Dalam masyarakat yang patriarkal kita pasti sering mendengar dan melihat, bahkan mengalami langsung ketika perempuan dianggap rendah, subordinat, inferior. Perempuan juga mendapatkan perlakuan diskriminatif karena stereotipe-stereotipe yang melekat pada perempuan.

“Cewek dikit-dikit baperan, emosional banget, nggak rasional nggak kayak cowok.”
“Cewek mana bisa mimpin, peran cewek tuh cuma jadi pengikut di belakang cowok.”
“Udahlah, itu bukan pekerjaan cewek, mending cewek nyuci piring aja…”

Sebagian laki-laki (bahkan tidak hanya laki-laki) dan perempuan sendiri pun mengamini stereotipe ‘lemah’ dan inferior yang melekat pada perempuan. Laki-laki dilambangkan dengan kekuatan, ketangguhan, dan keberanianya dianggpa layak sebbagai pemimpin. Namun, apakah benar demikian?

Pada keluarga patriarkal, lelaki banyak bergantung pada kerabat perempuan (adik/kakak perempuan, ibu, nenek, atau pasangan mereka). Dari mulai mencuci pakaian mereka, memasak hingga menghidangkan makanan di atas meja untuk mereka, juga sekedar bersih-bersih kamar yang mereka tempati dilakukan oleh perempuan.

Pernah dengar cerita seorang suami marah-marah kepada istrinya karena belum ada nasi yang terhidang di piring? Padahal si suami hanya perlu mengaduk sendiri beberapa sendok nasi di atas kompor atau penanak nasi, tanpa perlu menunggu istri menyiapkan segalanya yang sudah berpeluh-peluh memasak seorang diri di dapur.

Hal yang sama juga saya alami. Namun, bukan laki-laki yang main suruh ini-itu, tetapi justru dari salah satu anggota keluarga yang seorang perempuan (nenekku). Ia berteriak memintaku menyediakan makanan ketika kakak sepupu laki-lakiku datang ke rumah.

Kakak sepupu saya ini bukan keluarga jauh yang datang ke rumah sekali-dua, melainkan ia sering berkunjung dan rumahku seperti rumah juga baginya. Jadi saya rasa, saya tak perlu memperlakukannya seperti tamu istimewa yang datang dari nun jauh. Toh dia sudah biasa di rumah dan bisa mengambil sendiri makanannya jika ia lapar.

Baca:  Berhentilah Menghamba Pada Cinta Lelaki

Tak hanya itu, bahkan ayahnya (anak dari nenekku) juga diperlakukan sama istimewanya dibanding anak perempuan nenekku yang lain. Ia pun bertindak semena-mena pada istrinya (meski sang istrilah pencari nafkah utama), khas lelaki yang dibesarkan dengan segala hak keistimewaan.

Laki-laki menjadi manja dan bergantung pada pihak perempuan berakar dari bagaimana cara mereka dibesarkan dan dididik. Sedari kecil diperlakukan istimewa, tidak dilibatkan dalam pekerjaan-pekerjaan rumah tangga, ditanamkan pemikiran bahwa merekalah pemimpin sehingga tempat mereka selayaknya adalah di luar rumah, ruang publik. Akhirnya tumbuh besar dengan ego yang tinggi yang menganggap pekerjaan-pekerjaan rumah (domestik) adalah rendahan yang harus dilakukan oleh perempuan. Dengan ego tinggi itu, mereka enggan melakukan tugas-tugas yang sebenarnya remeh-temeh dan sederhana, tetapi hanya ingin dilayani.

Ego tinggi sekaligus rapuh yang dimiliki laki-laki juga tercermin ketika banyak dari mereka justru merasa insecure dan tersaingi ketika melihat perempuan yang memiliki pekerjaan lebih mapan, gaji lebih tinggi, bahkan kecerdasan yang melampaui mereka. Bukannya berjuang mengaktualisasi diri untuk menyamai pencapaian-pencapaian pasangan, banyak laki-laki justru memaksa perempuan untuk lebih merendah sehingga ego maskulin mereka tidak tercoreng dan tersakiti.

Seperti yang ditulis oleh Chimamanda Ngozi Adichie dalam bukunya yang berjudul A Feminist Manifesto: “Semakin sulit seorang lelaki untuk menjadi yang diharuskan, semakin lemah ego mereka. Dan kemudian kita membesarkan anak perempuan supaya ia memenuhi ego laki-laki yang rapuh itu. Kita mengajari gadis-gadis kita untuk menjadi ‘kecil’. Kita berkata kepada gadis-gadis kita kau boleh mempunyai ambisi, tetapi jangan terlalu tinggi. Kau harus berusaha untuk menjadi sukses, tapi jangan terlalu sukses, jika tidak kau akan menjadi ancaman bagi para lelaki.” 

Padahal, tidak ada yang salah dengan pasangan yang mungkin melampaui kita pada segala hal, asalkan tetap saling menghormati masing-masing. Juga, memiliki pasangan yang seperti itu kurasa dapat menjadi pecut untuk kita semakin mengembangkan diri. Jadi, laki-laki, tak perlu merasa insecure dan belajarlah berbagi peran dengan perempuan.

Baca:  Meghan Berlari, Harry Mengikuti

Mencintai makanan manis dan tidak pernah lupa tidur siang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *