Beberapa hari yang lalu, lini masa di akun Twitter saya ramai membincangkan soal pamflet webinar dengan tajuk “45 Hari Sukses Poligami” lengkap dengan biaya ikut serta, kiat-kiat yang bisa didapatkan, dan profil pembicara yang terbukti “berlisensi” karena dibubuhi keterangan “20 tahun poligami, 4 istri, 25 anak” sebagai bukti nyata. Melihatnya, saya hanya bisa geleng-geleng kepala. Lagi-lagi, jualan agama. 

Ketika para aktivis perempuan dan anak sibuk mengedukasi, terdapat beberapa orang yang kemudian membuat narasi pembelaan. Mereka bercerita panjang lebar soal kakek atau buyut mereka yang berpoligami, beranak pinak, dan tetap diberi kehidupan yang layak tanpa kekurangan sandang dan pangan. Webinar poligami dipandang sebagai sesuatu yang lumrah—dan malah dimaklumi karena mereka pikir jumlah perempuan saat ini lebih banyak daripada laki-laki. Padahal, menurut sensus penduduk Badan Pusat Statistik, rasio laki-laki di Indonesia masih lebih besar daripada perempuan.

Dibalaslah narasi pembelaan itu dengan kalimat telak dari salah satu penulis Indonesia yang peduli isu gender dan Islam, Kalis Mardiasih. Kalau orang tua panjenengan tidak mempromosikan dan menjual tiket pelatihan untuk memanipulasi perempuan dan anak-anak, dengan poster yang mencantumkan jumlah istri dan anak sebagai prestasi, maka diskusi di postingan ini bukan buat keluarga njenengan. Njenengan harusnya ikut marah kepada si pembuat seminar yang sudah jualan bertahun-tahun dan membuat citra keluarga poligami jadi buruk. Bukan (malah) membungkam suara kami yang melawan tidakan kapitalisasi poligami ini.

Ujaran Mbak Kalis memang benar adanya. Terlebih, zaman sudah berbeda jauh. Dahulu, orang-orang memiliki tanah berhektar-hektar dan mengatur keuangan tidak sesulit sekarang yang untuk membeli sepetak tanah dan bangunan rumah saja harus menabung bertahun-tahun dan mengangsurnya sampai merasa tercekik hingga terlilit utang. Para buyut dan kakek pendahulu memiliki harta yang jika dikonversikan dengan kekayaan rata-rata orang masa kini jauh lebih banyak dan tumpah ruah.

Baca:  Bukan #TimIstriSah tapi #TimDukungPerempuan

Daripada menekankan berlomba-lomba menambah jumlah anak, akan lebih baik orang-orang mulai memikirkan masa depannya. Apakah anak itu akan tumbuh dengan baik, tercukupi kebutuhannya, dan bagaimana si anak dapat hidup tanpa harus mengikuti jejak kemiskinan orang tuanya (misalnya orang tua berasal dari kalangan yang kurang mampu). Bukan perkara jumlah, tapi perkara bagaimana di kemudian hari tidak terjadi sesuatu yang merugikan. Banyak anak banyak rezekitoh rezeki kan sudah ada yang mengatur. Iya, memang, tapi bukankah hidup akan lebih mudah apabila segalanya dipersiapkan dengan baik? Sebagai contoh, memiliki dua-tiga anak saja dengan finansial yang stabil adalah kebahagiaan yang tak terperi.

Dalam Islam, poligami memang diperbolehkan. Namun, sayangnya, terkadang banyak orang yang salah menafsirkan. Dikutip dari Aswaja, poligami sejatinya tidak disyariatkan dan hukumnya bukan sunnah melainkan mubah. Poligami seperti yang dilakukan Rasulullah sifatnya darurat atau memang benar-benar dibutuhkan. Juga, lebih condong dibatasi demi perlindungan hak-hak serta mengangkat harkat dan martabat wanita muslimah.

Kalau Anda pernah membaca kisah tentang pernikahan Rasulullah, pasti tahu beliau menikahi janda-janda (beberapa ada yang karena ditinggal suaminya yang meninggal di peperangan, dipaksa murtad, dan hidup dalam kesusahan) setelah istri pertamanya, Khadijah R.A., wafat. Poligami yang dilakukan Rasulullah memiliki alasan mulia dan sebagai sarana dakwah. Tidak seperti motif poligami zaman sekarang yang ‘suka-suka’ si laki-laki.

Adapun dalam Al Quran sudah dijelaskan perihal pernikahan yang pada dasarnya monogami: “Maka jika kamu takut tidak akan mampu berlaku adil, maka kawinlah seorang isteri saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.” (QS An-Nisa ayat 3). Berbuat aniaya yang dimaksud adalah berbuat tidak adil. Tidak semua laki-laki dapat mengatur perhatian dan materi pada istri-istri dan anak-anaknya seratus persen. Bahkan banyak kasus poligami yang menggunakan nikah siri yang berarti sah di mata agama tapi tidak sah di mata hukum. Nantinya, poligami dengan nikah siri ini yang akan menyusahkan pihak perempuan.

Baca:  Melepaskan Diri Dari Cinta Bersyarat

Untuk kasus webinar poligami, saya menekankan bahwa yang orang lain kecam adalah soal si pembicara mempromosikan poligami dan mengajak orang-orang untuk beramai-ramai menikah sebanyak mungkin. Maksudnya, apakah poligami sesuatu yang pantas untuk dijadikan bahan webinar? Kalau memang Anda sanggup dan memiliki niat baik ibadah yang cuma diperuntukkan untuk Allah semata (meskipun ini kasus yang cukup langka), ya silahkan. Monggo. Menikahlah lagi. Beranak pinaklah lagi. Dengan catatan, itu bukan sesuatu yang harus dikampanyekan besar-besaran seolah-olah laki-laki muslim wajib poligami jika ingin dipandang sebagai laki-laki sejati.

Lebih lanjut, komersialisasi agama lebih ditujukan pada agama yang dijadikan barang komoditas untuk memperoleh keuntungan. Ketika barang dagangan laku terjual dan mendapatkan banyak konsumen, maka kesediannya akan selalu ada untuk memenuhi kebutuhan pasar. Beberapa contoh produk-produk dari komersialisasi agama adalah fenomena dakwah berbayar yang telah dicetuskan oleh beberapa ustaz atau pemuka agama terkenal, barang-barang bermerk yang melabeli ‘muslim/muslimah, halal, dan syari’ pada kemasannya (misalnya shampoo hijab, sepatu syari, sandal syari, jas hujan syari), hingga lelang sorban dalam acara pengajian.

Sudah seharusnya, masyarakat melek literasi dalam bermedia agar tidak teriming-iming komersialisasi agama.

Seorang mahasiswi sastra biasa di kampus yang biasa-biasa saja. Gemar menulis, membaca, dan mengamati apa saja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *