Kim Ji-Young Born 1982 dan Pelecehan Seksual di Dunia Kerja

Di tengah masa karantina, saya disarankan menonton sebuah film berjudul “Kim Ji-Young Born 1982” oleh teman saya. Film yang rilis tahun 2019 ini ternyata banyak menuai pro dan kontra sebab konon berbau feminisme. Sehingga kalangan patirarkis menganggap kalau menonton film ini akan dapat membuat seseorang menjadi feminis. Khususnya perempuan, akan tercerahkan oleh realita dan hak-hak yang seharusnya ia dapatkan. Namun apakah demikian?

Film ini berkisah tentang seorang perempuan yang sudah menikah dan memiliki seorang anak. Ia dulunya bekerja di sebuah perusahaan dan memiliki karir yang bagus. Namun kemudian dia hamil, melahirkan dan memutuskan untuk menjadi seorang ibu rumah tangga. Dalam keputusannya itu seringkali ia didera dilema. Di satu sisi ia masih terkenang manisnya suasana dan hiruk pikuk pekerjaan di kantor. Di sisi lain ia ingin mengasuh anaknya sendiri. 

Dalam salah satu adegan kilas balik, dikisahkan seorang sahabat Kim Ji-Young  menemukan ada kamera tersembunyi di sudut kecil kamar mandi perempuan di lantai tiga. Kamera sengaja dipasang di sana seolah-olah menyerupai mur. Kamera kecil ini dipasang untuk mengintai aktivitas privat perempuan di dalam kamar mandi.

Keresahan ini membuat gaduh para perempuan yang sudah pernah menggunakan kamar mandi di lantai tiga dan membayangkan bagaimana rekan kerja lelaki mereka yang memasang kamera itu dan menertawakan anggota tubuh perempuan yang diintai dari kamera.

Kejadian dan keresahan seperti ini bukan hanya terjadi dalam film Kim Ji-Young Born 1982 tetapi juga dalam dunia nyata. Namanya: pelecehan seksual di dunia kerja. Tak banyak yang memahami hal ini karena merasa kalaupun terjadi kantor tidak melakukan apapun. Seringkali relasi kuasa dan ketidaksetaraan gender inilah yang membuat perempuan enggan buka suara terhadap kasus pelecehan seksual di dunia kerja. Belum lagi fenomena bystander yang membuat tidak banyak orang mau menjadi saksi dari pelecehan seksual di dunia kerja.

Apa saja yang termasuk pelecehan seksual di dunia kerja? Perilaku yang bersifat seksual yang tidak bisa diterima yang membuat seseorang merasa terhina, dipermalukan, dan diintimidasi. Contohnya: sentuhan, pelukan, mengerling, komentar atau lelucon atau pertanyaan yang menganggu mengenai bagian tubuh seseorang, menghina atau meledek secara seksual, menunjukkan teks/gambar yang bersifat porno termasuk mengintai dan atau merekam untuk tujuan disebarkan (1).

Baca:  Serial Ini Bikin Kamu Ingin Jadi Astronot (Lagi)

Selain jenis pelecehan seksual di atas masih ada yang namanya pelecehan seksual quid pro quo (2). Contoh sederhananya, “Kamu akan naik jabatan kalau kamu mau melakukan hubungan seksual dengan saya.” Apakah sudah mulai akrab di telinga? Apakah di Indonesia ada contoh kasusnya?

Jujur, inilah kesulitannya. Sebagian besar korban pelecehan seksual di dunia kerja memilih bungkam karena takut dipecat, mematikan karier, dan dikucilkan. Dari sini kita dapat lihat bahwa pelecehan seksual bukan sekedar pelecehan semata terhadap tubuh dan kehidupan seseorang tetapi ada struktur dominasi patriarki, relasi kuasa, ketidaksetaraan gender yang membuat seseorang melakukan pelecehan seksual dan mengintimidasi korbannya. 

Salah satu data yang dirilis Never Okay sebuah lembaga  yang menentang pelecehan seksual di dunia kerja mengeluarkan hasil ada 117 kasus kekerasan dan pelecehan seksual di dunia kerja tahun 2018-2020 di Indonesia. Dan ada peningkatan signifikan dari tahun ke tahun dengan pelaku mulai dari atasan sampai kepada mantan rekan kerja (3).

Data ini bukan sekedar deretan angka tetapi di dalamnya ada suara-suara korban pelecehan seksual di dunia kerja yang terbungkam. Di dalamnya ada tubuh yang mengalami trauma dan kehidupan yang tidak akan pernah sama lagi. Di dalamnya tercermin sebuah lingkungan kerja yang tidak aman dan tidak inklusif.

Lantas apa yang dapat kita lakukan? Dalam salah satu adegan di film Kim Ji-Young born 1982 dikisahkan bahwa suami Ji-Young pamit untuk pergi seminar sehari yang dikelola oleh perusahannya. Rupanya seminar itu merangkap pelatihan tentang pencegahan pelecehan seksual di dunia kerja. Hal yang tidak dilakukan oleh kantor lamanya Kim Ji-Young. Dari sini saya melihat bahwa perusahaan dapat dan sudah seharusnya melakukan pelatihan dan sosialisasi pencegahan pelecehan seksual di dunia kerja bagi para pegawainya dan menciptakan lingkungan kerja yang sehat.

Baca:  Hope dan Upaya Mencari Pemulihan

Upaya mengatasi pelecehan seksual di dunia kerja sebenarnya dilakukan di tingkat internasional misalnya dengan Konvensi ILO nomer 190(4) tentang kekerasan dan pelecehan seksual di dunia kerja. Namun konvensi tersebut belum diratifikasi oleh pemerintah Indonesia padahal hal itu dapat melindungi pekerja baik perempuan atau lelaki dari pelecehan seksual di dunia kerja. Tapi apa mau dikata, RUU Penghapusan Kekerasan Seksual saja masih tersendat di parlemen kita. Sementara itu setiap jam makin banyak perempuan yang mengalami pelecehan seksual di dunia kerja terdiam, tergugu-gugu (5) tidak tahu harus berbuat apa.

Menyikapi hal ini kita perlu bersama-sama mendesak pemerintah untuk segera meratifikasi Konvensi ILO nomer 190 dan mengesahkan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual yang akan memberikan pencegahan, perlindungan, keadilan dan pemulihan bagi korban pelecehan seksual di dunia kerja. Diam bukan lagi pilihan. Sudah saatnya kita menggugat kehadiran negara dan masyarakat dalam kasus-kasus pelecehan seksual yang terjadi di dunia kerja.

Referensi:

  1. https://humanrights.gov.au/our-work/sexual-harassment-workplace-legal-definition-sexual-harassment diakses 14 Desember 2020.
  2. https://www.bbc.com/indonesia/vert-cap-41963105#:~:text=Bentuk%20pelecehan%20seksual%20yang%20paling,pangkat%20atau%20dengan%20ancaman%20pembalasan%20 diakses pada 14 Desember 2020.
  3. Pelecehan Seksual Bukan Bercanda-Peluncuran Data Kekerasan dan Pelecehan Seksual di Dunia Kerja tahun 2018-2020-Never Okay Project, 10 Desember 2020 (https://www.facebook.com/NeverOkayProject/) diakses pada 14 Desember 2020.
  4. https://www.ilo.org/wcmsp5/groups/public/—asia/—ro-bangkok/—ilo-jakarta/documents/publication/wcms_726739.pdf diakses pada 14 Desember 2020.
  5. Tergugu-gugu (KBBI) artinya sukar bicara karena takut (bingung) dan sebagainya.

Seorang pelukis, introvert yang mencintai feminisme.

Leave a Comment

%d bloggers like this: