Kurus atau Gemuk, Semua Berhak Mencintai Tubuhnya Sendiri

Body Positivity oleh Parfait Lingerie

Unggahan foto Tara Basro dengan pesan #bodypositivity menuai beragam reaksi. Selain tuduhan memposting konten (yang dianggap) pornografi oleh Kominfo (berdasarkan UU ITE yang penuh dengan pasal karet), banyak yang menyambut postingan tersebut dengan positif. Pesan yang ingin disampaikan oleh Tara Basro sebenarnya sederhana, yaitu agar semua perempuan berhak dan harus mencintai tubuhnya sendiri.

Etapi, ada juga yang sinis. Alasannya, meskipun berkulit sawo matang (yang dianggap tidak seideal kulit putih menurut standar patriarki), Tara Basro dianggap ‘merebut panggung’ perempuan-perempuan lain yang seharusnya lebih berhak menyuarakan #bodypositivity. Alasannya, kampanye ini berawal dari kampanye #fatacceptance, yaitu kampanye untuk lebih mencintai tubuh bagi perempuan-perempuan yang gemuk dan tidak langsing seperti aktris ini.

Semua Perempuan Tak Luput Dari Bodyshaming

Jujur, dulu saya sempat berpikir serupa. Sewaktu SMA, ada seorang teman perempuan yang menurut saya sudah cukup cantik (terutama karena langsing, tinggi, dan berambut lurus sebahu), namun masih merasa bahwa kulitnya kurang putih. Waktu itu, dia terpikir untuk mencoba krim pemutih (yang belakangan baru saya ketahui mengandung banyak merkuri).

Bagaimana reaksi saya soal keputusan teman waktu itu? Tentu saja saya menentang keinginannya.

“Ngapain sih? Lo udah cantik gitu.” Beda dengan saya yang dari dulu selalu gemuk, batin saya dalam hati.

Singkat cerita, teman tidak mendengarkan saran saya. Alih-alih mendapatkan kulit putih halus seperti impiannya, dia malah harus bolak-balik ke dokter kulit karena alergi. Saya mah, sudah nggak bisa ngomong lagi.

Dulu saya juga sering kesal dengan sesama perempuan yang selalu mengeluh bahwa tubuh mereka gemuk, gemuk, dan gemuk. (Padahal, astaga – tampilan postur mereka 11-12 dengan selebriti macam Ariana Grande atau…ya, balik lagi ke Tara Basro). Mengeluhnya depan saya lagi (yang jelas-jelas jauh lebih gemuk dari mereka), sehingga kadang saya bingung – ini mereka beneran mengeluhkan fisik sendiri atau diam-diam menyindir saya, ya?

Pernah juga seorang teman perempuan jadi down gara-gara susah dapat pasangan dansa untuk prom saat bersekolah di luar negeri. Alasannya karena dia terlalu jangkung, bahkan lebih jangkung dari semua teman-teman lelaki seangkatannya. Tidak jarang berbagai julukan tidak enak pun mampir ke telinganya.

Baca:  Arti di Balik Perempuan yang Bersuara

Sementara itu, saya yang pendek malah ingin punya tinggi badan sepertinya. Keminderan saya bertambah, sudah gemuk, pendek pula. Belum lagi rambut ikal-nyaris-kriwil saya yang pernah dianggap berantakan dan kurang cantik. Hiks…

Lalu, kenapa sekarang saya, sebagai salah satu perempuan gemuk yang masih sering menjadi korban #bodyshaming, membela Tara Basro dan semua perempuan langsing/kurus lain yang berkampanye soal #bodypositivity?

Waktu itu saya lupa, bahwa semua perempuan tak luput dari #bodyshaming – baik sebagai pelaku maupun korban. Tidak hanya merisak sesama perempuan (atau siapa pun yang mereka anggap berfisik kurang ideal), mereka juga menjelek-jelekkan diri sendiri. (Ups, termasuk saya di sini.)

Setiap perempuan punya pengalaman yang berbeda ketika tubuh mereka direndahkan di komunitas mereka lantaran tidak mengikuti standar kecantikan yang dibuat oleh budaya patriarki. Tentu kita tidak boleh dan tak bisa menghakimi, siapa yang paling berhak melakukan kampanye #bodypositivity.

Sebagai korban #bodyshaming, siapa pun bisa kena. Contohnya juga banyak. Dulu, banyak orang yang entah kenapa senang membanding-bandingkan saya dengan kakak perempuan. Bila saya dicela karena gemuk dan pendek, maka kakak dicela karena kulitnya yang gelap dan wajahnya yang dianggap ‘boros umur’ (karena selalu terlihat lebih serius).

Makanya sesama perempuan masih banyak yang merasa saling tersaingi. Kenapa bila ingin memuji satu perempuan, harus selalu ada perbandingannya berupa sesama perempuan lain untuk dijatuhkan? Misalnya: “Sebenarnya Ruby cantik, coba lebih kurus kayak kakaknya.” Pujian setengah niat itu harusnya tidak usah ada saja sekalian, karena malah membuat perempuan jadi saling membenci sesamanya.

Inti dari kampanye #bodypositivity adalah belajar mencintai tubuhmu sendiri, seperti apa pun kondisinya dan saling menerima keragaman tubuh perempuan. Mau itu gemuk, kurus, pendek, jangkung, berkulit gelap atau terang, mulus atau jerawatan, punya disabilitas tertentu–semua sama. Bahkan, perempuan yang dianggap termasuk cantik versi patriarki juga punya krisis kepercayaan diri.

Baca:  Ketika Negara Tidak Perduli Dengan Korban Anak Kekerasan Seksual

Tidak hanya soal perbandingan tampilan fisik, bahkan kualitas mereka sebagai manusia pun sering diragukan. Sering dengar komentar/tuduhan miring seperti “Cantik biasanya nggak punya otak”, seperti yang dialami karakter Elle Woods dalam film “Legally Blonde”? Perlakuan ini sama tidak adilnya dengan perempuan yang dianggap berparas ‘biasa-biasa saja’, sehingga dianggap harus berterima kasih dengan tidak menolak cinta atau lamaran dari lelaki mana pun – padahal bisa saja hatinya nggak sreg. Eh, habis itu langsung dihujat habis-habisan: “Udah bagus masih ada yang mau sama kamu!” Hhh…

Menurut saya, sah-sah saja bila artis seperti Tara Basro ingin berkampanye mengenai #bodypositivity. Saya tidak merasa dia merebut panggung saya atau siapa pun, karena semua perempuan rentan jadi sasaran #bodyshaming. Saya sendiri sudah melihat banyak buktinya. Ketimbang hanya nyinyir, kamu juga bisa kok, berkampanye mengenai #bodypositivity dengan caramu sendiri.

Saya juga bisa dan sedang melakukannya. Tulisan ini adalah salah satu buktinya.

Penulis dan penerjemah lepas, guru Bahasa Inggris paruh waktu. Hanya bisa bermain dan mengelus kucing peliharaan orang lain, karena kalau adopsi sendiri berisiko kumat alergi. Mendeklarasikan diri sebagai logophile (pecandu huruf) dan bisa ditemukan sedang duduk sendirian dengan kopi, buku, atau laptop di atas meja.

Leave a Comment

%d bloggers like this: