Maaf, kami sudah bosan.
Lelaki macam kau kian pasaran.
Bikin konten lecehkan perempuan,
lalu beralasan hanya bercanda.
Setelahnya tinggal minta maaf secara terbuka,
berharap selesai begitu saja
dan kami mudah lupa.

Maaf, kami sudah muak.
Ketulusanmu saat minta maaf diragukan.
Maumu serba mudah
bahkan sesudah merendahkan perempuan.
Kau pikir hidup kami tidak cukup susah?
Setiap hari, kami didera rasa tidak aman,
bahkan meski di dalam rumah.

Berkat konten laknatmu,
trauma kami kian parah.
Kau pikir hanya maaf-mu bisa bikin kami tenang?

Pernahkah terpikir di otakmu, meski hanya sekali,
bahwa kontenmu dapat menginspirasi
para otak mesum nan bejad lain di luar sana
untuk terus melecehkan kami?

Maaf, permintaan maafmu sungguh terasa basi.
Kau hanya takut kena marah,
bukan benar-benar berempati.

Baca:  Berdosakah Tak Peringati Hari Ayah?

Leave a Reply

Your email address will not be published.