Maaf, kami sudah bosan.
Lelaki macam kau kian pasaran.
Bikin konten lecehkan perempuan,
lalu beralasan hanya bercanda.
Setelahnya tinggal minta maaf secara terbuka,
berharap selesai begitu saja
dan kami mudah lupa.

Maaf, kami sudah muak.
Ketulusanmu saat minta maaf diragukan.
Maumu serba mudah
bahkan sesudah merendahkan perempuan.
Kau pikir hidup kami tidak cukup susah?
Setiap hari, kami didera rasa tidak aman,
bahkan meski di dalam rumah.

Berkat konten laknatmu,
trauma kami kian parah.
Kau pikir hanya maaf-mu bisa bikin kami tenang?

Pernahkah terpikir di otakmu, meski hanya sekali,
bahwa kontenmu dapat menginspirasi
para otak mesum nan bejad lain di luar sana
untuk terus melecehkan kami?

Maaf, permintaan maafmu sungguh terasa basi.
Kau hanya takut kena marah,
bukan benar-benar berempati.

Penulis dan penerjemah lepas, guru Bahasa Inggris paruh waktu. Hanya bisa bermain dan mengelus kucing peliharaan orang lain, karena kalau adopsi sendiri berisiko kumat alergi. Mendeklarasikan diri sebagai logophile (pecandu huruf) dan bisa ditemukan sedang duduk sendirian dengan kopi, buku, atau laptop di atas meja.

Baca:  Puan, Mari Runtuhkan Ekonomi!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *