Slogan tubuhku otoritasku sudah santer terdengar dimana-mana, diungkapkan oleh banyak perempuan dari berbagai latar belakang. Apalagi di tahun-tahun ini ketika pembahasan mengenai kekerasan seksual bisa ditemui dimana-mana, dari instagram, tik tok, portal berita bahkan mungkin sambil nongkrong tengah malam dan dirubung nyamuk pun masih bahas ini slogan, entah di posisi pro atau kontra dari kacamata agama sampai hak asasi manusia.

Ini juga yang mendorong saya untuk menghubungi Bella dan Nissi melalui media sosial. Saya nggak kenal mereka waktu itu, tapi dengan modal SKSD dan alasan ingin menulis mengenai perampasan bahasa, saya nekat menghubungi mereka. Bella dan Nissi adalah seorang perempuan Tuli. Saya penasaran ingin mengetahui bagaimana perampasan bahasa mempengaruhi ketidaksetaraan gender yang dialami perempuan Tuli.

Perempuan Tuli lebih rentan untuk mengalami kekerasan seksual dibandingkan perempuan lainnya. Laporan mengenai kasus kekerasan seksual pada perempuan Tuli tidak banyak tetapi terus meningkat. Tahun 2020 kemaren, tempo.co memberitakan bahwa Komnnas Perempuan mencatat bahwa ada 87 kasus kekerasan perempuan terhadap kelompok disabilitas dengan kasus terbanyak dialami oleh perempuan Tuli. Perempuan Tuli rentan karena pelaku kekerasan seksual mempersepsikan bahwa mereka tidak dapat melawan atau mengadu. Bagaimana mau mengadu ketika ada hambatan pada bahasa dan mungkin ketidaktahuan bahwa apa yang menimpa mereka disebut kekerasan seksual, pemaksaan perbuatan atau tindakan yang bersifat seksual tanpa dikehendaki oleh penerimanya.

Anak-anak Tuli, mereka tidak bisa menerima stimulant berupa bahasa verbal. Padahal, bukan rahasia jika masa kanak-kanak adalah masa emas ketika manusia mempelajari kode-kode untuk berinteraksi dan belajar lebih lanjut. Jika pada masa-masa ini anak-anak Tuli tidak diajarkan berkomunikasi dengan bahasa isyarat, mereka akan mengalami perampasan bahasa. Ini karena anak-anak Tuli tidak akan menangkap apa yang dikatakan orang tua mereka sehingga praktis mereka tumbuh dengan bahasa yang terbatas karena input bahasa yang diberikan secara verbal tidak dapat mereka terima.

Rembetannya kemana-mana, ketika anak dengar telah dapat mengasosiasikan nama dengan bendanya, anak Tuli akibat perampasan bahasa tidak dapat. Ketika mereka sudah besar pun perampasan bahasa bukan berarti hilang sama sekali masih sering dan ada dimana-mana. Webinar tidak ada akses bahasa isyarat atau juru ketik adalah perampasan bahasa. Film yang tidak menyediakan subtitle adalah perampasan bahasa. Status media sosial berupa video tanpa subtitle adalah perampasan bahasa

Baca:  Mental Pemerkosa di Media Massa

Semua hal itu disebut perampasan bahasa karena ketiadaan akses pada bahasa berkontribusi pada Tuli tidak mendapatkan informasi. Ketiadaan informasi mempengaruhi bagaimana perkembangan kognisi Tuli. Sehingga jangan heran kalau ternyata banyak sekali Tuli tidak bisa menjelaskan kekerasan seksual yang terjadi pada diri mereka. Mengerti apa itu kekerasan seksual pun bisa jadi tidak, karena sejak awal bahasa mereka dirampas. Jangan salah, tidak semua Tuli memiliki bahasa isyarat yang bagus, karena bisa jadi sejak awal mereka tidak diajarkan untuk berisyarat.

Sebagai orang yang tidak pernah mengalami hal itu, rasanya ganjil sekali mengetahui perampasan bahasa itu ada dan nyata. Kalau harus membayangkan mungkin akan mirip seperti saya yang sama sekali tidak bisa berbahasa Jerman ini ditaruh di Jerman, tinggal disana sendirian, sementara tak satu pun orang Jerman mengerti bahasa Indonesia dan tidak ada yang mengajari saya bahasa Jerman. Saya tidak tahu apa yang terjadi di sekeliling saya karena semua informasi hanya tersedia hanya dalam bahasa Jerman sehingga saya kehilangan kesempatan untuk mempelajari hal baru atau konsep baru. Tentu saja pengandaian ini juga belum tentu akurat karena saya sendiri belum pernah ke Jerman.

Jadi, ketika perempuan lain sudah bisa berbicara mengenai hak atas tubuh termasuk kesehatan seksual reproduksi, kekerasan seksual dan lainnya, banyak individu Tuli tidak bisa membicarakan itu karena mereka tidak tahu mengenai itu karena bahasa yang mereka miliki sebagai pondasi untuk membicarakan isu itu sangat terbatas dan dibatasi secara sistematis dengan tidak tersedianya akses JBI, juru ketik atau closed caption (CC) dengan alasan mahal, susah mengedit CC dan lain sebagainya.

Waduh, kalau begini terus harus bagaimana dong? Mungkin langkah pertamanya sebagai orang dengar terutama adalah kita harus menyadari dulu nih apa sih privilese kita, jadi nggak malah menindas Tuli secara langsung atau pun tidak langsung. Sebagai orang dengar, kita tuh tidak dilecehkan ketika berisyarat di publik, nggak sesulit Tuli ketika ingin bekerja atau mengakses pendidikan karena hambatan komunikasi yang ada minim. Selanjutnya, mungkin bisa coba langsung berinteraksi dengan Tuli dan komunitas Tuli melalui media sosial saja dulu, karena masih pandemi juga kan. Banyak kok content creator Tuli yang bisa kita follow dan mereka aktif menyuarakan apa yang terjadi pada Tuli, contohnya akun instagram kolektif feminis Tuli @feministhemis atau akun instagram @cbudidharma. Kamu juga bisa share konten-konten yang sudah dibuat Tuli lo. Dorong terus juga ya terkait dengan akses JBI, CC atau juru ketik di setiap kegiatan, film, video, semua tempat yang kalian kepikiran lah ya.

Baca:  Apakah “Semes7a” Sebagus Kelihatannya?

Pengalaman Tuli itu valid, pengalaman perempuan Tuli itu valid. Kita sebagai orang dengar jangan sampai menginvalidasi pengalaman mereka.

Mahasiswa yang memiliki banyak ketertarikan mulai dari isu gender, feminisme, komunikasi, human rights, dan lain sebagainya. Dulunya aktif siaran di stasiun radio lokal dan sekarang masih berjibaku dengan tugas akhir. Doakan saja lulus dengan baik dan ilmunya berguna bagi banyak orang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *