“Kenapa kita harus mati untuk bisa bebas? Kenapa kita tidak bisa hidup dan menjadi bahagia?” kalimat yang diucapkan salah satu tokoh dalam komik Suicide Prevention Committee karya S.P. Potato ini benar-benar menohok saya. Saya pikir, saya tidak salah pilih ketika memutuskan untuk membaca komik ini sambil rebahan sementara hujan deras mengguyur kota Banjarmasin diluar.

Menceritakan mengenai 4 orang berbeda yang ingin mati sehingga mereka menghubungi Suicide Prevention Committee. Namun, komite ini bukannya membantu mereka untuk tetap hidup justru menawarkan “ultimate death” bagi satu orang yang pemenang yang masih bertahan hingga akhir. Kompetisi dengan hadiah utama “ultimate death” pun dimulai. Keempat peserta harus tinggal bersama dalam satu rumah, melakukan kegiatan bersama, jalan-jalan dan mereka dilarang untuk mengusir peserta lain atau pun bunuh diri. Tidak ada batas waktu, peserta yang masih bisa bertahan sampai akhir akan menang, sementara peserta yang memilih dengan sukarela meninggalkan rumah akan tereliminasi.

Pelan-pelan, alasan para tokoh ini menginginkan kematian mulai terungkap, salah satunya adalah karena menjadi korban kekerasan seksual. Tokoh ini digambarkan sebagai seorang anak kecil berjenis kelamin perempuan. Awalnya, dia sangat pemalu. Tidak berbicara sama sekali, namun karena peserta diharuskan untuk melakukan kegiatan outing bersama, mereka mencoba berdiskusi untuk menentukan tujuan. Ada satu kejadian ketika si anak perempuan ingin segera kembali ke kamarnya namun dicegah oleh peserta lain dengan cara memegang pinggangnya karena mereka harus berdiskusi.

Anak tadi menjadi panic dan mencakar peserta lain agar dia bisa bebas dan langsung mengunci diri di kamar. Darisitu, peserta lain mulai bertanya-tanya apa yang terjadi pada si anak. Sampai kemudian orang tua si anak datang mencari ke rumah tempat mereka tinggal dan terbongkar lah bahwa si anak ini merupakan korban dari kasus kekerasan seksual. Anak tadi dibawa kembali ke rumah oleh orang tuanya.

Beberapa peserta lain kaget ketika mengetahui apa yang menimpa anak ini. Beberapa waktu berselang, mereka pun memutuskan untuk mengunjungi kediaman si anak. Mereka bertemu dengan orang tua si anak ketika si anak telah tidur. Disitu, orang tuanya mulai berkelahi lagi. Kata-kata yang dilemparkan pun sangat tidak asing. Si Ayah menyalahkan kejadian yang menimpa anaknya kepada ibunya karena ibunya tidak pernah dirumah, melainkan bekerja. Si Ibu tidak terima disalahkan oleh suaminya sendiri. Mereka berdua tertekan karena omongan tetangga yang menganggap mereka tidak becus dalam merawat anak mereka.

Baca:  Meghan Berlari, Harry Mengikuti

Saya pikir ini slenario yang sama sekali tidak asing di Indonesia. Akrab sekali malah, karena ketika ada seorang anak yang menjadi korban kasus kekerasan seksual, orang tua mereka masih sering menganggap bahwa hal ini adalah aib. Tetangga dan masyarakat masih sering melakukan victim blaming dengan mengatakan “ibunya nggak ada dirumah makanya bisa kejadian begitu” atau “anak itu paling yang duluan mulai karena nggak ada api kalo nggak ada yang mantik” dan lain sebagainya.

Urusan pengasuhan anak pun masih kerap dibebankan pada pihak perempuan. Sehingga jika anaknya dianggap nakal itu pasti yang dicari ibunya. “Itu anak nakal banget nggak diajarin mamanya sopan santun apa ya?” cemohannya kurang lebih akan seperti itu. Pun ketika perempuan yang sudah menikah dan punya anak memilih bekerja, orang akan selalu mengatakan kerjanya jangan full time nanti anaknya nggak ada yang ngurus. Posisi ayahnya jarang sekali ditanyakan. Ayah seakan-akan hilang dalam proses pengasuhan anak ini.

Sementara anaknya yang menjadi korban kekerasan seksual tadi, memang sangat rentan untuk mempertimbangkan bunuh diri bahkan melakukannya. ICJR mencatat beberapa kasus dimana anak korban kekerasan seksual memilih untuk bunuh diri. Maret 2017 anak korban perkosaan di Bandung bunuh diri akibat depresi. Juli 2017 anak korban perkosaan di Lampung Tengah juga mencoba bunuh diri. Mei 2016 anak korban perkosaan di Medan bunuh diri karena polisi memintanya berdamai ketika ia melaporkan kasusnya. Hal yang sama terulang lagi pada Januari 2018 di Tambun Selatan. Daftar ini masih akan terus bertambah panjang ketika hak-hak korban kasus kekerasan seksual tidak diberikan.

Padahal, dalam RUU Penghapusan Kekerasan Seksual, penyintas setidaknya memiliki 3 hak, yaitu hak atas penanganan, hak atas perlindungan dan hak atas pemulihan. Ketiga hak ini sampai sekarang belum dijamin oleh negara, yaiyalah, RUU PKS-nya nggak selesai-selesai dibahas kok apalagi disahkan. Jadi, gimana mau menjamin hak-hak korban coba? Jika melihat kembali pada kasus bunuh dirinya, ini juga mengkhawatirkan. WHO Global Health Estimates mengatakan bahwa angka kematian akibat bunuh diri di Indonesia pada 2016 sebesar 3,4, per 100.000 penduduk.

Baca:  Upaya Perlawanan Sastra dan Perempuan

Padahal, menurut intothelightid.org Indonesia tidak memiliki hotline bunuh diri yang mampu memberikan pertolongan pertama bunuh diri (suicide first aid). Dulu memang ada hotline-nya namun ditutup sejak tahun 2014. Sehingga, jika kamu ternyata memiliki pikiran untuk bunuh diri sebaiknya segera mencari bantuan dengan bercerita kepada orang terdekat atau mengunjungi professional kesehatan jiwa terdekat.  Ingat, kamu berharga, hidupmu berharga. Siapa pun kamu.

Jika kamu atau seseorang yang kamu ketahui memikirkan atau mencoba bunuh diri, silahkan kunjungi website berikut terlebih dulu:

Jika kamu atau seseorang yang kamu kenal mengalami kekerasan seksual, kamu bisa menghubungi:

Mahasiswa yang memiliki banyak ketertarikan mulai dari isu gender, feminisme, komunikasi, human rights, dan lain sebagainya. Dulunya aktif siaran di stasiun radio lokal dan sekarang masih berjibaku dengan tugas akhir. Doakan saja lulus dengan baik dan ilmunya berguna bagi banyak orang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *