Meghan Berlari, Harry Mengikuti

Kemarin berhari-hari kata Megan jadi trending topic di akun twitter saya. Ternyata penyebanya gara-gara duke and dutchess Sussex berencana resign dari istana. Sebuah cita-cita jutaan anak yang punya masalah keluarga.

Meghan adalah gambaran perempuan yang dihantam patriarki berkali-kali, namun tetap tegak berdiri. Bertahun-tahun bertahan dalam jagat hiburan Amerika yang eksploitatif, melewati pernikahan yang suram dan gagal. Hingga akhirnya bertemu kekasih yang tidak dia sangka adalah pangeran kerajaan dengan kekuasaan terluas di bumi.

Namun bukannya naik kasta dan jadi bahagia, Meghan Markle berubah jadi musuh paparazi dan publik Inggris. Dicaci maki cara berpakaiannya, dirundung setiap keputusannya, hingga dibanding bandingin sama iparnya. Kita dibanding-bandingin sama satu orang saja kesel, bagaimana perasaan mbak meghan dibanding-bandingin oleh satu negara bahkan satu dunia?

Lagi pula ngikutin logika netijen ini memang kadang bikin kepala pening. Katanya keputusan rumah tangga itu harus dipegang suami jen… tapi begitu Harry memutuskan keluar istana kok si mbak meghan yang jadi bulan-bulanan dan dituduh menghasut suaminya untuk meninggalkan keluarga?

Apasih salahnya keluar dari rumah dan ingin mandiri secara finansial? Bukankah itu hak semua orang? Apakah terlahir sebagai bangsawan menjadikan Meghan dan Harry tidak memiliki hak untuk mandiri secara Finansial?

Bukankah pasangan yang sehat adalah mereka yang lepas dari intervensi orang tua dan mertua. Serta dapat mengakomodir segarala keputusan keluarga kecilnya sendiri.

Belum lagi bagaimana publik mulai menghujat Meghan Markle. Yang dibilang jandalah, orang kulit hitamlah, risiko punya istri lebih tualah sampai ngatain harry kualat nikah dengan istri yang bukan turunan ningrat. Memang otak netijen itu perpaduan antara misoginis, rasis, klasis dan ageist. Kurang lengkap gimana penindasan berlapis hadir di pengalaman ketubuhan meghan markle.

Bahkan sampe trending di twitter narasi gossipin mbak Meghan ala-ala ibu kompleks ngumpul di Tukang sayur. “gila-gila.. si janda selebritis gak seberapa terkenal itu bisa bikin pangeran keluar dari istana ya..” kata sebuah kelakar yang saya retweet kemarin siang di twitter. Sebagai Fangirling Meghan Markle saya agak senyum senyum kecut bacanya. Satu karena kalimat itu bisa dianggap satir dark jokes untuk mengisi penghiburan warga twitter semata, dua karena menjadikan problem orang lain sebagai jokes adalah sebuah perundungan.

Baca:  Perkosaan tak Seharusnya Menjadi Budaya

Bayangkan, perundungan ini gak cuma datang dari Netijen Indonesia, tapi juga dari netijen UK, netijen Malaysia, India, sampai Zimbabwe. Bagaimana enggak, stres mbak Meghan dibully dan jadi bahan gossip internasional?

Wajar saja pangeran Harry berucap pada The Guardian, bahwa upayanya keluar dari istana adalah upaya menyelamatkan isterinya dari beban dan perundungan. Beban sebagai istri pangeran yang menjadikan Meghan mengalami depresi, juga perundungan dari masyarakat yang terdoktrin kisah ideal dan naif ala pangeran dan puteri di negeri dongeng.

Pangeran Harry telah mengalami pengalaman yang pelik, kehilangan ibunya yang wafat dalam kejar-kejaran dengan paparazzi. Tentu ia tak mau kedua kalinya kehilangan perempuan yang di cintai bukan? Harry tentu tak mau Meghan mengalami hal yang sama seperti ibunya; mengalami depresi yang mengantarkannya meninggal dalam pelarian. Jadi sebelum mbak Meghan lari, lebih baik Harry ikut Meghan pergi.

Apakah kematian Lady Diana tak juga membuat kita belajar?

Kurang-kurangin lah berharap keluarga besar Kengsinton seharmonis keluarga di NKCHTI. Jangan naif lah jen, jika memang tinggal di istana memastikan keluarga harmonis, malam itu Lady Diana tak akan meninggal karena dikejar paparazzi.

Kita harus berhenti merundunganya dan mencoba menjadikan Meghan Markle sebagai Lady Diana kedua. Amit amit jen…

Ingat ini era digital semua perundungan yang kalian tulis bisa saja diakses langsung oleh mereka. Jangan mentang mentang kita rakyat jelata, dan mbak Meghan tinggal di istana maka ia tak akan terluka perundungan yang kita buat.

Meghan adalah gambaran sempurna penindasan berlapis yang diterima perempuan. Dan berbagai privilese dan kenyamanan yang ia dapat sebagai puteri, ternyata tidak membuatnya bebas dari beban atas identitas yang melekat di dirinaya.

Baca:  Standar Kecantikan

Bagaimana enggak? Meghan juga gambaran kaum rentan dengan penindasan berlapis. Bagaimana engga, mbak meghan ini janda yang jelas punya konotasi negatif dimata masyarakat, women of color di negara yang sentimen banget dengan isu imigran.

Ditakdirkan mempersunting salah satu lelaki dari keluarga paling ningrat di dunia, ternyata tidak menyelamatkannya dari apapun. Menjadi terkenal malah membuatnya menerima perundungan berkali-kali lipat. Dan tetap harus berhadapan dengan depresi. Bedanya, kita-kita ini depresi karena miskin, mbak Meghan depresi karena dia kaya, tapi dia tetap perempuan, kulit hitam, dan janda yang selalu dipersalahkan. Lebih parah lagi kekeyaannyanya tak menyelamatkannya dari apapun.

Meghan Markle mengingatkan semua orang, bahwa perempuan masih selalu dipersalahkan dan menjadi korban. Saya jadi teringat sebuah artikel karya Ariel Heryanto berjudul “cantik”. Beliau menulis mengapa semua orang begitu terfokus dan mempersalahkan Lady diana? Tak lain dan tak bukan adalah karena identitas ketubuhannya sebagai perempuan.

Kita baru saja berduka karena kehilangan Sulli dan Go Hara. Mestinya kita semua berhenti merundung perempuan atas hal-hal yang tak mampu mereka kendalikan.

Karena sekali lagi, persoalan Meghan Markle bukan sebatas persoalan keluarga Kengsington semata. Persoalan Meghan Markle adalah masalah misoginisme, klasisme, rasisme, serta ageisme akut dalam masyarakat.

Megan Markle adalah simbol penindasan berlapis pada perempuan.

Peneliti ekologi, politik, dan gender di Resister Indonesia. (IG/Twitter: @mrymjameela. FB: Maryam Jameelah Al-Yasmin)

Leave a Comment

%d bloggers like this: