Pada masyarakat patriarki keutuhan selaput darah tak jarang menjadi syarat mutlak laki-laki dalam memilih istrinya. Pada akhirnya perempuan dibebankan tanggung jawab untuk menjaga selaput darahnya hingga sedetik sebelum persenggamaan malam pertama terjadi.

Menguak Tabir Keperawanan

KBBI menjelaskan keperawanan sebagai kesucian (kemurnian) seorang gadis. Berangkat dari kata dasar “perawan” yang berarti belum pernah bersetubuh dengan laki-laki. Sayangnya tolak ukur keperawanan dilekatkan kepada keutuhan selaput darah. Sehingga jika pada malam pertama seorang perempuan tidak berdarah diasumsikan dia pernah berhubungan seksual sebelumnya. Lalu jika hamil, anak itu anak siapa? Mengapa keperawanan bisa menjadi begitu berharga? dia mendatangkan jaminan garis keturunan.

Secara historis, ketika masih berburu dan meramu, manusia tak mengenal hubungan monogamis. Semua laki-laki adalah ayah bagi semua anak. Berkembang menjadi masyarakat agraris, kegiatan mengumpulkan makanan dapat dilakukan secara individu. Akibatnya manusia mulai mempunyai properti pribadi (rumah, tanah, ternak, kebun dan harta lainnya). Tentu saja harta-harta tersebut dimiliki oleh laki-laki. Sebab sejak masa berburu dan meramu, laki-laki dan perempuan umumnya memiliki pembagian peran yang konsisten, laki-laki berburu di luar rumah, perempuan meramu di dalam rumah. Maka kepemilikan properti dianggap milik laki-laki yang secara aktif menafkahi di luar rumah. Muncullah permasalahan, harta pribadi tersebut akan diwariskan kepada siapa? 

Jika harta harus diwariskan kepada keturunan suami yang jelas, maka perempuan diharuskan monogami. Lahirlah konsep keperawanan, ditandai dengan berdarah atau tidak vagina saat malam pertama. Jika berdarah, berarti selaput darah baru saja robek saat suaminya melakukan penetrasi pertamanya. Jika tidak berdarah, perempuan diasumsikan telah pernah bersetubuh dengan orang lain sebelumnya. akibatnya tak ada jaminan, jika perempuan itu hamil, apakah benar itu anak suaminya atau anak lelaki lain. Hal ini menggeser peran perempuan sebagai “produsen” keturunan.

Selaput darah adalah selaput tipis yang tak mempunyai fungsi apa-apa selain sebagai gerbang depan masuk ke dalam vagina. Sehingga bila rusakpun tak memiliki dampak apa-apa terhadap tubuh perempuan. Ketebalan selaput darah setiap perempuan berbeda-beda. Bagi perempuan yang selaput darahnya tipis, aktifitas bersepeda bisa saja merusaknya. Bagi perempuan yang selaput darahnya cukup tebal dan elastis, bahkan penetrasi penis pun kadang tidak merusaknya. Hal ini menjadikan faktor penyebab rusaknya selaput darah tidak eksklusif akibat aktivitas seksual saja. Sehingga menentukan keperawanan seseorang dari keutuhan selaput darah sudah tidak relevan lagi. Selaput darah adalah bagian tubuh perempuan yang mempunyai fungsi sosial jauh lebih tinggi dibandingkan dengan fungsi anatomisnya. 

Baca:  Bagaimana Teolog Feminis Kristen Menghadirkan Tuhan

Grolifikasi Selaput Darah

Pelekatan konsep kesucian kepada keperawanan –“Perempuan suci itu yang masih perawan”, menetapkan stigma kepada perempuan. Menjadikan perempuan yang belum berdaya akan mati-matian menjaga selaput darahnya. Seberapa banyak perempuan yang pernah mendengar cuitan “anak perawan kok pulangnya malam?”, “anak perawan kok duduknya ngangkang?” “anak perawan kok nongkrong sama laki-laki melulu?”. Perempuan dituntut membatasi geraknya agar selaput darahnya tetap utuh. 

“Karena saya sudah tidak perawan, siapa yang mau sama saya selain dia” pola pikir seperti ini membuat banyak perempuan yang bertahan dalam sebuah hubungan yang toxic bahkan jika ia mendapatkan kekerasan di sana. Ada anggapan bahwa rusaknya selaput darah membuat perempuan menilai dirinya sendiri sebagai sesuatu yang hina. Belum lagi jika dia dikucilkan oleh masyarakat atau bahkan keluarga sendiri, yang tak jarang berujung bunuh diri. 

Sebegitu pentingnya selaput darah ini, sehingga mendatangkan peluang untuk dikomersialisasikan. Sebut saja hymenoplasty. Hymenoplasty adalah operasi pembuatan kembali selaput darah yang sudah robek. Hymenoplasty lebih ke keperluan estetika atau kepentingan pribadi akibat konsep keperawanan. Di dunia prostitusi, keperawanan mendapatkan tempat istimewa. Berapa banyak perempuan yang memilih menjual keperawanannya sebagai jalan tercepat mendapatkan uang? Tidak kalah konyolnya adalah tes keperawanan. Tes yang menargetkan perempuan sebagai objeknya selain sangat tidak berdasar juga sangatlah bias gender karena tidak ada tes yang sama yang digunakan untuk mengukur keperjakaan laki-laki.

Kesucian yang Beradab

Ketika manusia hanya dipandang sebagai mahluk fisik saja, maka kesucian juga hanya dipandang sebagai hal yang biologis saja – utuh atau tidaknya selaput darah. Apapun alasannya, mencoba beralih menggunakan menstrual cup dengan alasan kenyamanan, atau terbentur stang saat sedang belajar naik sepeda, atau menjadi korban pemerkosaan, perempuan akan disalahkan jika selaput darahnya robek.  Konsep kesucian yang dilekatkan kepada selaput darah juga membuat perempuan rentan dimanipulasi. Anggapan bahwa aktivitas seksual hanyalah sebatas penetrasi penis ke vagina mengeliminasi aktivitas seksual lainnya. “Selama bukan di vagina, kamu masih perawan”. Mengakibatkan banyaknya perempuan merelakan diri melakukan oral seks ataupun anal seks, bahkan ketika ancaman infeksi menghantui.

Baca:  Berbicara Mengenai Perempuan Melalui Sastra

Nur Rofiah (2020) dalam Nalar Kritis Muslimah, menegaskan nilai kualitas manusia ditentukan oleh ketakwaan yang bersifat intelektual sekaligus spiritual. Kesucian seorang perempuan tidak ditentukan oleh utuh atau tidaknya selaput darah. Melainkan oleh sekuat apa perempuan mampu mengendalikan hasrat seksualnya. Hal yang sama juga berlaku untuk laki-laki.

Kesucian perempuan dan kejantanan laki-laki diukur dari sekuat apa mereka mengendalikan hasrat seksualnya, menyalurkannya secara halal, baik, dan pantas. Hasrat seksual ibarat rasa haus dan lapar, mereka senantiasa ada dan harus dituntaskan. Namun sebagaimana makan dan minum ada tata cara dan adabnya, begitupulah berhubungan seksual, ada aturan dan tata caranya. Lakukanlah secara baik, dan pantas.

Konsep keperawanan ini sudah harusnya dienyahkan dan tak digunakan lagi karena sudah tak valid. Karena selama kita masih mengamini konsep ini maka semakin tak berdayalah diri kita.

Sehari-hari selain mencipta puisi Ayu juga senang diajak berdiskusi tentang parenting dan kesetaraan gender Ayu aktif berkontribusi pada kegiatan komunitas literasi; Korps Wanita Formasi, Rumah Baca Philosophia dan Toko Buku Dialektika. Alumnus Universitas Hasanuddin ini baru saja menerbitkan buku puisi pertamanya yang berbicara tentang pengalaman fisik dan sosial perempuan; Sejumlah Luka yang Disembunyikan Kutang.

2 Replies to “Keperawanan, Mitos yang Didongengkan Patriarki”

  1. Tulisan yang tajam dengan berbagaimacam argumentasi sebagai bentuk penegasan. Namun, sya melihat pandangan ini masih pada tataran kamu intelektual atau masyarakat berpendidiakan. Sya akan merasa kendala dengan stigma yang terus terjadi dengan org awam yg tdk pernah mengenal bangku sekolah. Ini akan menjadi berat untuk memberikan pemahaman kepada mereka. Tapi sya tetap, mengapresiasi luar biasa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *