Melajang adalah Perlawanan

Suatu ketika saya sedang membuka Facebook sambil bertukar pesan dengan teman saya, sebut saja Neny. Kami sedang membahas mengenai film “Little Women”. Film ini menurut kami sangat menarik, ada salah satu karakter perempuan bernama Jo March yang akan dipinang oleh seorang laki – laki namun ia menolak sambil berkata “I’m happy as I’m and I love my liberty too well to be in a hurry to give it up for any mortal man”.

Kalimat tersebut jika diartikan “Aku bahagia apa adanya dan aku terlalu suka kebebasanku untuk diserahkan begitu saja kepada laki – laki.” Saya dan teman saya sangat suka dengan karakter Jo sebagai perempuan yang kuat, ia masih muda, masih banyak potensi yang bisa di raih terlebih Jo yang hobi menulis punya cita – cita untuk menjadi penulis. Apa yang dilakukan Jo berbanding terbalik dengan yang kebanyakan muda mudi di sini dengan memilih untuk menikah mudah.

Tidak ada yang salah dengan menikah muda di usia 20an awal, namun jangan sampai alasan menikah muda adalah untuk perkara seks halal dan menghindari zina, seperti yang sudah dibahas di buku kak Dea Safira, Membunuh Hantu-Hantu Patriarki. Atau bahkan menganggap bahwa tak ada kegiatan positif lainnya yang bisa dilakukan selain menikah.

Masa muda tentunya bisa diisi dengan hal yang bisa mengasah potensi dengan belajar, bekerja dan menjadikan diri bermanfaat untuk sesama. Kita bisa memfokuskan diri kita hingga matang sampai akhirnya memutuskan untuk menikah.

Namun sayangnya, masyarakat masih mengaminkan pola hidup perempuan, seolah-olah perempuan hidup hanya untuk menikah. Bahkan sesama perempuan tak jarang memojokkan dan mempertanyakan perempuan lain karena memilih untuk tak menikah. Hal ini saya dapati dari teman perempuan saya yang baru menikah “mbak kapan disunting? Inget umur”.

Lalu saya jawab “aku belum kepikiran buat nikah, masih banyak yang ingin aku lakuin dan mungkin nikah bukan tujuan hidup”.

Sontak dia terkedjoet sambil bilang “Astagfirullah nyebut mbak, perempuan itu kodratnya nikah”.

Saya hanya terperangah tak bisa menjawab, segitu jahanamkah saya saat bilang menikah bukan tujuan hidup saya. Padahal menikah itu tidak wajib melainkan sunnah dan hanya dianjurkan.

Baca:  Pernikahan dan Krisis Eksistensi

Bagaimana anak muda di Indonesia bisa maju kalau di awal umur 20an sudah diteror kapan nikah, padahal masih banyak yang bisa dilakukan. Lagian menikah juga bukan hal yang remeh, harus disiapin dengan matang. Memang goal setiap orang berbeda ada yang ingin segera nikah, ada yang ingin melakukan banyak hal sebelum menikah dan ada yang memang tidak ingin menikah.

Bukankah lebih baik jika kita menghormari pilihan setiap orang.

Kembali ke film “Little Women”, Jo mempertanyakan kebebasan perempuan yang diserahkan begitu saja saat menikah. Apa maksudnya? Jika perempuan menikah semua harta perempuan akan jatuh ke tangan laki-laki  atau membagi hartanya dengan laki-laki (suaminya tersebut) namun jika laki-laki yang punya harta itu adalah harta nya sendiri. Apakah itu bukan patriarki yang menempatkan perempuan pada kepemilikkan lelaki?

Berbicara tentang patriarki banyak sekali fenomena yang ditemukan di masyarakat sekitar kita yang mungkin tidak kita sadari. Ada cerita tentang pasangan yang sudah menikah berantem hanya karena uang 50rb habis dibelikan buah oleh istrinya.

Masih bertukar pesan dengan Neny, ia bercerita tentang sepupunya, “Masa sepupu ku males nyuci kalau cucian numpuk dia telpon pacarnya buat nyucuin baju nya”. Hah bagaimana? Belum jadi suami sudah nyuruh anak orang buat nyuci.

Sayangnya, alasan pacarnya melakukan itu hanya karena takut enggak dinikahin. Sungguh hina sekali lelaki yang memanipulasi perempuan dengan janji-janji menikah hanya agar cuciannya dikerjakan.

Miris ya, menghamba pada cinta. Belum menikah saja sudah diperlakuin seperti itu gimana kalau sudah nikah? Ini adalah bentuk domestikasi perempuan.

Bentuk-betuk domestikasi perempuan yang tercermin pada masyarakat, pernah saya temui saat di sekolah, ketika itu teman saya nyeletuk “Siapa yang mau jadiin kamu mantu kalau kamu gak rajin nyapu, nyuci, ngepel?” Maaf mertua ini cari menantu apa pembatu ya?

Tak jarang pula kita menemukan meme yang makin membenarkan konstruksi peran gender perempuan yang berbunyi, “tugas istri itu gampang, cuma masak, nyunci, nyapu, gossip, selfi main sosmed gitu kok ngeluh capek”. Jika pekerjaan domestik dianggap mudah, kenapa tidak lelaki ikut mengerjakannya?

Baca:  Yakin Ikut Kelas Poligami?

Tentunya pekerjaan domestik harus di bagi rata antara perempuan dan lelaki atau bahkan di antara pasangan non-heteronormatif. Tanpa adanya pekerjaan perawatan yang mengasuh dan mengurus manusia lainnya dalam ranah domestik, maka manusia tak akan bisa produktif dan keluar rumah mencari uang.

Jika kita bisa membayar pekerja rumah tangga untuk melakukan pekerjaan domestik, kenapa kita tidak membayar perempuan yang mengurus suaminya, orang tuanya dan saudaranya? Bukan malah disia-siakan dan diiming-iming janji nikah atau surga.

Banyak perempuan yang terjebak dalam relasi yang mendomestikasikan dirinya. Seharusnya ketika sedang dalam masa pendekatan, kita bisa mendeteksi ciri-ciri lelaki yang patriarki. Salah satu contohnya, jika si dia sudah ngedumel, “Susah banget sih diajak ketemuan, sibuk kuliah kerja, buat apa? Tugas perempuan nantinya juga ngurus anak”. Lelaki seperti inilah yang sepatutnya dihindari.

Mengutip teman saya Neni “Perempuan kerja itu bentuk aktualisasi diri untuk berkembang mengikuti jaman, cowok yang kayak gitu dia gak siap tersaingi takut kalah pinter sama perempuan, kalaupun cewek pilih jadi ibu rumah tangga itu harus murni pilihannya sendiri bukan intervensi atau paksaan orang lain”.

Pada akhirnya institusi pernikahan hanya sebatas melanggengkan perbudakan dan prostitusi perempuan semata. Jika demikian, kita harus bisa menggunakan kuasa kita untuk menegosiasikan dan menuntut pekerjaan domestik kepada orang-orang yang mengambil untung dari pelestarian budaya patriarki.

Maka dari itu, sebagai perempuan kita harus bisa melawan. Jika tidak menikah menjadi bentuk perlawanan kita terhadap domestikasi perempuan, maka melajanglah. Karena setiap perempuan adalah seorang manusia yang terlahir dengan jalan hidup dan hasrat yang berbeda-beda. Umur panjang perempuan yang melawan.

Intan menciptakan & menulis dunia nya sendiri. Membaca, menonton, mendengar dengan sedikit berbicara.

1 thought on “Melajang adalah Perlawanan”

  1. He, menikah atau tidak itu pilihan. Saya bilang sih tepatnya soal jodoh juga. Ada yang mati-matian menolak menikah tau2 menikah juga pada saatnya. Ada yang ngebet pengen menikah sejak usia muda eh sampai menutup mata tidak menikah.
    Tapi, semua berpulang pada pendapat masing-masing. Tidak menikah dianggap sebagai bentuk perlawanan, melawan stigma masyarakat dsb, ya sah2 saja. Salam mba.

    Reply

Leave a Comment

%d bloggers like this: