Komik Girls’ World Cerminan Perundungan Sesama Perempuan

Sering sekali kita mendengar istilah perundungan atau yang biasa kita kenal sebagai bullying. Wujud dari bullying pun banyak ditemui dalam berbagai bentuk, baik secara fisik, maupun verbal. Seringkali, pelaku berasal dari lingkungan yang sama dengan korban, contohnya pelaku dan korban merupakan sesama teman atau bahkan sesama perempuan.

Sudah banyak orang yang concern terhadap fenomena ini. Namun sangat disayangkan, masih banyak orang yang memaklumi kasus bullying yang ada, dengan seribu satu alasan yang sejatinya tak bisa dipertanggungjawabkan. Tak jarang ada yang menyuarakan keresahan terkait lewat karya seni.

Girls’ World barangkali bisa menjadi salah satu contoh suara hati mengenai bullying melalui karya seni. Komik digital karya Moranggg ini mengupas fenomena yang menjadi momok para orangtua di beberapa episodenya. Salah satu episode paling membekas di ingatan saya adalah kisah tentang salah seorang tokohnya, Im Sunji, yang mengalami bullying berlapis semasa SMP.

Dimanfaatkan kebaikannya oleh Jin Yeseul, seseorang yang dianggapnya sahabat, di-nyinyiri oleh anak-anak lain, sampai babak terburuk, yakni difitnah sebagai perebut pacar teman hingga dikucilkan oleh semua anak perempuan seangkatannya. Parahnya, fitnah yang tersebar itu dirangkai secantik-cantiknya oleh Jin Yeseul, gadis yang sudah dianggap teman baik oleh Im Sunji.

Musabab dari terjadinya skenario tragis ini ialah satu: Takut tersaingi kepopulerannya. Maklum, Jin Yeseul yang sebelumnya merupakan murid terpopuler semasa SD telah tersalib popularitasnya oleh Im Sunji dengan kecantikannya. Lebih-lebih saat itu ia memiliki sebuah “aib” yang tentu akan mengancam popularitasnya.

Jin Yeseul yang terkenal karena kekayaan materiil, pasti akan dicap jelek oleh teman-temannya kalau mereka sampai tahu usaha ayahnya mengalami kebangkrutan. Jin Yeseul, hingga terpaksa pindah ke sebuah apartemen standar, yang merupakan kediaman Im Sunji bersama neneknya. Situasi inilah pada akhirnya mendorong ia untuk melakukan siasat licik  menjatuhkan Im Sunji.

Baca:  Mental Pemerkosa di Media Massa

Dengan bantuan teman-teman yang selalu memercayai semua perkataannya. Lagi dan lagi, status quo sebagai siswi populer membuatnya memiliki kuasa lebih untuk memengaruhi anak-anak lain.

Seorang perempuan memanipulasi banyak orang untuk menjatuhkan perempuan lain, demi pencapaian tak abadi hanya karena ia punya kuasa lebih? Benar-benar tak masuk akal. Bukankah seharusnya sesama perempuan saling mendukung, demi mencapai kesuksesan bersama? Lalu, dimanakah jargon Girl Power yang sering digaungkan kalau masih ada kasus serupa dengan jabaran plot beberapa episode komik di atas?

Miris memang, namun begitulah adanya. Sang creator terlihat benar-benar sudah tidak tahan lagi melihat realita pahit demikian. Girl Power adalah mimesis yang cukup menjadi tamparan keras bagi semua pembaca. Mungkin saja disadari atau tidak, pembaca termasuk saya pernah melakukan hal terlarang tersebut.

Siapapun pelakunya terlepas dari latar belakangdan motif yang dimiliki, tentu tindakan bullying tidak bisa dibenarkan oleh akal sehat. Apalagi kalau perempuan menjatuhkan perempuan, wah, makin terbakar saya mendengarnya.

Perempuan akrab dikenal dengan kerjasama bahu-membahu melawan ketidakadilan, mengingat mereka sudah sejak lama dipandang lebih rendah daripada lelaki. Akan tetapi nyatanya bullying sesama perempuan masih banyak terjadi di masyarakat.

Belum cukupkah body shamming di media sosial terhadap sesama perempuan yang tidak disukai karena tak memenuhi standar kecantikan, atau perundungan verbal antar teman perempuan di sekolah dengan dalih bercanda menjadi pelajaran berharga bagi kita semua?

Tidak dapat dipungkiri bahwa kekuasaan merupakan salah satu faktor yang memotivasi pelaku untuk menindas orang lain. Pelaku dengan previlege tertentu bisa melakukan tindak bullying kapanpun dengan siapapun. Mirisnya, tak banyak orang yang peka terhadap keadaan ini.

Orang-orang yang memilih posisi sebagai pihak ketiga, biasanya akan dihadapkan dengan pilihan situasi berikut: Terpengaruh dengan ocehan si pelaku yang kedengarannya valid atau ber-tabayyun terlebih dahulu sebelum terlanjur percaya. Sangat disayangkan sebagian besar dari kita masih terjebak dalam opsi pertama. Jadi jangan heran kalau bullying semacam ini tak pernah putus rantainya, seolah tradisi yang patut dilestarikan.

Baca:  Namanya Senyap

Tak usahlah bicara keadilan dalam skala besar terlebih dahulu kalau di lingkungan kita sendiri ketidakadilan hanya isapan jempol belaka. Masih banyak Im Sunji lain di lingkungan sekitar kita yang patut mendapa uluran tangan kita. Dengan mulai bersuara menghentikan tindak bullying, saya rasa tak akan ada lagi berita bunuh diri akibat bullying. Minimal mendengarkan keluhannya dan memberinya semangat dengan cara yang tepat, barangkali bisa sedikit mengobati luka batinnya.

“Kawan, aku hanya ingin dirangkul layaknya sahabat,” begitu kira-kira bunyi kata hati sang korban. Korban pun juga manusia yang punya perasaan dan hasrat untuk dihargai. Masihkah kita pura-pura buta terhadap fenomena yang sudah mendarah daging ini? Teruntuk para perempuan, let’s fix each other crown.

Introvert sekaligus pemalu yang senang bersosialisasi. Menggunakan tulisan sebagai media pengungkap suara hati.

Leave a Comment

%d bloggers like this: