yakin po bisa menyanggupi syarat-syarat yang tidak gampang itu?

Kedua, kesaksian istri yang dipoligami. Dalam satu tulisan yang pernah saya baca dan liputan yang pernah saya lihat, hampir semua istri akan menyampaikan rasa yang sama: mereka merasakan cemburu. Sebagian dari mereka—–yang seringkali sudah didoktrin suaminya——kemudian akan mengatakan bahwa hadiah dari rasa sakitnya itu adalah surga.

Lha, apa tidak ada jalan lain menuju surga? Apa harus mengorbankan perasaan dan hidup dengan rasa sakit untuk bisa mendapatkan pahala?

 Ketiga, alasan mengadi-ngadi khas suami yang melalukan praktik poligami. Dalam liputan VICE tentang keluarga yang melakukan praktik poligami, si suami beralasan bahwa lelaki itu mempunyai kemungkinan menyukai lebih dari satu wanita, dia juga mengatakan bahwa dorongan seksual lelaki itu tidak bisa dinafikan, lalu parahnya lagi, ia berdalih bahwa Islam memberikan jalan keluar yaitu dengan poligami. Lagian masa iya satu-satunya jalan keluar dari mereka yang tidak bisa menahan nafsunya adalah dengan berpoligami?

Ini tentu hanya akal-akalan saja,  itu baru masalah nafsu, belum lagi perihal adil, tentu adil dalam banyak hal, sudah jelas bahwa manusia mempunyai kelemahannya masing-masing. Dalam Al-Qur’an pun disebutkan bahwa kalau tidak bisa berlaku adil, maka cukup satu istri saja.

Baca:  Perempuan Tanpa Labia

Jadi sebetulnya Islam pun menganut prinsip monogami. Lebih jelasnya, apabila seorang laki-laki merasa tidak mampu berlaku adil, atau tidak memiliki harta untuk membiayai isteri-isterinya, dia harus menahan diri dengan hanya menikah dengan satu orang saja. Sampai disini, cukup sadar dan tau diri, to?

Keempat, dampak poligami untuk perempuan. Tentu akan banyak dampak yang terjadi pada perempuan yang dipoligami. Dari mulai masalah kesehatan, menurut apa yang pernah saya baca di tulisan Kompas, Dokter Boyke mengatakan, poligami sama saja dengan berganti-ganti pasangan, yang akibatnya dapat menyebabkan kanker rahim pada perempuan.Parahnya lagi, resiko penularannya jadi 4-5 kali lipat daripada laki-laki yang hanya mempunyai satu istri.

Dampak psikologis, poligami tentu membuat perasaan istri menjadi cemburu, merasa disakiti dan lain sebagainya, belum lagi perasaan ketidakadilan yang ia dapatkan, dan sebenarnya poligami juga memungkinkan terjadinya KDRT sampai ke perceraian. Jadi sebetulnya poligami juga bukan solusi yang tepat, malah bisa memunculkan problem yang baru.

Dari beberapa hal yang saya sudah paparkan di tulisan ini, maka terjawablah sudah, bahwa kelas poligami ini sungguh sangat tidak penting untuk diikuti. 

Seorang mahasiswa di salah satu perguruan tinggi Islam. Aktif di salah satu komunitas yang fokus di persoalan isu perempuan dan kekerasan seksual.

Leave a Comment

%d bloggers like this: