Kontes Kecantikan atau Kontes Eksploitasi Perempuan?

Kontes Kecantikan

Sudah 68 tahun kontes kecantikan Miss World hadir di Bumi. Bersamaan dengan hadirnya Miss World, stigma tentang nilai cantik juga lahir di kalangan masyarakat. Kontes kecantikan melahirkan sebuah nilai standar kecantikan. Pemberian label untuk setiap perempuan menjadi variabel yang melekat kuat sampai semua perempuan menjadi tunduk pada standarisasi yang diciptakan oleh media melewati kontes kecantikan.

Di Indonesia, kontes kecantikan Puteri Indonesia dan Miss Indonesia mempunyai andil dalam mengecoh kepercayaan diri perempuan Indonesia dengan standarisasi yang mereka buat. Perempuan yang cantik dianggap harus memiliki tinggi setidaknya 168 cm, tidak berjerawat, tidak bau, kulit mulus, tidak punya bulu-bulu halus di badan, mata lentik, duh, pokoknya repot kalau harus diperinci lagi persyaratan agar bisa dikatakan cantik.

Tentu saja media bertanggung jawab atas pemberian label cantik. Miss World menjelaskan maksud dari motto di atas adalah kecantikan yang penuh intelegensi dan kepribadian. Tapi tetap saja, yang dipertontonkan adalah kemolekan tubuh, gerai rambut halus, kulit tanpa bulu, kaki jenjang, gigi rapi, hidung mancung, intinya tidak ada cacat yang terlihat. Intelegensi dan kepribadian menjadi hilang, yang diperlihatkan kepada publik adalah patung hidup yang harus mereka ikuti tampilan fisiknya agar bisa masuk ke dalam kategori perempuan cantik.  

 Di antara sadar atau tidaknya publik bahwa acara Beauty pageants ini telah mempengaruhi pola pikir tentang nilai kecantikan, beberapa komunitas sampai orang ternama sudah banyak yang mengecam acara ini karena kontennya yang berisi eksploitasi perempuan. Miss World sempat diboikot pada penghujung tahun 1970 – 1980.

Dan Indonesia sudah sejak awal sebelum pembentukan Miss Indonesia oleh Simon Petrus Goni pada 1960, Presiden Soekarno sudah terlebih dahulu melarang adanya ajang kontes kecantikan. Soekarno sadar kalau kontes kecantikan ini sudah lari dari karakter bangsa, hanya membuat perdebatan publik dengan perempuan sebagai korban eksploitasinya, juga membangun klasemen sosial di masyarakat.

Tetapi, bukan pebisnis sejati namanya jika menyerah begitu saja. Simon kembali membuat pengajuan kontes Miss Indonesia di era Soeharto. Akhirnya Miss Indonesia diselenggarakan pertama kali di Jakarta tahun 1967 lalu kembali kena kecam oleh Ibu Tien di tahun 1977. Tapi para oknum masih menggelar acara tersebut dan kontes tetap diadakan, model juga masih banyak yang dikirim ke luar negeri secara diam-diam.

Baca:  Membaca Ulang Kisah Hawa Agar Adil Dalam Pikiran

Apalagi alasannya kalau bukan karena keuntungan berupa uang. Kontes kecantikan sangat membantu perusahaan keosmetik dalam menjual produk. Alih-alih membuat perempuan berdaya, perusahaan kosmetik ini menggandeng model dari kontes kecantikan sebagai brand ambassador produk mereka. Perempuan yang merasa dirinya di bawah standar cantik yang dibuat oleh media pun berbondong-bondong untuk membeli produk kecantikan demi bisa diterima publik dengan fisik yang baik selayaknya para model.

Pada dasarnya, kontes kecantikan dinaungi oleh negara-negara di Barat yang sangat bertentangan dengan keadaan di Asia atau Afrika. Hingga sampai di tahun 1999, Mpule Kwelagobe berhasil menjadi Miss Universe pertama asal Afrika. Kemenangan Kwelagobe menjadi titik balik di mana publik menemukan standar baru dari kata cantik.

Di tahun-tahun selanjutnya, semakin banyak label cantik bertebaran di masyarakat dengan kondisi fisik di luar standar barat yang lama. Artis-artis di negara barat pun semakin banyak yang menunjukkan ketidaksempurnaan mereka menjadi nilai cantik tersendiri yang mereka miliki.

Winnie Harlow, model asal Jamaika pengidap vitiligo yang membuat warna kulitnya tidak merata ternyata bisa menjadi model cover majalah kelas dunia seperti Elle dan Vogue. Winnie Harlow membuktikan di sini bahwa ketidaksempurnaannya juga dapat masuk ke nilai standar cantik yang baru.

Berbeda dengan Harlow yang lebih terbuka dengan keadaan tubuhnya, Halima Aden memilih untuk menutup tubuh serapat mungkin. Saat pemotretan dengan majalah Vogue, ia juga menutup tubuhnya sampai ke bagian kepala dengan jilbabnya. Tidak ada lagi pakem nilai cantik harus memiliki gelombang rambut halus yang berkilau.

Begitu pula dengan Amandla Stenberg, ia cukup sering memerankan karakter perempuan untuk merepresentasikan apa yang dialami oleh perempuan dengan kulit non kulit putih dalam kehidupan sehari-hari. Setiap kali ia melakukan promo film, Stenberg kerap kali menyelipkan slogan kampanye ‘Black lives matter’.

Pengecohan media dengan merubah rumus awal untuk mencari nilai cantik tak luput dari keuntungan bagi perusahaan kosmetik. Bisa dilihat di pusat perbelanjaan, produk kecantikan semakin tumpah ruah dengan berbagai macam jenis kulit. Tidak lagi sekadar lotion kulit untuk yang berwarna putih, coklat, merah, sampai hitam pun ada.

Baca:  Menstruasi Ketika Miskin

Belum lagi dengan berbagai eksploitasi yang dilakukan oleh perusaahan kosmetik terhadap sumber-sumber daya manusia dan sumber alamnya. Misalnya pekerja anak yang dipekerjakan untuk menambang mica dari Afrika. Atau perusahaan kosmetik yang masih melakukan percobaan terhadap hewan sebelum produknya dipasarkan.

Publik berbondong-bondong pamer skin care dengan harga mahal. Sejatinya, kontes kecantikan yang memiliki standar khusus ataupun tidak adalah dua hal yang memiliki kesamaan di mata pebisnis. Dua hal tersebut sama-sama dapat mempromosikan produk mereka. Korbannya pun masih sama, perempuan.

Cantik itu hanya sebuah kata, anonim dari buruk. Cantik itu tidak punya pakem nilai dan perempuan bukanlah barang yang dapat dinilai dengan standarisasi cantik hasil karya media. Biarkan perempuan berekspresi dengan dirinya masing-masing dan merasa cantik dengan apa yang mereka peroleh.

Cantik itu tidak ternilai, kecantikan bukan suatu hal yang patut diperdebatkan apalagi dijadikan ajang perlombaan. Cantik bukan sebuah hak istimewa, karena mahkota terberat sekali pun tak bisa menjadi junjungan dari kecantikan perempuan yang membawanya. Semua perempuan sudah cantik dan mempunyai mahkota mereka masing-masing dalam bentuk harga diri.

Kitapun harus mulai kritis terhadap cantik itu sendiri, apakah sumber didapatkannya kecantikan itu melalui proses eksploitasi atau tidak. Karena apalah arti cantik jika ia berdiri diatas derita orang lain?

Diffa Zahra, lahir di Ibu Kota pada zamannya (Rumor mengatakan Ibu Kota akan pindah.) Pada tahun millenium bershio naga emas. Suka bernapas, dan ia rasa jiwa sosialnya cukup tinggi. Pekerjaan saat ini menjadi mahasiswa di Politeknik Negeri Media Kreatif Jakarta dan masih berusaha menjadi mahasiswa yang rajin agar dapat membanggakan kedua orang tua alias hal ini masih sulit sekali dilakukannya.

Leave a Comment

%d bloggers like this: